
Suci mengerutkan kening di saat pria itu masih menatapnya seperti sudah lama saling kenal, dia segera menghampiri pria itu dan mengulas senyum. "Siapa dia? Aku rasa tidak mengenalnya sama sekali," batinnya tampak berpikir.
Dia melihat seorang pria tampan dengan mata biru, wajah yang dipenuhi oleh bulu halus semakin menambah pesona. Seorang pria yang mengenakan jas hitam, sorotan mata yang pernah dilihat sebelumnya. Suci segera menghempaskan pikirannya mengenai siapa pria itu, hanya menganggap sebuah khayalan semata. Dia segera menghampiri sang penyelamat, dan tersenyum ramah. "Terima kasih, sudah menolong kami."
Suci sedikit bingung karena tidak ada respon dari pria itu. "Mungkin dia tidak bisa bahasa Indonesia," pikirnya di dalam hati. Kembali mengucapkan hal yang sama dan menggunakan bahasa internasional, bahasa Inggris.
Pria itu tersenyum dan menganggukkan kepala, tidak mengeluarkan sepatah katapun yang terucap di bibirnya. Sementara Suci menatap dengan keheranan, berpikir siapa sebenarnya sang penyelamat. "Sorot matanya seperti aku kenal, mungkin hanya perasaanku saja." Dia segera berlari membantu pak supir, mengambil alih kemudi menuju rumah sakit.
Suci menolong pria paruh baya itu, mengurus seluruh biaya rumah sakit sebagai tanda terima kasih karena sudah melindunginya, bahkan memberi uang lebih di saat pak supir merasa baikan. Setelah urusannya selesai, dia melangkahkan kaki untuk keluar dari tempat itu. "Alhamdulillah, tidak ada masalah yang serius." Melirik jam di ponselnya, ingin pergi mencari bahan-bahan yang akan dibeli.
"Masih banyak yang harus aku lakukan, semoga saja seminggu lagi dekorasinya selesai." Monolog Suci yang terus berjalan dengan tergesa-gesa, mengejar waktu yang hampir terkuras saat kejadian tadi. "Sebentar lagi mas Zufar pulang, aku harus cepat!"
Karena tergesa-gesa, Suci tak sengaja menabrak orang hingga ponsel dari korbannya terbanting di atas lantai. "Maaf, aku tidak sengaja." Ucapnya yang merasa bersalah, segera mengambil ponsel yang tergeletak dan menyerahkan kepada sang empunya setelah dibersihkan dari debu yang menempel. "Maaf, aku tidak sengaja. Berapa yang harus saya ganti?" dia mendongakkan kepala, kedua matanya melebar saat melihat siapa yang baru saja ditabrak.
__ADS_1
"Tidak masalah, aku masih mampu untuk membelinya lagi." Seakan pria itu mengerti apa yang dipikirkan oleh Suci, tersenyum manis membuat siapa saja terpesona, tapi tidak bagi wanita berhijab yang menyandang status istri Zufar.
"Kamu bisa berbahasa Indonesia?" tanya Suci yang merasa tidak enak sudah bersikap ceroboh. Pria itu menganggukkan kepala, karena dia menguasai beberapa bahasa. Tidak menghiraukan ponsel itu, karena apa yang dia hadapi jauh lebih berharga. "Namaku Za__Simon, panggil aku Simon!" ucapnya yang mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalan.
Suci segera menyatukan kedua tangan, meletakkannya di depan dada. "Suci."
"Di-dia ada di kota ini? Apa yang harus aku lakukan?" batin Zaid alias komandan Simon. Dia sangat gugup saat bertemu dengan cinta pertamanya, pertemuan saat dia masih menjadi komandan militer di Israel. Kedua matanya tak berkedip, sangat merindukan wanita berhijab di depannya yang masih berstatus istri dari pria lain.
"Katakan saja harganya, aku akan mengganti ponselmu." Celetuk Suci yang merasa bersalah, apalagi melihat pria itu yang berekspresi aneh.
"Aku harus mengejar waktu, ingin membeli bahan-bahan untuk membuat kue dan juga roti."
"Ada swalayan di sekitar sini."
__ADS_1
"Hem, tidak. Aku ingin langsung ke grosirnya, ingin membeli dalam jumlah besar."
Simon menautkan kedua alisnya, penasaran apa yang akan dilakukan oleh Suci. "Dalam jumlah besar?"
"Seminggu lagi aku buka toko kue dan roti," ucap Suci yang sangat antusias dan bersemangat.
"Apa aku boleh tahu?"
Suci menganggukan kepala, mengeluarkan selembar brosur dan membagikannya kepada pria berjas itu. "Di situ ada alamatnya, kamu bisa datang sebagai pelangganku yang pertama. Aku pergi dulu!" dia berlalu pergi meninggalkan Simon yang tengah melihat lokasinya. Melihat wanita yang berhijab yang sudah menjauh darinya, perasaan bahagia terlukis lewat senyum di bibirnya.
"Aku menemukanmu, Suci." Batinnya tersenyum bahagia, segera masuk ke dalam rumah sakit menuju bangsal tempat putri diperiksa. Tapi, sebelum itu dia mengganti pakaiannya di toilet. Kembali menutupi wajahnya agar Rasidha tidak terkejut, masih menyembunyikan identitasnya pada gadis kecil itu.
Simon sudah berada di depan pintu, tapi masih ragu untuk menemui putrinya yang berusia lima tahun. "Bagaimana aku menjelaskan kabar bahagia ini?" gumamnya di dalam hati, segera masuk ke dalam dan melemparkan senyum indah di wajahnya.
__ADS_1
"Ayah?" gadis kecil itu berlari, saat melihat pria memakai sorban dan memeluknya erat.
Simon tersenyum di balik sorbannya, menerima pelukan hangat dari gadis kecil yang sudah menerimanya sebagai pengganti ayahnya yang tiada.