Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 55 - Perjuangan


__ADS_3

Suci menarik nafas dalam, dan mengeluarkannya secara perlahan. Berusaha bangkit karena niat dan tekadnya yang sudah bulat, ingin menemui sang suami di bangsal lain. Perjuangan yang cukup sulit, tetapi berusaha tak pernah mengkhianati hasil. Akhirnya dia berlalu pergi meninggalkan Mirza seorang diri, walau langkah yang tergopoh-gopoh dengan perut yang masih terasa ngilu tak memudarkan semangatnya. 


Mirza hanya mengikuti wanita itu dari belakang, dia takut jika sampai terjadi apa-apa dengan kondisi Suci yang belum pulih sepenuhnya. Merutuki nasib sang kakak yang begitu beruntung, mempunyai istri yang sangat setia. Dia begitu menyesal meninggalkan wanita di depannya, lepaskan mutiara indah demi mendapatkan batu kerikil yang berlumpur. Nasi sudah menjadi bubur, begitupun nasibnya yang tidak tahu bagaimana kedepannya nanti. Tapi satu hal yang diharapkan adalah, kepergian sang kakak yang tidak akan bertahan selama lebih dari enam bulan.


Sesampainya di depan pintu tempat suaminya dirawat, Suci terlebih dahulu mempersiapkan dirinya, agar tidak memperlihatkan kesedihan. Memutuskan untuk masuk ke dalam, dan melangkah dengan perlahan. Air mata yang masih saja menetes, menatap tubuh yang terbaring lemah di atas brankar. 


"Ma-mas Zufar," lirihnya sembari menarik kursi, menyentuh tangan sang suami dan mengecupnya. "Mengapa kamu menyembunyikan ini dariku, mas?" Air mata terjatuh mengenai tangan pria itu, hingga membuatnya tersadar.


"Suci," lirih Zufar yang meneteskan air mata, tak sanggup melihat sang istri menangis. Menyeka air mata Suci dan melemparkan senyum khas miliknya. "Jangan menangis!"


Suci menatap dalam netra mata Zufar, begitu banyak pertanyaan di benaknya. "Mengapa Mas menyembunyikan hal ini? Apa Mas tidak mempercayaiku dan menganggapku ada?"


Zufar tersenyum untuk menutupi rasa sakit yang diderita selama bertahun-tahun lamanya, mengembalikan rasa keyakinan sang istri yang selalu dia sakiti. "Aku tidak ingin kamu bersedih, berhentilah menangis! Aku tidak apa-apa."


"Dengan menutupi semua ini, Mas telah membuatku sedih."


"Ini hanya ujian, terima kasih kamu masih setia bersamaku. Walau aku selalu saja menorehkan luka di hatimu," ujar Zufar.

__ADS_1


"Aku sudah memaafkanmu, Mas. Yang lalu biarlah berlalu, kita lewati ini bersama!" 


"Entahlah, aku tidak yakin." Zufar mengalihkan perhatian ke sembarang arah, dia tahu jika umurnya tidak akan lama lagi. Sudah banyak pengobatan yang dia lakukan, sampai kemoterapi juga tidak membuahkan hasil, hanya bisa berserah diri dan bertawakal kepada Allah SWT. 


"Jangan katakan itu, kita lewati ini bersama-sama."


"Semoga saja aku bisa melewatinya, walau hidupku tak lebih dari enam bulan." Zufar sudah tidak memiliki harapan untuk hidup. Namun, dia melihat aura terpancar semangat dari dua bola mata sang istri, membuatnya tak tega. 


"Mas," rengek Suci.


"Tidak, aku tidak ingin pulang. Jangan mengusirku Mas."


"Apa yang dikatakan Zufar benar, sebaiknya kamu pulang saja." Celetuk Mirza yang menghampiri sepasang suami istri, mendengar sedikit obrolan yang membuatnya antara senang dan juga sedih. 


"Aku tidak menduga jika kamu berada disini, apa itu murni mengkhawatirkan aku atau istriku?" cibir Zufar.


"Heh, kamu pasti mengetahui jawabannya, untuk apa bertanya lagi." Balas Mirza. 

__ADS_1


"Sudahlah, jangan hiraukan dia. Sebaiknya pikirkan kondisimu, Mas. Itu jauh lebih baik." Suci menengahi pertengkaran saudara kandung. "Dan kamu, sebaiknya pergi dari sini!" usirnya menatap Mirza dengan sekilas, membuat pria yang di tatap mengangguk dan berlalu pergi. 


"Aku ingin Mas sembuh, melakukan beberapa saran dari dokter." Semangat Suci yang menginginkan kesembuhan suaminya.


"Aku sudah mencoba berbagai macam pengobatan, tidak ada yang berhasil. Aku juga tak menyukai kemoterapi, itu sangat menyakitkan." Tolak Zufar tak menginginkan pengobatan apapun. Dia hanya ingin menghabiskan waktu bersama, di saat terakhirnya menjadi hari yang paling membahagiakan, yaitu adanya seseorang yang menemaninya. 


"Kita tidak tahu kedepannya bagaimana, aku mohon agar Mas tidak berputus asa." 


Zufar tersenyum, menganggukkan kepala. "Baiklah, tapi selama kemo atau pengobatan, aku hanya ingin kamu menemaniku. Menghabiskan sisa hidup bersama dengan wanita yang aku cintai," ungkapnya tulus. 


Tiba-tiba Zufar merasa mual, mengeluarkan sisa makanan di perutnya. Suci dengan sigap dan sabar membantu sang suami, membantunya dengan ikhlas. 


"Aargh," Zufar berteriak merintih kesakitan, memegang kepala yang terasa sangat pusing seakan dihantam batu besar.


Suci kembali panik dan segera menekan tombol darurat, tak lama dokter datang dan menenangkan pasien.


Suci kembali menangis, tak sanggup melihat suaminya yang berjuang melawan kanker otak. Apalagi hanya punya peluang beberapa persen saja, sangat mempengaruhi dirinya. "Ma-mas Zufar," lirihnya yang menatap mata sang suami yang juga menatap ke arahnya. Pria itu tersenyum, memberikan isyarat agar istrinya tidak bersedih dan menghapus air mata.

__ADS_1


__ADS_2