Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 65 - Bianglala


__ADS_3

Zufar mencoba semua wahana di masa kecilnya, tidak peduli apa pandangan orang lain terhadapnya dan juga sang istri. Menghabiskan waktu bersama melupakan jika terang berganti gelap, tapi dia tak ingin pulang, padahal Suci sudah membujuk.


"Ayo kita pulang, ini sudah malam. Sudah cukup untuk bermainnya!"


"Iya…iya, kita akan pulang. Tapi, setelah kita menaiki bianglala dulu." Ucap Zufar yang merengek seperti seorang anak kecil.


"Hari ini Mas belum minum obat dan juga masih memaksa memakan junk food, itu juga tidak baik untuk kesehatan." Suci tak ingin jika suaminya kelelahan, apalagi mereka bermain seharian dan hampir mencoba permainan.


"Hanya bianglala, pemandangan kota akan terlihat indah jika di malam hari. Ini tidak akan lama," bujuk Zufar dengan wajah yang memelas, membuat Suci tak tega dan menganggukkan kepala. 


"Baiklah, hanya ini saja dan selesai menaiki bianglala kita akan pulang!" tegas Suci yang pasrah.


"Hem, ayo." Zufar menarik tangan sang istri menuju wahana yang sangat ingin dia naiki, sengaja memborong semua tiket hanya untuk mereka berdua. Dia telah meminta para pekerja bianglala untuk menghentikan mereka di saat berada di puncak, tak lupa menyewa orang lain agar menghidupkan kembang api. 


"Kenapa lama sekali?" 


"Sebuah kejutan sederhana, dengan cara ini kamu bisa mengingatku dan mempunyai tempat sendiri di hati." Zufar membantu istrinya untuk masuk ke dalam, dan tersenyum menikmati malam yang indah.


Keduanya mulai menikmati bianglala sembari melihat beberapa bintang di atas langit, suasana yang sangat pas untuk membuat kenangan. Zufar segera mengeluarkan ponsel dan membuka kamera untuk memotret kebersamaan mereka, sedangkan Suci hanya mengikuti alur saja. 

__ADS_1


"Tersenyumlah," tutur Zufar yang menarik dua sudut bibir Suci ke atas menggunakan jarinya. "Nah, begini baru pas." 


Ada banyak pose yang mereka ambil, dari yang kalem dan cool, sampai ke gaya konyol dan juga kekanak-kanakan. Suci tidak tahu, entah darimana suaminya belajar semua itu. "Mas Zufar terlihat manis," batinnya tersenyum dan ikut menikmati momen yang tak akan terlupakan.


Disaat sampai ke puncak, bianglala berhenti membuat Suci panik tak terkira. "Mas, bianglalanya berhenti di atas, bagaimana ini? Kita tak bisa turun? Aku sangat takut." Suci mengeratkan pegangannya di tangan sang suami, menempel bagai cicak. Dia menutup mata karena rasa takut menghampirinya. 


Zufar tersenyum seraya mengelus tangan istrinya, memberikan rasa ketenangan agar tidak takut. "Aku ada bersamamu, jangan takut!" 


"Tapi Mas__."


"Coba kamu perhatikan di sana!" tunjuk Zufar membuat Suci penasaran.


"Tidak akan terjadi apa-apa, bukalah matamu. Ada kejutan sederhana!" 


"Benarkah?"


"Hem benar, buka saja matamu!" 


Perlahan Suci membuka kedua matanya, memberanikan diri. Tak berapa lama, terdengar suara dentuman dari atas, membuat semua orang mengalihkan pandangan. Suci sangat takjub dengan kembang api di atas, menyukai suasana yang terlihat romantis. Rasa takut perlahan menghilang, berubah menjadi rasa kekaguman akan warna kembang api. 

__ADS_1


"Aku mencintaimu, istriku." Zufar mengecup tangan sang istri dengan lembut, tak lupa juga kecupan di dahi. 


"Ja-jadi ini kejutannya, Mas?" Suci menoleh dan bertanya dengan sangat antusias, kejutan sederhana membuatnya bahagia dan terkesan.


"I love you." Ucap Zufar yang mencurahkan rasa dengan pernyataan cintanya, hal itu membuat Suci sangat senang dan tersipu malu. 


"I love you too." Balas Suci dengan malu-malu.


Zufar tersenyum dan memeluk istrinya dengan sangat erat, menikmati kenangan bersama. Tiba-tiba, kepalanya terasa sangat pusing. Namun, menahan semua itu dan tak ingin memperlihatkan kepada orang lain. "Ya Tuhan…apa umurku tidak lama lagi? Berikan aku waktu sebentar saja untuk menikmati kebersamaan dengan istriku." Batinnya yang berdoa di dalam hati, kepala yang terasa sangat sakit seperti dipukul dengan palu.


"Mas, kamu kenapa?" Suci sangat panik, rasa takut kehilangan membuatnya tak bisa berpikir dengan jernih. 


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja." Zufar berbohong, karena dirinya tak ingin membuat Suci khawatir ataupun menangis. Menahan rasa sakit dan berpura-pura normal, seakan tak terjadi apapun padanya. "Lihat, aku hanya bercanda. Jangan dianggap serius."


"Tapi aku melihatnya seperti bukan berpura-pura, apa Mas bohong?" selidik Suci sembari menatap mata sang suami, ingin mencari kebenaran di dalam netra mata di hadapannya.


"Sudahlah, aku hanya bercanda saja. Hanya mengetes cintamu padaku, dan ternyata kamu masih mencintaiku." 


Suci akhirnya percaya dan tersenyum lega, dia tidak bisa memikirkan bagaimana jadinya jika itu sampai terjadi. 

__ADS_1


Tak lama, bianglala kembali turun dan mereka semakin terlihat romantis. Untung saja rasa sakit di kepala Zufar berkurang, tapi hal itu tidak ada apa-apanya dibandingkan senyuman yang kembali diterimanya setelah lama menyakiti perasaan Suci.


__ADS_2