Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 83 - Janggal


__ADS_3

Di kantor, Suci sudah mempersiapkan segalanya. Mempelajari setiap berkas yang akan menjadi proyek kerjasama antara dua perusahaan, butuh beradaptasi dengan cepat dalam menjalankan bisnis mendiang sang suami. Kini saatnya mereka berada pada ruangan rapat, mulai menjalankan rapat yang sempat tertunda akibat kegugupan dirinya.


Simon terus menatap ke arah Suci dan tersenyum melihat perkembangan dari wanita berhijab yang cukup baik, walaupun pemula tetapi asisten Doni berhasil mengajari. 


Hingga rapat telah selesai, semua orang bertepuk tangan dan Simon segera menyetujui proyek yang akan mereka kerjakan dengan bantuan dana yang akan diinvestasikan. Hal itu malah membuat Suci merasa tersanjung, jika dia berhasil dalam menyampaikan sebagai pimpinan perusahaan Mitra Group.


Di saat semua orang telah pergi, Suci ingin meninggalkan ruang rapat. Tetapi dihentikan oleh Simon yang berjalan ke arahnya. "Ada apa?" tanya wanita berhijab yang menoleh ke sumber suara.


"Aku cukup terkesan dengan penyampaian mu yang begitu detail dan juga berkesan, untuk itu aku ingin mengundangmu makan siang bersama di restoran yang tak jauh dari sini." Ajak Simon yang terlihat sangat ramah, sangat berbeda jika berhadapan dengan orang lain.


"Baiklah, tapi kita tidak bisa pergi berdua saja, harus ada orang lain yang ikut," ucap Suci yang memberikan syarat.


Dengan cepat, Simon menganggukkan kepala dan menghubungi seseorang. Hingga tak lama, Suci melihat wanita yang sangat dia kenali yaitu sahabatnya, Melati. "Kamu di sini?" tersenyum dan menyambut kedatangan sang sahabat.


"Iya, aku diundang oleh Tuan Simon untuk ikut bersamamu," sahut Melati yang membalas senyuman dari sahabatnya.

__ADS_1


"Jadi ini sudah direncanakan?" tanya Suci yang menatap dalam pria itu beberapa detik.


"Aku tahu kamu wanita muslimah, dan aku hanyalah orang asing yang bisa menimbulkan fitnah. Bukan hanya itu, aku juga membawa asisten pribadiku untuk ikut bersama kita." Jelas Simon yang sudah merencanakan semuanya, agar tidak mendapatkan penolakan. Bahkan dia juga mempelajari mengenai Islam secara diam-diam, tanpa diketahui oleh orang lain.


Suci tak menyangka jika pria tampan permata biru telah menyiapkan segalanya, tidak ada alasan untuknya tetap menolak dan menganggukkan kepala. Di satu sisi, asisten Ben sangat senang. Jika wanita idamannya juga ikut hadir, setidaknya dia tidak menjadi obat nyamuk. 


Saat di restoran, Simon memesan makanan sesuai permintaan dari Suci dan juga Melati. Sedangkan dirinya dan juga sang asisten Ben mengikuti selera. "Silakan dimakan!" ajaknya pada semua orang.


"Apa perutmu akan kenyang jika menatap orang lain?" tukas Simon yang menangkap basah asisten Ben yang sedang memandangi Melati. 


Suasana hangat tercipta diantara keempat orang dewasa, menyantap makanan yang tersaji di atas meja makan dengan begitu nikmat. 


Seseorang tengah mengawasi kehangatan dari empat orang itu yang tengah menghabiskan makan siang bersama, dia mengepalkan kedua tangannya, saat mengetahui jika pria bermata biru mencoba mendekati Suci, terlihat dari raut wajah yang begitu jelas di mata. "Berani sekali pria itu mendekati mantan tunanganku, aku akan buat perhitungan dengannya." 


Simon merasa janggal, seperti ada yang mengawasi mereka sedari tadi. Diam-diam dia mencari keberadaan orang itu. "Sasaran arah jarum jam empat," gumamnya di dalam hati, dan tersenyum tipis. 

__ADS_1


"Kenapa diam saja, ayo makan makanannya!" ucap Suci yang menatap Simon beberapa detik, dan kembali menundukkan pandangannya. 


"Aku akan segera kembali." Simon segera beranjak dari kursi, dan berpamitan kepada semua orang, dia berjalan sambil melirik target yang diam-diam mengawasi. 


Mirza ingin beranjak pergi karena dirinya merasa terancam, meninggalkan restoran tetapi terlambat saat tangannya ditarik menuju toilet. 


"Mengapa kamu mengawasi kami?" tanya Simon dengan tatapan tajam, mengeluarkan pistol yang selalu dia bawa dan menarik pelatuk. Menodongkan senjata kecil itu tepat di tengah dahi Mirza yang sekarang sangat gugup dan juga takut, keringat di dahi yang mengalir dengan deras menandakan kegelisahan. "Jawab atau aku akan menembakmu di sini!" 


"Kamu tidak akan bisa menembak ku, apalagi di tempat umum." Ucap Mirza yang menantang pria bermata biru.


"Aku tidak menyukai ada orang lain yang bermain-main dengan ucapanku, jika kamu tidak mengatakan niatmu yang mengawasi kami. Jangan salahkan aku menembakmu di sini." Ancam Simon yang tidak bisa membuat lawannya berkutik.


Namun bukan Mirza namanya jika tak punya rencana licik, dia hanya menertawakan pria bermata biru. "Aku tahu kamu menyukai Suci dari caramu menatap wanita itu, bagaimana jika dia tahu kamu menyukainya? Bukankah itu sangat menarik."


"Jangan berusaha untuk menjebakku dengan membawa nama Suci di sini. Katakan tujuanmu!" tekan Simon dengan tatapan tajamnya seperti elang yang memangsa.

__ADS_1


Mirza segera bertindak cepat dan menendang tangan Simon, hingga pistol itu bergelinding menjauh dari mereka dan terjadi perkelahian antara dua orang pria di toilet.


__ADS_2