Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 54 - Tantang Mirza


__ADS_3

Hati terasa pilu, seakan terdengar suara gemuruh yang membuatnya sangat terkejut. 


Tungkai kaki yang tak sanggup menopang bobot tubuhnya, di saat mendengar kabar mengenai kondisi sang suami yang ternyata sudah parah. Bulir cairan bening yang berada di pelupuk mata tak bisa terbendung lagi, cairan bening yang kembali membasahi wajah. 


Suci begitu shock, lidah terasa kaku dan wajah yang masih terlihat bingung. Mendongakkan kepala, menatap dokter dengan tatapan kosong. "Itu tidak mungkin, Dok. Selama ini suami saya baik-baik saja! Mungkin saja hasilnya tertukar dengan pasien lagi, coba di cek sekali lagi." Dia tersenyum, sangat yakin jika Zufar baik-baik saja.


"Serahkan semuanya kepada sang pencipta." Jawab dokter yang tidak bisa berbuat apapun lagi, skenario telah diatur sang khalik.


"Apa tidak bisa disembuhkan, Dokter?" sela Tini yang menangis, mengira jika putranya baik-baik saja dengan kehidupan normal.


"Saya tidak bisa meyakinkan hal itu, jalan satu-satunya adalah kemoterapi. Hanya saja___." Jelas sang dokter yang tak melanjutkan perkataannya.


"Ada apa, Dok?" tanya Suci yang sangat takut.


"Kecil kemungkinan untuk sembuh, apa pasien tidak mengatakan apapun pada kalian? Dari beberapa tes, kami menemukan kandungan obat yang hanya dikonsumsi bagi si penderita kanker." Terang dokter membuat mereka sangat antusias mendengarkan.


"Apa maksudmu, Dok?" sarkas Suci yang belum bisa menerima kabar itu, seakan itu hanyalah sebuah kesalahan lab.


"Sepertinya pasien sudah lama mengetahui jika dia menderita kanker otak."


"Itu tidak mungkin, aku selalu melihatnya baik-baik saja. Ma, katakan kepada dokter itu tidak menakut-nakuti ku!" Suci segera memeluk mertuanya, merengek bagai anak kecil yang diganggu orang lain.

__ADS_1


"Kamu tidak lihat! Menantu saya baru saja kehilangan janinnya dan sekarang mengatakan hal mustahil itu? Jangan bercanda, Dok!" ketus Tini yang pasang badan, tak terima jika sang dokter menyakiti menantunya lewat perkataan itu.


"Saya turut prihatin untuk itu, hasil sudah di dapat. Jika kalian masih tidak percaya? Tanyakan dan periksa langsung pada dokter ahli. Saya pamit dulu, permisi!" 


Suci menangis dalam pelukan ibu mertuanya, sangat mencintai sang suami walau melukai nya berkali-kali. "Apa dokter itu Tuhan? Dia memvonis hidup suamiku tidak lebih dari enam bulan. Ma, kenapa mas Zufar tidak mengatakan sakitnya? Aku tidak mengerti, apa yang tidak kita ketahui." 


"Zufar sakit? Ini mustahil, bagaimana dia menyembunyikannya selama ini? Tapi itu bagus, setidaknya aku mempunyai peluang untuk mendapatkan Suci sekaligus mantan tunanganku kembali." Batin Mirza yang mengambil kesempatan di dalam kesempitan, dia segera berlari ingin membeli air mineral.


Tini mencoba menenangkan menantunya yang lebih terpukul dibandingkan dirinya, sangat sabar dengan ujian yang menimpa. 


"Auh…perutku sakit, Ma." Rintih Suci sembari memegang perutnya.


****


Suci membuka kedua matanya, terlihat pandangan yang mengabur mulai terlihat jelas, menatap sekeliling ruangan dan dirinya yang juga dirawat tak jauh dari bangsak sang suami. "Mas Zufar…mas Zufar!" lirihnya memanggil sang suami, namun yang datang adalah adik iparnya. 


"Syukurlah, kamu sudah sadar!" jawab pria tampan itu yang berlari menghampiri.


Suci menoleh ke asal suara, menatap pria itu dengan wajah kebingungan. "Dimana suamiku?"


"Zufar belum sadarkan diri!"

__ADS_1


"Pertemukan aku dengannya, aku ingin berada dekat dengan suamiku!" lirih Suci yang keukeuh.


"Kondisimu tidak memungkinkan untuk menemuinya sekarang, beristirahatlah!"


"Tidak…tidak, aku ingin menemui mas Zufar. Antar aku atau aku pergi sendiri!" Suci bersikeras ingin menemui suaminya, sedih jika dirinya tak berada di samping pria yang sudah delapan tahun bersamanya. Di masa sulit, dia hanya ingin bersama suaminya, tak peduli dengan hal lainnya. 


"Beristirahatlah dan kondisimu belum pulih!" 


"Aku bilang tidak! Aku istrinya dan suamiku membutuhkanku sekarang. Jangan menghalangiku jika kamu tak berniat mengantarku," tegas Suci yang menatap adik iparnya tajam.


"Jangan keras kepala, Suci Az-Zahra! Aku tahu kau mencintai suamimu yang brengsek itu, tapi pikirkan juga kondisimu yang baru saja keguguran." Bentak Mirza.


Suci sangat terkejut dengan sikap adik iparnya. "Kamu membentakku?" protesnya tak terima atas bentakan itu. 


"Itu sebagai peringatan untukmu, aku ingin lihat bagaimana kamu pergi kesana sendiri. Ayo berdirilah dan temui suamimu itu," tukas Mirza yang menantang kakak iparnya, melawan keras kepala Suci.


"Akan aku buktikan." Suci segera mencopot alat-alat yang menempel di tubuhnya, dan segera beranjak dari brankar.


Suci mencoba semampunya, namun tumpuan yang tidak seimbang membuatnya hampir terjatuh. Untung saja Mirza dengan sigap menangkap, meremehkan keyakinan dari kakak iparnya. "Lihatlah, bahkan kamu terjatuh akibat keras kepala. Bagaimana jika aku tidak menangkapmu?" 


"Lebih baik kamu tidak menangkapku, dibanding kulit kita bersentuhan." 

__ADS_1


__ADS_2