
Suci terus saja berusaha untuk membangunkan suaminya yang sudah tak bernyawa, dia sangat sedih dan berharap itu hanyalah mimpi buruk baginya. "Mas…Mas Zufar, bangunlah! Jangan membuatku khawatir," ucapnya pelan karena suara tersendat akibat menahan tangisnya.
Asisten Doni membuka pintu dengan ekspresi yang tidak bisa digambarkan, padahal baru saja pria itu bercengkrama dengannya. Tetapi sudah menutup meninggal dunia, tak sengaja air matanya ikut menetes mengingat kebaikan dari pria itu. Dia berjalan menghampiri wanita berhijab, dan berdiri di sebelahnya. Masih menyaksikan, bagaimana tubuh yang tak bernyawa terbaring di atas tempat tidur. "Mengapa kamu pergi begitu cepat, tuan. Apa hanya ini perjuanganmu? Dasar lemah. Bukankah tuan sangat marah jika aku berkata seperti itu? Jadi bangunlah dan lawan aku." Tuturnya sembari mengusap kedua mata yang tampak berair, dia tahu jika semua itu tidak akan kembali seperti sedia kala, hanya mencurahkan apa yang dia rasakan di dalam hati.
Suci tak bisa menerima jika suaminya telah tiada, dia mendongakkan kepala saat orang kepercayaan dari Zufar terlambat untuk datang. "Mengapa kamu datang di saat dia sudah tiada?" tanyanya dengan raut wajah yang linglung.
"Maaf, sedikit ada masalah di perjalanan." Ungkap asisten Doni yang menundukkan kepala, dia sangat menyesal tidak ada di saat-saat terakhir atasannya.
Suci tak menggubris perkataan dari asisten Doni, perasaan yang begitu hancur dan juga patah hati. Dua kali dia merasakan di bulan yang sama, kehilangan sang calon buah hati dan juga suaminya yang sangat dia cintai. Tak bisa digambarkan bagaimana hatinya saat ini, tidak ada orang yang bisa membuatnya tenang, selain kepada sang rabb, pencipta alam semesta. "Mas, Jangan tinggalkan Aku. kumohon bangunlah!"
__ADS_1
"Tuan sudah tiada, ikhlaskan kepergiannya agar almarhum merasa tenang."
Suci segera mengusap matanya. "Kamu tidak tahu, bagaimana jika ada di posisiku. Mengatakan hal itu sangat mudah, tetapi untuk menjalaninya cukup sulit bagiku. Kamu tahu sendiri, bagaimana perjuanganku saat bersama dengan tuanmu."
"Aku tahu, bagaimana ditinggalkan oleh orang yang disayangi, ini sudah diatur oleh Allah, dialah yang mengetahui ajal seseorang." Tutur Doni yang mencoba untuk memberi pengertian kepada wanita yang sudah ditinggalkan oleh suaminya. Walau bagaimanapun, dia juga kehilangan sosok pria yang berjasa dalam hidupnya.
Suci terduduk terkulai, karena tungkai kaki yang terasa sangat lemas bagai tak bertulang. Dia tidak tahu, bagaimana akan menjalani kehidupan berikutnya setelah Zufar tiada. Perasaan yang tidak bisa diungkapkan lewat kata-kata, begitu sulit baginya untuk melupakan kejadian ini. "Ya Allah…ya Tuhanku, berikan hamba kekuatan dan juga ketabahan. Berikan keikhlasan di hati atas kepergian suami hamba, Aamiin ya robbal alamin." Dia berdoa di dalam hati, dan mencoba untuk mengikhlaskan semua ujian yang diberikan menerima dengan lapang dada.
Di pagi hari, Suci tak bisa menjauh dari jasad sang suami dan tidak ingin beranjak. Tatapan kosong dan lurus ke depan, tidak ada semangat untuk hidup membuat orang-orang yang berdatangan begitu kasihan melihat nasib gadis berkerudung putih yang kurang beruntung.
__ADS_1
Air mata mulai mengering, tidak ada yang tersisa, kenangan indah kemarin ternyata adalah momen terakhirnya bersama Zufar. Dia tidak menyangka, jika kepergian dari suaminya begitu cepat, serasa dunia begitu kejam kepadanya. "Apa kesalahanku, sehingga Tuhan selalu saja menguji ku?" gumamnya masih terdengar tak berdaya.
Tini sangat sedih kepergian dari putra sulungnya, tak mengira jika zufar lebih dulu menghadap sang khalik dibandingkan dirinya, kesedihan dapat dirasakan di penjuru rumah. Dengan cepat dia memeluk menantunya, dan memberikan kekuatan agar lebih tambah dengan semua ujian yang menimpa.
"Ma, mas Zufar meninggalkan aku!" lirih Suci tanpa mengeluarkan air mata lagi.
Tini mengerti bagaimana hancurnya hati sang menantu, memberikan pelukan hangat untuk menenangkan Suci dan mengusap bahu. "Sabarlah Sayang, Mama tahu ini semua tidak akan mudah, tapi kita harus menerima kehendak dari Allah subhanahu wa ta'ala. Jangan biarkan dirimu tersesat dalam kesedihan, kuatkan dirimu!"
"Apa aku ini pembawa sial? Semua orang-orang yang aku sayangi pergi meninggalkanku." Tidak ada semangat untuk hidup melihat jenazah yang sudah tertutup dengan kain kafan, menatap wajah pucat itu dengan sendu.
__ADS_1
Tini terus memandangi wajah yang menantu, melihat tatapan kosong dan juga bersemangat. tangisnya pecah melihat ketidakberdayaan dari Suci, sangat prihatin dengan apa yang menimpa menantunya. "Kasihan sekali dirimu, nak. Semoga Allah membalasnya dengan kebahagiaan yang tidak terkira, aku mendoakan agar menantuku Suci bisa melupakan hari terberatnya ini." Gumamnya di dalam hati, sembari meneteskan air mata yang tertahan di pelupuk mata.