
Suci segera dibawa ke rumah sakit, rasido tidak ingin berpisah dari ibunya dan mengikuti kemanapun wanita berhijab itu di bawah. "Ibu bangunlah jangan tinggalkan aku sudah lama aku, bukalah matamu Bu." ucapnya yang menangis dengan tersedu-sedu. sedangkan Nadia datang untuk menguatkan hati gadis kecil.
tak lama datanglah mobil ambulans bersama dengan asisten Doni yang sangat terkejut dengan kabar yang diterima dari bawaannya meninggalkan rapat penting mengingat Bos wanita yang tertabrak.
Dia segera turun dari mobil dan menerobos orang-orang yang datang hanya mengerubungi tanpa berinisiatif untuk menolong, bagai sebuah tontonan yang menarik bagi mereka. Asisten Doni segera mengangkat tubuh Suci dan memasukkannya ke dalam ambulans, diikuti oleh Nadia dan juga Rasidha.
"Apa ibuku akan selamat, Paman?" lirih Rasidha dengan linangan air mata.
"Dia wanita yang kuat, berdoa saja demi kebaikan Suci." Jawab asisten Doni sambil melirik tubuh yang bersimbah dengan darah, dia sedih karena lalai dalam menjaga yang menyebabkan musuh leluasa.
Mobil ambulans terus melaju tanpa henti, menerobos kendaraan yang berusaha menutupi jalan. Rasidha terus saja menangis, membuat Nadia mencoba untuk menenangkan. "Jangan bersedih, Sayang. Pasti ibu Suci selamat."
"Apa ibuku tidak akan meninggalkanku?" tutur Rasidha dengan raut wajahnya yang polos.
"Kita hanya berdoa demi keselamatannya, jangan putus asa."
"Nanai, ibu dan ayahku pergi meninggalkanku dan sangat menyakitkan. Jangan sampai aku kehilangan ibu Suci, aku tidak ingin jika aku kehilangan ibuku lagi." Tutur Rasidha yang menceritakan kesedihannya. Hati siapa yang tidak hancur, melihat kedua orang tua yang paling di sayangi di bunuh tepat di hadapannya.
__ADS_1
"Ada Allah yang menjaganya, kita akan mendoakannya." Nadia tak bisa menahan bendungan air matanya lagi, karena pengorbanan dari Suci yang membuat dirinya selamat.
Asisten Doni sangat panik, jauh di lubuk hatinya yang terasa sakit melihat wanita yang bersimbah darah terbaring di depannya.
Mobil ambulans berhenti dan di sambut oleh beberapa petugas yang menyambut kedatangan mereka dan segera melarikan Suci ke ruang gawat darurat. Mereka tidak bisa masuk ke dalam, membuat suasana menjadi tegang.
Rasidha melihat tindakan dokter dari jendela kaca, menempelkan wajahnya agar terlihat jelas. Nadia terus menggendong anak asuhnya, tanpa berpikir apapun lagi sesuai keinginan dari gadis kecil itu.
Asisten Doni duduk termenung menunggu kabar dari dokter, dan berharap segera mendapatkan kabar yang baik. Tanpa dia sadari, bulir bening di pelupuk mata menetes mengenai tangannya. "Ya Allah, mengapa aku merasakan sakit dengan penderitaan Suci? Tanda apakah ini?" gumamnya di dalam hati, terus berdzikir semampunya dan meminta keselamatan.
"Bagaimana kabar dari Suci, Dok?" desak asisten Doni.
Dokter menghela nafas dan menatap ketiganya secara bergantian. "Pasien kehilangan banyak darah, dan kebetulan stok di rumah sakit ini kosong. Pasien membutuhkan donor darah dan harus mendapatkan nya segera, mengingat kondisi kritis. Cukup sulit untuk pergi ke bank darah, karena jarak yang ditempuh sangatlah jauh." Jelas dokter itu, dia akan merasa gagal menjadi dokter saat tidak bisa menangani pasien dengan baik.
"Aku akan minta orang kesana, apa golongan darahnya, Dok?" asisten Doni sangat panik, rela melakukan apapun demi janjinya kepada mendiang Zufar.
"Golongan darahnya AB negatif, golongan darah itu sangatlah langkah."
__ADS_1
Seakan mendapat secercah harapan, mengingat dirinya juga mempunyai golongan darah yang sama. "Ambil darah saya, Dok."
"Baiklah." Dokter mengangguk dan melirik suster, memberikan isyarat untuk membawa asisten Doni untuk cek darah. "Kami harus memeriksa dulu, apakah layak atau tidak."
Asisten Doni menyetujuinya, sebelum sebelum pergi meninggalkan tempat itu, dia melirik gadis kecil yang menaruh harapan besar badanya. Mengusap air mata di wajah Rasidha dan segera melangkahkan kaki untuk mengikuti suster.
Setelah di cek, ternyata darah mereka sangatlah cocok. Hingga suster mengambil tindakan cepat, asisten Doni berpegang teguh pada janjinya dan bahkan telah menganggap Suci sebagai adiknya.
Selesai mendonor darah, asisten Doni terlihat sedikit lemah. Namun, dia memaksakan diri sampai semuanya terjamin dan bisa bernafas lega. Suci akhirnya tertolong dan akan segera siuman, semua ketegangan berangsur-angsur memudar.
"Pengorbanan anda tidak sia-sia, pasien melewati masa kritis dan akan segera siuman." Puji sang dokter yang juga senang dengan tindakan cepat asisten Doni. "Apakah anda adalah keluarganya?"
"Bukan, saya hanyalah asistennya." Jawab asisten Doni.
"Hem, baiklah. Saya permisi, jenguk pasien beberapa jam lagi."
Rasidha sangat senang, langsung bersujud syukur. Hal itu membuat Nadia tersenyum, sedangkan asisten Doni tak henti-hentinya mengagungkan sang pencipta seluruh alam semesta.
__ADS_1