Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 27 - Bukan aku


__ADS_3

Siska berusaha untuk memulihkan wajahnya agar terlihat tidak gugup karena sudah ditangkap bahas sang mertua, mengetahui dirinya yang sedang menyaksikan keromantisan orang lain di dalam kamar, mengintip lewat sela pintu yang belum tidak menutup sepenuhnya. "Aku hanya lewat," jawabnya yang memberikan alasan. 


"Benarkah? Tapi mengapa harus mengintip? Dasar tidak sopan, pergi dari situ!" usir Tini membuat Siska terpaksa menuruti, berlalu pergi dari tempat itu. 


"Dasar mak lampir, dia selalu saja datang untuk menggangguku." Gerutu Siska yang berjalan menuju kamarnya, memilih untuk berbaring di saat perut yang semakin membesar, bertambahnya usia bayi.


"Suara apa itu? Apa Mas mendengarnya?" tanya Suci yang menatap wajah tampan sang suami.


"Entahlah, lupakan itu. Beristirahatlah!"


"Lagi?" 


Zufar menganggukkan kepala, sedangkan Suci menghela nafas, bosan di tempat itu yang merebahkan diri seharian di atas tempat tidur. "Tidak, aku tidak ingin beristirahat. Ajak aku jalan-jalan, seperti makan es krim dalam wadah yang besar. Aku ingin memakannya," tuturnya tampak bahagia.


"Baiklah, tapi sebelum itu jawab pertanyaanku. Apa itu keinginan anakku atau keinginan Ibunya?" tanya Zufar yang menyipitkan kedua matanya, menginterogasi layaknya seorang polisi.


Suci tersenyum lebar, dia juga tidak tahu apakah permintaan sang janin atau keinginannya. "Aku rasa keduanya!"


"Baiklah, kita ke taman di samping rumah." Zufar membantu istri pertamanya untuk turun melewati tangga, menuntun menuju taman yang berbunga warna warni. "Bagaimana, kamu puas?" 


"Bunga mawar kesukaanku, ternyata bermekaran indah." 


"Itu karena kamu yang merawat mereka."


Suci tersenyum dan menikmati pemandangan yang tersuguh indah di hadapan, menunggu ke datangkan es krim yang di pesan oleh sang suami. 

__ADS_1


"Wah, disini sangat indah. Kursi itu masih kosong, berikan aku sedikit tempat duduk." Celetuk Siska yang langsung mendudukkan dirinya di sebelah Zufar, ikut bergabung karena sudah tak tahan dengan perlakuan tak adil dari suami mereka. 


Suci hanya tersenyum, dia memahami jika sang adik madu iri dengan perhatian Zufar yang condong kepadanya, merelakan wanita itu ikut bergabung bersama. "Kamu mau es krim?" tawarnya yang menyerahkan. 


"Boleh, cuaca panas paling top dengan yang segar." Siska segera mengambil dan dengan sengaja tidak menangkap mangkok yang berisi es krim hingga mengenai Zufar. "Maaf, Mas tidak apa-apa?" tanyanya yang segera membersihkan sisa es krim di celana sang suami.


"Tidak, sebaiknya aku mengganti celanaku. Kalian mengobrol lah di sini!" Zufar beranjak dari duduknya, segera masuk ke dalam rumah menuju kamar.


"Maaf, tadi tanganku sedikit licin." 


"Tidak masalah," jawab Suci yang menikmati pemandangan yang terbentang di hadapannya.


"Hem, bagaimana kandunganmu Mbak? Aku lihat tubuhmu semakin berisi," tutu Siska yang melirik sekilas. 


Suci tersenyum saat terlintas perlakuan suami yang begitu menjaganya di saat hamil. "Mas Zufar menjagaku dengan baik, mengatur segala kebutuhanku."


"Jangan bicarakan itu, tiba masanya mas Zufar akan memperhatikanmu."


"Hem, semoga saja. Awannya sangat mendung, dan sebentar lagi akan hujan. Ayo kita masuk ke dalam!" ajak Siska yang diikuti oleh Suci.


Di saat keduanya sampai, hujan turun begitu lebat. Tiba-tiba Siska terjatuh membuat Suci tersentak kaget, segera membantu adik madunya. "Ayo bangunlah!" 


"Mas…Mama, tolong aku. Aku terpeleset!" pekik Siska yang menangis tersedu-sedu, membuat Suci gelagapan tak tahu harus berbuat apa. 


Semua orang dan dan segera memberikan tindakan pertama untuk Siska, terlihat raut wajah Zufar yang cemas, takut jika anak dalam kandungan istri kedua bermasalah. "Mengapa dia bisa jatuh?" tanyanya yang menatap Suci dengan serius. 

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu Mas."


"Bohong, kenapa mbak mendorongku? Dengan sengaja melepaskan tanganku di saat lantai di penuhi air."


"Suci?" 


"Iya Mas," sahut Siska yang menangis. "Aku tahu hubunganku dengan mas Zufar itu salah, tapi sudah suratan takdir jika kita harus berbagi. Tapi jangan menghukum anakku yang belum lahir ini, dimana hati nuranimu Mbak?" tuduh nya. 


Mendengar itu membuat Zufar tak percaya akan kejahatan hati istri pertamanya bak malaikat, tapi tak bisa mengabaikan apa yang baru saja terjadi. "Aku tak percaya ini darimu, Suci. Mengapa kamu melepaskan tangannya, apa kamu ingin aku hanya menyayangi anak dalam kandungan mu saja? Di mana perasaanmu, hah?" 


Suci terdiam tanpa melakukan apapun, dia sangat terluka dengan bentakan sang suami, kali pertama Zufar membentaknya. "Percayalah Mas, tidak mungkin aku dengan sengaja mencelakainya?" 


"Jika sampai terjadi apa-apa terhadap anakku, maka kamulah yang bersalah." Sarkas Zufar yang sangat marah jika menyangkut calon anaknya yang belum lahir. Dia segera pergi menghampiri Siska, memastikan jika keadaan anaknya baik-baik saja. 


Suci seakan terpojokkan, menangis mendengar perkataan sang suami yang tak ingin mendengar penjelasannya. Namun masih berdiri tak jauh, memperhatikan dokter yang masih memeriksa keadaan Siska. 


"Bagaimana Dok? Apa anak dalam kandungan baik-baik saja?" desak Zufar. 


"Alhamdulillah semuanya baik, tidak ada yang perlu dicemaskan." 


"Syukurlah." 


Suci akhirnya merasa lega, tak terjadi apapun pada anak dalam kandungan Siska. Melangkahkan kakinya untuk mendekat, tapi lebih dulu dicegah Zufar yang tengah menggendong adik madunya menuju kamar.


Tini datang menghampiri, memegang pundak Suci untuk menguatkannya. "Dia sangat takut dengan bayi dalam kandungan itu, tunggu beberapa saat dan barulah berbicara dengannya."

__ADS_1


"Mama benar."


__ADS_2