Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 72 - Masih membencinya


__ADS_3

Setelah memesan menu makanan, Zaid melihat kedekatan antara Suci dan juga putri angkatnya, Rasidha. Senyum di sebalik sorban hanya terpancar dari mata yang sedikit menyipit, benar-benar merasakan mempunyai keluarga kecil yang bahagia. 


"Ada apa?" tanya Suci yang dari tadi mengetahui, jika pria bersorban di hadapannya diam-diam mencuri pandang, sedikit risih jika bersama dengan pria asing di restoran. 


"Tidak, aku hanya bahagia melihat Rasidha bahagia. Dia sangat merindukanmu, karena setiap hari selalu menanyakan keadaanmu dan ingin berkunjung kesini."


Suci menganggukkan kepalanya. "Baiklah."


Tak lama kemudian, makanan telah tersaji di atas meja. Makanan yang menggugah selera membuat siapa saja merasa lapar, itulah yang dirasakan oleh gadis kecil yang hampir meneteskan air liur. 


"Sepertinya Rasidha ku sudah tidak sabar menyantap makanan itu," goda Suci yang tersenyum, mengambil makanan yang tersaji dan hendak menyuapi si gadis kecil.


Rasidha dengan senang hati membuka mulutnya lebar, mendapatkan perhatian dari seorang ibu angkat yang bisa menggantikan posisi kedua orang tua kandungnya yang telah tiada. Baru satu suap saja masuk ke dalam mulut, tiba-tiba wajahnya berubah murung dan juga meneteskan air mata di saat memori ingatan keluarga kandungnya terlintas di otak. Hal itu dilihat oleh Suci dan juga Zaid, mereka sangat khawatir dengan kondisi anak angkat mereka.

__ADS_1


"Apa makanannya tidak enak? Ayah bisa memesan nya lagi," veletuk Zaid yang menawarkan makanan baru.


"Tidak, bukan itu." Sahut Rasidha menggelengkan kepala tak bersemangat.


"Katakan saja, kenapa Rasidha tiba-tiba murung?" tanya Suci dengan lembut, sambil melirik Zaid di hadapannya, mereka tak mengerti mengapa gadis kecil itu bersedih. 


"Ayah dan Ibu mengingatkanku pada kedua orang tua kandungku, itu sebabnya aku bersedih." Ungkap rasidah yang menatap kedua orang tua angkatnya secara bergantian.


Hati Suci merasakan penderitaan yang sama, gadis kecil yang sudah kehilangan orang tuanya. Dengan cepat, dia beranjak dari kursi dan memeluk tubuh mungil itu dengan erat, meneteskan air mata dan segera menyekanya kembali. "Rasidha tidak boleh sedih, Ibu bersamamu. Kirimkan doa kepada kedua orang tua di setiap waktu, selesai sholat."


Zaid memegang dadanya yang terasa sangat sakit, mendengar dengan nyata bagaimana gadis kecil itu membenci dirinya, yang pernah membunuh kedua orang tua rasidah. "Apa segitunya dia membenciku? Sampai kapan aku akan menjadi Zaid?" batinnya yang sangat sedih. Bahkan, dia sudah berusaha untuk membahagiakan gadis kecil itu dengan kasih sayang yang dia miliki, tetapi tetap saja itu tidak membuat anak angkatnya merasa puas. 


"Sabarlah Sayang, jangan membenci seseorang melewati batasnya. Kita tidak tahu, apa yang dia lewati setelah melakukan perbuatan itu. Ibu berdoa agar Rasidha tetap bahagia, dan jangan bersedih lagi." Jelas Suci yang membuat Zaid termenung, karena apa yang diungkapkan oleh wanita itu memanglah benar. Hatinya memang tidak tenang, setelah membunuh kedua orang tua dari anak angkat yang tak bersalah.

__ADS_1


Setelah selesai makan mereka memutuskan untuk kembali ke toko roti, tidak ada perbincangan ataupun kata-kata yang keluar dari mulut Zaid. Pria bersorban itu masih saja memikirkan ucapan dan ungkapan kebencian dari anak angkatnya sendiri, dia tidak bisa hidup tenang di saat melihat mata Rasidha yang mengeluarkan cairan bening, mengutuk dirinya sendiri yang telah membantai dan membunuh begitu banyak nyawa yang tak bersalah. 


Suci segera turun dari mobil, setelah sampai di toko rotinya melambaikan tangan yang dibalas oleh lambaian tangan kecil dari dalam mobil yang sudah berjalan. Dia sedikit merasa curiga, mengapa tiba-tiba Zaid menjadi terdiam, tetapi tak menghiraukan hal itu. 


Suci berjalan masuk ke dalam toko miliknya melihat seorang pria yang mengenakan jas tengah menunggu kedatangan dirinya. "Mirza? Mau apa pria itu datang ke sini?" gumamnya segera menghampiri.


"Halo kakak ipar! Maaf, apa aku harus memanggilmu kakak ipar sekarang? Bagaimana jika aku menyebutmu dengan mantan tunanganku?" Mirza menurunkan kakinya yang baru saja dia lipat, mendekatkan wajah ke arah wanita berhijab dengan penuh keangkuhan dan juga keserakahan.


"Jangan bersikap kurang ajar! Mengapa kamu datang ke sini?"


"Jangan marah seperti itu, dan turunkan tatapan tajammu. Aku hanya ingin mencicipi kue dari tokomu ini."


"Aku tahu benar, bagaimana sifatmu yang asli. Aoa yang kamu inginkan?" Suci tahu jika pria di hadapannya sangatlah licik dan juga tidak bertanggung jawab, dia tahu jika pria itu mempunyai niat yang terselubung.

__ADS_1


Mirza tersenyum miring, melihat keangkuhan dari kakak iparnya yang sudah mendapatkan setengah harta dari kakak kandungnya sendiri.


__ADS_2