
Zufar pergi meninggalkan kediaman Umi Kalsum dan segera mencari ke bandara, mungkin dia belum terlambat dan bisa menemukan istrinya di sana. Bagai ayam yang kehilangan induknya, dia sangat marah mengetahui kebenaran. Di surat itu pun juga tak ada alamat tujuan yang dituju Suci, tak ada secercah harapan.
Sampai di bandara, dia mencoba untuk mencari daftar nama penumpang yang akan berangkat penerbangan awal, tentu saja atas nama Suci Az-Zahra. Cukup menguras waktu memeriksa nama penumpang, hingga akhirnya dia menemukan tujuan sang istri.
Zufar hampir frustasi, mengusap wajahnya dengan kasar dan memilih duduk di kursi yang sudah tersedia. Ponsel berdering, dia segera mengangkatnya.
"Ada apa?"
"Tuan, terjadi masalah di kantor."
"Aku hanya pergi sebentar dan kamu tidak bisa menangani masalah kantor?"
"Maaf, untuk saat ini hanya tuan yang bisa menanganinya dan tidak bisa di wakilkan."
Zufar tak menjawab, rasa kesal yang bertambah membuat ponsel mahal dilempar hingga layarnya pecah. "Aargh…andai saat itu aku tidak memberinya izin." Kedua tangannya mengepal dengan sempurna, tak bisa membayangkan jika Suci memang ingin menjauh dari sisinya. "Mengapa dia pergi ke Palestina? Apa dia tidak tahu disana tidaklah aman."
Ingin sekali dia mencari istrinya walau ke ujung dunia sekalipun, masalah kantor yang tak bisa ditinggal membuatnya terpaksa pulang ke Indonesia dan melanjutkan pencarian setelah permasalahannya terselesaikan.
__ADS_1
Sementara Umi Kalsum dan putrinya Hana menangis, anak angkat yang sudah memberi wajahnya lumpur dan tidak berani menghadapi Zufar. "Mengapa kak Suci melakukan ini pada kita, Umi?"
Umi Kalsum tidak bisa menjawab, dia sangat kecewa dengan putri angkatnya yang mencoreng namanya. "Umi salah dalam mendidiknya, kebebasan membuatnya lupa akan kodrat sebagai istri."
"Kemana kak Suci pergi? Dia belum berpamitan pada kita," Hana menangis akan kepergian sang kakak yang belum lama tinggal di rumah mereka, entah permasalahan apa yang dihadapi. Tapi, tindakan yang dilakukan Suci itu sangat salah.
****
Suci menyeka air matanya, menyesali tindakan yang diperbuat saat ini. Tapi, dia hanyalah wanita biasa yang juga mempunyai perasaan, dan memutuskan untuk tidak akan kembali.
Ada sepasang mata yang memperhatikan Suci sedari tadi, seseorang berada tak jauh memperhatikannya. Dia tersenyum dan menggelengkan kepala, sedih dan senyum setelahnya.
Perjalanan membutuhkan waktu, begitupun suci mengumpulkan tekadnya menjadi relawan di Palestina. Menyingkirkan permasalahannya antara suami, dengan fokus membantu anak-anak Palestina yang kehilangan orang tua.
"Bismillahirrahmanirrahim, berikan aku perlindungan ya Rabb…Aamiin." Gumamnya yang melangkahkan kaki di sebuah tempat sederhana, di bangun oleh para relawan yang menyumbangkan setengah harta mereka dalam membantu kesulitan anak-anak di Palestina.
"Assalamu'alaikum," salam Suci yang tersenyum mengembang, beberapa orang menyambut kedatangannya dengan sangat baik, terutama para anak-anak yang langsung mengerubungi nya.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, kamu relawan baru? Perkenalkan, saya Melati dari Indonesia. Sepertinya kamu juga orang Indonesia atau Malaysia?" tebak wanita itu dengan ramah, tersenyum ramah menyambut kedatangan relawan baru, dia mengulurkan tangan setelah memperkenalkan diri."
"Iya, Suci dari Indonesia." Ucapnya segera menyambar tangan Melati dan bersalaman dan tersenyum tulus.
"Mari aku antar!"
Suci menganggukkan kepala, mengikuti kemana Melati menuntunnya. "Ini kamarmu, maaf…hanya ini yang ada."
Kedua matanya menyusuri ruangan yang sangat kecil, tempat tidur yang hanya beralas tikar. Ruangan kecil yang muat untuk dua orang saja, dan tidak ada lantai. Suci tersenyum dan menoleh, mensyukuri apa yang diterimanya. "Tidak masalah, ini terlihat nyaman untukku."
"Beristirahatlah, aku pamit dulu."
Suci mengucapkan Hamdallah sebagai bentuk rasa syukurnya, meletakkan koper dan menyusun pakaiannya di laci sederhana. Setelah beristirahat sejenak, dia melangkahkan kaki mendekat kearah anak-anak tengah bermain, tersenyum di saat ujian yang mereka lewati. Tak terasa air matanya tumpah, hatinya ikut terenyuh saat melihat kumpulan anak-anak yang sudah tak mempunyai keluarga. "Penderitaan mereka bahkan lebih besar dariku, semoga aku bisa menjadi ibu bagi mereka."
"Kamu merasa senyuman mereka sebagai daya tarik, tersenyum di kala ujian menimpa." Celetuk Melati yang tersentuh dan menjadi relawan di sana.
Suci segera menoleh setelah menyeka cairan bening di pelupuk mata. "Mereka anak-anak yang kuat," balasnya dengan pandangan kedepan beberapa saat dan menoleh, mereka tersenyum dan sepertinya akan menjadi teman akrab di sana.
__ADS_1