
Zufar tak habis pikir dengan dengan wanita yang berstatus istri keduanya itu, tidak menyukai keberadaan yang hanya mengincar bayi di dalam perut untuk di jadikan hadiah, dipersembahkan kepada istri pertama yang dia cintai. Dia bertekad untuk mencari keberadaan Suci dan memutuskan untuk ke Palestina, meninggalkan pekerjaan secara nyata dan memilih untuk bekerja yang dilakukan lewat daring.
Segera meraih koper berukuran sedang, mengemasi beberapa pakaian dan kebutuhan selama di sana. Terdengar suara ponsel yang membuatnya mendelik kesal, meraih ponsel yang ada di atas nakas. Dia melirik siapa si penelepon yang tak lain adalah sang asisten sekaligus tangan kanannya.
"Halo, tuan."
"Hem, ada apa?"
"Apa tuan benar-benar meninggalkan perusahaan?"
"Aku tidak punya pilihan lain, urus semua pekerjaanku dan jangan lupa pantau Siska selama aku tidak di sini."
"Baik, tuan."
Zufar yang menelepon tiba-tiba merasakan perutnya sangat mulas, memegangi perutnya dan segera pergi ke toilet. "Sudah dulu, ada panggilan alam yang terdesak. Aku akan meneleponmu nanti, hubungi aku jika kamu merasa kesulitan!" Dia segera berlari meninggalkan ponselnya, masuk ke dalam kamar mandi dan menuntaskan hajatnya. setelah itu, dia segera mencuci tangan menggunakan sabun.
Usai semuanya sudah dikemasi, Zufar menyeret kopernya seraya memakai kacamata menambah nilai ketampanannya. Menuruni anak tangga satu persatu, perasaan senang karena sebentar lagi akan bertemu dengan sang istri, walau posisinya tidak diketahui secara pasti.
Siska melihat suaminya tengah menyeret koper, segera menghampiri dan menghalangi pria itu dengan merentangkan kedua tangannya. "Mas mau kemana? Aku ikut!" pintanya.
__ADS_1
"Aku ingin menjemput Suci, kamu tinggal disini dan jangan mengikutiku."
"Tapi Mas, aku mau ikut pergi bersamamu! Ini permintaan bayi kita," bujuk Siska yang mengelus perut buncitnya, berharap jika sang suami membawanya untuk meminimalisir kedekatan Zufar dengan istri keduanya.
"Bodoh! Apa kamu ingin mencelakai anakku, hah? Tetaplah diam atau aku akan mengembalikanmu ke asal." Ancam Zufar yang tidak main-main dengan ucapannya.
"Ta-tapi Mas__."
"Tidak boleh membantahku!" tegas Zufar membuat Siska terdiam mematung, jika melawan pekerjaan itu bisa berakibat membangunkan seekor singa yang bisa menerkamnya kapanpun dan dimanapun.
Siska sangat kesal dengan suami yang lebih mengutamakan istri pertama dibandingkan dirinya, sangat berharap jika Suci tak akan kembali mengganggunya, dan menjadi satu-satunya bukan salah satunya.
Hal itu berhasil menjadi pusat perhatian semua orang, Siska mengejar suaminya dan memangku kepala Zufar. Menepuk pipi agar tersadar, dan memerintah sang dokter untuk memeriksa keadaannya. "Mas Zufar…Mas, bagun!" ucapnya yang sangat cemas juga khawatir.
Siska melakukan segala upaya untuk membangunkan suaminya, hingga sang dokter datang dan memeriksa keadaan zufar yang tengah terbaring di atas sofa. Dokter itu memeriksa keadaan dari pasiennya memahami apa yang sebenarnya dialami sang pasien.
"Bagaimana Dok, hasilnya? Mengapa Suamiku tiba-tiba pingsan?" Siska mendesak dokter itu, agar memberitahu penyebab dari apa yang dialami Zufar.
"Pasien baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku sudah memeriksa semuanya dan hasilnya normal,"jawab sang dokter seraya melepaskan stetoskop yang bertengger di lehernya.
__ADS_1
Siska tak mengerti dia mengerutkan dahi, karena ini kali pertama sang suami pingsan secara tiba-tiba dan hasilnya normal. "Tapi bagaimana itu bisa terjadi?"
"Mungkin saja pasien sedikit lelah atau dia mengalami gejala wanita hamil, atau disebut dengan Sindrom Couvade. Tidak ada yang perlu di khawatirkan, aku pamit!"
Siska tampak senang karena mendengar penuturan sang dokter, berpikir jika ikatan dari anak yang di dalam kandungannya dan juga Zufar saling berkaitan erat. "Tidak mungkin jika mbak Suci mengandung, dia sudah divonis mandul oleh dokter. Aku sangat yakin, jika dia mengalami hal itu karena aku tengah mengandung anaknya."
Zufar membuka kedua matanya, melihat sekeliling dan mengingat, jika dia hendak pergi ke Palestina. Dengan cepat, dia beranjak dan kembali menyeret koper, tapi langkahnya dihentikan oleh Siska.
"Jangan pergi, aku membutuhkanmu dan juga anak kita!"
"Sepertinya kamu merindukan tali ikat pinggang ku, ingin dicambuk?" ancam Zufar membuat bulu kuduk sang istri kedua meremang ngeri, pernah di cambuk membuatnya tak ingin terkena dua kali.
Zufar tersenyum, dan pergi tanpa menghiraukan Siska yang sendiri. Tapi, sebelum berangkat ke bandara, dia meminta sang asisten untuk membelikan rujak dengan level pedas.
"Aku ingin, kamu membawakan rujak tanpa mentimun ataupun bengkoang. Rujak Nanas saja, kamu mengerti?"
"Baik tuan," patuh sang asisten yang menuntup telepon, segera memutar balik mobilnya dan mencari rujak nanas.
"Ini aneh, tiba-tiba tuan Zufar menginginkan rujak nanas. Padahal sebelumnya dia sangat membenci buah itu?"
__ADS_1