
Sesampainya di rumah, Suci melihat ibu mertuanya yang tengah duduk di sofa, menyeruput teh dan di temani kue kering sebagai pelengkap. "Assalamu'alaikum Ma," ucapnya menghampiri dan menyambar tangan wanita paruh baya, menciumnya dengan hormat.
"Duduk Sayang, ada yang ingin Mama sampaikan padamu." Tutur Tini yang menepuk sofa di sebelahnya.
Suci mengangguk dan mengikuti perkataan mertuanya, sangat penasaran apa yang membuat wanita paruh baya itu ingin sampaikan padanya. "Ada apa, Ma?"
"Kamu merasa ada yang aneh dengan Zufar?" bisiknya agar tidak terdengar oleh orang lain.
"Sangat berubah drastis, bahkan mas Zufar tidak pernah membentakku."
"Nah, tidak salah lagi. Siska pasti memelet anakku yang bodoh itu," tukas Tini yang menggebu-gebu.
"Bahkan Mirza juga memperingatkan ku tadi, aku bertemu dengannya di saat hendak pulang ke rumah. Apa itu mungkin, Ma? Kita menuduh Siska tanpa bukti, ditambah lagi dengan pelet memelet di zaman yang sudah canggih." Suci tetap berpikir positif, sebelum adanya bukti yang menguatkan.
"Ada juga orang menggunakan cara kotor seperti itu, kamu harus hati-hati dengan kutu buntal itu. Jaga dirimu dan juga janin di dalam perutmu, bentengi diri dengan berdzikir dan juga mengaji. Insyaallah, kalian akan selamat dari fitnah setan." Jelas Tini yang memelankan suara.
"Itu pasti, Ma. Lalu, apa yang kita lakukan? Apa harus mematahkan ilmu hitam dengan mengundang ustadz?"
"Jangan dulu, ambil bukti di saat hal mencurigakan yang dia lakukan. Setelah adanya bukti, kita bisa mengundang ustadz dan menanyakannya."
"Mama sudah seperti ibu kandungku sendiri, selalu membela dalam setiap keadaan." Suci terharu dan bahagia mendapatkan mertua sebaik Tini.
__ADS_1
"Jangan terlalu memuji, aku hanya menebus kesalahan Mirza yang pernah meninggalkanmu sebelum ijab qabul."
"Aku sudah melupakannya, Ma. Oh ya, aku ingin Mama mencicipi kue buatanku, kebetulan membuatnya banyak."
"Sudah lama kamu tidak buat kue?" Tini menautkan kedua alisnya akibat rasa penasaran.
"Aku bosan terus berdiam diri saja, lebih baik mengembangkan kemampuan. Rencananya mau buka toko kue offline maupun online, dengan begitu aku mempunyai kesibukan." Jelas Suci yang penuh semangat.
"Kamu 'kan sedang hamil, Sayang."
"Insyaallah, tidak akan terjadi apa-apa."
"Siap Ma." Suci segera mengambil kue buatannya, menyerahkan pada ibu mertua.
Di malam hari, Suci kembali bergelut dengan menyembah tuhannya. Berdoa dengan kesunyian malam, mengenai apa yang terjadi dengan suaminya. Sebuah keputusan untuk melihat kebenaran hingga esok hari tiba, dia sudah mengundang salah seorang ustadz untuk datang ke rumahnya.
Suci ingin tidur, tapi terhenti saat melihat teko di atas meja tak jauh darinya yang kehabisan air. "Tekonya kosong, aku harus ke dapur untuk mengambil air minum." Melangkahkan kaki berjalan menuju dapur, melihat lampu di dapur yang menyala. "Siapa yang berada di sana?"
Berjalan mendekat dan melihat dengan sangat jelas, Siska yang tengah mengotori air beras dengan mengangkang. Suci terus mengawasi gerak gerik dari adik madunya yang begitu waspada dengan keadaan sekitar. "Astaghfirullah hal'adzim, jadi perkataan Mirza dan mama itu benar?" gumamnya di dalam hati, melihat secara langsung bagaimana wanita itu mencampurkan mangkuk yang berisi beras dengan cairan di selangk*ng.
Suci terus mengintip dari celah pintu, menyaksikan wanita yang bermain kotor. Segera meraih ponsel dari saku dan memfoto untuk dijadikan sebagai bukti.
__ADS_1
Siska yang terus mengawasi tempat itu segera pergi meninggalkan dapur menuju kamarnya. Dengan cepat Suci membuka rice cooker dan membuang beras yang sudah tercampur, mencuci bersih peralatan dan kembali menanak nasi dengan beras yang baru. "Aku ingin lihat, bagaimana tindakan mas Zufar di hari esok!" gumamnya yang juga beranjak dari dapur, pergi ke kamarnya setelah mengisi teko.
Suci terus saja beristighfar, mengingat sang madu yang sewaktu-waktu juga menjadikannya target.
****
Seorang pria tengah mengemasi barang-barangnya dan memasukkan ke dalam koper, menatap sekilas seragam yang sangat rapi di dinding dan kembali mengepak semua pakaiannya. Rela meninggalkan jabatan tinggi, rasa bersalah setiap membunuh orang-orang tak bersalah.
"Apa kamu yakin? Bagaimana denganku?"
"Sudah cukup aku membunuh, lebih baik aku berhenti. Menjadi komandan sangatlah sulit bagiku, aku hanya ingin hidup tenang."
"Apa ini karena wanita Indonesia itu?" cetus Felix yang menyeringai, tersenyum miring karena tak menyukai perubahan sahabatnya.
"Aku sudah merelakannya, hanya ingin membenahi diriku dan saatnya untuk berubah."
"Berubah? Jangan katakan kamu berpindah keyakinan!" bentak Felix yang mendorong tubuh Simon hingga tersudut di dinding, tatapan marah karena perubahan yang sangat pesat.
"Lepas atau aku melupakan mu sebagai sahabatku!" ancam Simon dingin dan membalikkan keadaan, menarik kerah leher Felix yang tersudut di dinding.
"Brengsek! Sudah cukup aku menahan ini lagi, kamu bukan komandan Simon tapi Zaid. Mau sampai kapan kamu begini, hah? Jika saja mereka tahu kalau kamu adalah komandan tentara Israel, bagaimana reaksi mereka?"
__ADS_1