Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 17 - Rebutan mangga muda


__ADS_3

Suasana panas terik semakin membuat Suci ingin memakan mangga muda, berharap jika dia bisa memakannya. lidahnya semakin terasa asam, jika memikirkannya,  ingin segera menikmati buah segar di cuaca yang sangat pas. "Aku tidak tahu dimana ada buah mangga, kemana aku harus mencarinya?" monolognya dengan berkeluh kesah, tidak tahan dengan keinginan janin di dalam perutnya. 


Keesokan harinya, Suci meminta izin kepada ketua relawan untuk pergi keluar dari yayasan itu. Keinginan yang begitu kuat bertekad untuk mencari seorang diri, karena semua orang sibuk mengurus anak-anak disana. "Tidak ada yang bisa aku ajak, semuanya sibuk. Sepertinya aku harus pergi demi keinginan calon bayiku." Gumamnya terus berjalan, menyusuri tempat itu dan melihat-lihat. 


Dua puluh menit berjalan, di juga belum menemukan pohon mangga ataupun buahnya. Rasa lelah berjalan membuatnya berhenti sejenak, memutuskan untuk beristirahat sambil memijat kakinya yang terasa pegal. "Sepertinya aku harus berjalan lagi, mungkin ada yang menjual buah mangga muda." lirihnya sambil menyeka keringat di dahi, panas yang sangat terik menyengat kulit membuatnya sedikit dehidrasi. Untung saja dia membawa sebotol air minum melepas dahaga, mengobati rasa lelah dan mulut yang terasa kering.


Dari kejauhan, sebuah mobil jeep yang berkecepatan tinggi, di kelilingi debu yang berhamburan. Suci menyipitkan kedua matanya, cukup sulit melihat siapa yang mengendarai mobil itu. 


Mobil berhenti tepat di hadapannya, seorang pria bersorban masih menutupi wajahnya. Zaid melompat dari mobilnya dan menghampiri, dia mengerutkan dahi dan penasaran mengapa wanita itu nekat berjalan seorang diri. "Kamu sangat ceroboh, sudah aku katakan tempat ini rawan pelecehan. Apa kamu ini tuli atau tidak mengerti?" ucap Zaid yang meninggikan suaranya. 


Suci menundukkan kepala, membenarkan perkataan Zaid. Tapi dia tidak berdaya, keinginan janin di dalam perut membuatnya ingin memakan buah mangga muda. "Aku sudah mengajak para relawan lain, tapi mereka punya kesibukan."


"Apa yang kamu cari dan nekat berjalan seorang diri?" selidik Zaid.


"Aku ingin makan buah mangga muda, itu saja." Jawab Suci meneteskan air matanya, bentakan pertama didapatkan dari orang asing.

__ADS_1


Zaid sedikit terkejut, membentak wanita berbadan dua yang pastinya sangat sensitif. "Ma-maaf, a-aku tidak bermaksud membentakmu." Merasa menyesal di kemudian, berusaha untuk mendapatkan kata maaf. 


"Tidak masalah," sahut Suci yang berbohong, karena suaminya tidak pernah meninggikan suaranya. "Aku merindukan mas Zufar," batinnya yang semakin terisak membuat pria bersorban itu gelagapan. Dia tidak tahu cara menghadapi seorang wanita, apalagi yang tengah masa hamil yang pastinya sensitif. 


"Jangan menangis, aku minta maaf. Bagaimana aku memberiku mangga muda, tapi aku sendiri yang akan mencarinya. Kamu tunggu di yayasan," ide Zaid untuk meredakan emosi tak stabil wanita hamil.


"Baiklah," angguk Suci setuju, masuk ke dalam mobil dan kembali ke yayasan. 


Setelah mengantarkan Suci dengan aman, dia segera pergi mencari mangga muda. Bahkan dia rela menempuh jarak yang sangat jauh, demi mengabulkan keinginan wanita hamil. "Astaga…mengapa aku bersimpati dengannya? Tapi ya sudahlah, demi anak yang belum lahir itu. Berbuat baik sangatlah melelahkan," keluhnya seraya menghela nafas.


"Aku ingin buah ini," ucap dua orang secara bersamaan, membuat anak-anak itu menatap dua orang pria di hadapan mereka. 


"Aku yang lebih dulu sampai," sergah pria di sebelah Zaid.


"Maaf, aku yang lebih dulu." Sahut Zaid tak terima. "Aku akan membayarmu dua kali lipat, berikan mangga muda itu padaku."

__ADS_1


"Hei, tidak bisa begitu. Aku juga menginginkan mangga muda, itu untukku dan akan membayarnya tiga kali lipat."


Kedua pria yang berebutan buah mangga muda saling melemparkan tatapan sengit, hanya ada tiga mangga muda di tangan si penjual. 


"Begini saja, ada tiga buah mangga. Dua untukku dan satu untukmu, bagaimana?" tawar pria itu.


"Tidak, itu tidak adil."


Kedua pria itu terus saja berdebat memperebutkan mangga muda, hingga si penjual merasa bingung. "Satu orang satu mangga, hanya itu solusi untuk tuan-tuan."


"Ide bagus." Sahut Zaid dan pria di sebelahnya dengan serempak.


Zaid segera pergi setelah membayar mangga, memberikan uang lebih pada si penjual sudah menjadi kebiasaannya. "Siapa dia? Jika tidak memikirkan janin itu, mungkin aku tak mau berebutan. Sial, ingin rasanya aku menembak kepalanya." 


"Ck, satu buah mangga muda mana cukup untukku?" keluh pria yang tak lain adalah Zufar, menandai pria bermata biru yang memakai sorban. 

__ADS_1


__ADS_2