
Kedua wanita saling menatap satu sama lain, sebuah tatapan penasaran dan juga memaknai kata lain. Sementara Rasidha yang hanya menatap dua wanita cantik secara bergantian, tidak mengetahui apapun selain bersembunyi di belakang.
"Ayo, kita harus pulang atau ayahmu akan memarahiku!" tutur wanita itu bernama Nadia, sang pengasuh baru.
"Tidak, aku hanya ingin bersama ibuku!" tolak Rasidha yang mengeratkan pegangannya di gamis Suci.
"Ibu?" Nadia mengerutkan kening, berpikir jika wanita cantik yang menggunakan hijab adalah ibu kandung anak yang dirawatnya.
"Ya, aku Ibunya." Jelas Suci sembari menarik pelan Rasidha agar tidak bersembunyi di belakangnya.
"Perkenalkan, saya pengasuh baru Rasidha. Suatu kehormatan bertemu dengan ibu kandung anak yang aku rawat." Nadia mengulurkan tangan dan tersenyum, ingin berkenalan dengan Suci dan berpikir itu adalah istri dari Zaid.
Suci menerima uluran tangan dan tersenyum. "Aku hanya Ibu angkat Rasidha," jelasnya agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara mereka.
"Tidak, dia ibu kandungku!" tegas Rasidha yang masih memeluk Suci, seakan tak ingin melepaskan. Sedangkan Nadia hanya mengerutkan kening, karena tak mengerti hubungan yang terjalin di hadapannya.
"Baiklah, ayo kita pergi!"
"Tidak, aku hanya ingin bersama dengan ibuku!" cetus Rasidha membuat Suci tak enak hati.
Sebenarnya Suci ingin pulang setelah mengantarkan bahan-bahan kue dan roti, hanya saja dia masih merindukan gadis kecil yang sangat dia rindukan, ingin menghabiskan waktu sebentar. "Hem, bagaimana jika kita makan? Ini sudah waktunya makan siang." Ajaknya menatap Nadia dan Rasidha.
Nadia tampak berpikir, karena majikannya sangatlah disiplin waktu dan juga tegas. Membuat bulu kuduknya merinding saat pria yang selalu menutupi wajahnya dengan sorban menatapnya dengan tajam. "Lain kali saja, tuan sangat mendisiplinkan waktu." Tolaknya.
__ADS_1
"Setuju." Sela Rasidha yang bersemangat, dia ingin menghabiskan waktunya sebentar saja bersama ibu angkat.
"Tapi…bagaimana dengan tuan Zaid?"
"Tolong hubungi tuan Zaid, biarkan aku yang meminta izin." Ujar Suci yang dengan cepat di setujui oleh Nadia.
Nadia mengeluarkan ponsel jadulnya, menekan nomor kontak sang majikan. Mencari satu persatu dan menemukannya, segera menghubungi dan berharap tersambung. "Ini," dia menyerahkan ponsel jadul itu ke arah Suci yang langsung menerimanya.
"Halo."
"Aku sedang bekerja, apa Rasidha berbuat tingkah?"
"Ehem, ini aku, Suci."
"Benar, hanya saja kami bertemu di swalayan. Aku hanya ingin meminta izin darimu, membawa Rasidha dan Nadia untuk makan siang bersama."
"Baiklah, aku mengizinkannya."
"Terima kasih."
Suci memutuskan sambungan telepon, kembali menyerahkan ponsel jadul ke pemilik aslinya. "Ini, dia sudah memberikan izin. Ayo, kita mencari restoran di dekat sini!" ajaknya yang memegang tangan Rasidha, sementara Nadia hanya berdiri bagai patung.
"Ini keajaiban, biasanya tuan Zaid tidak memberikan izin untuk membawa Rasidha? Apa mereka dulunya pasangan suami istri?" gumamnya yang segera tersadar, mengejar ketertinggalannya.
__ADS_1
Zaid tersenyum di saat masalah kantor tak ada habisnya, kemarahan akan pekerjaan yang menumpuk seketika menghilang saat mendengar suara merdu dari wanita yang dicintainya. "Aku ingin mengatur pertemuan Rasidha dan Suci, tapi mereka malah bertemu secara tak sengaja. Apa dunia sesempit itu?" gumamnya masih tersenyum tipis, bagai orang yang sedang jatuh cinta.
"Ada apa dengan tuan? Biasanya dia begitu posesif pada putrinya, lalu apa yang terjadi?" batin asisten Ben yang hanya mengerutkan kening.
****
Di sisi lain, dua orang tengah serius membicarakan masalah penting. Zufar dan asisten Doni yang duduk di ruang tamu, suasana yang terlihat tegang.
"Aku ingin kamu memindahkan setengah asetku atas nama Suci, dan empat puluh persen atas nama ibuku, Tini. Sisanya aku ingin kamu memberikannya kepada anak yatim dan juga fakir miskin, jangan lupakan sedikit berbagi di panti asuhan." Tutur Zufar yang telah memikirkan matang-matang mengenai wasiat.
"Mengapa kita membicarakannya, Tuan?"
"Aku sudah tidak tahu umurku, cepat atau lambat aku akan mati. Jadi, biarkan saja!" sahut Zufar dengan enteng, tak ingin larut dalam kesedihan.
"Baiklah, jika itu yang Tuan inginkan."
"Aku percaya dengan mu sepenuhnya, setelah aku tiada aku ingin kamu membimbing Suci mengatur perusahaanku."
Seketika asisten Doni bersedih, mengingat nasib bosnya yang sangat malang. "Tuan pasti sembuh, yakinlah akan hal itu!"
"Aku tidak ingin berharap apapun, hanya mengikuti kemana angin membawaku. Itu sudah menjadi karmaku, sudah banyak perusahaan yang aku hancurkan, kejam pada orang lain."
"Aku tahu, di hati Tuan tidak begitu. Bagaimana Tuan menyakiti orang lain, itu hanya sebagai pelampiasan atas penyakit yang diderita. Lagi pula, anda menghukum diri sendiri setelah berbuat hal demikian."
__ADS_1
"Aku tidak punya pilihan." Lirih Zufar yang menundukkan kepala, masih merasa menyesal dengan tindakannya dulu.