
Zufar kembali menatap lekat istrinya, saling berkontak mata dengan penuh harapan untuk bisa membujuknya pulang bersama. "Kemasi barang-barangmu, kita pulang!" desaknya yang tak ingin berada di tempat kumuh itu, tak terbiasa tidur yang hanya beralas tikar.
Suci terdiam dan tidak bisa menjawab, dia berlalu pergi untuk berwudhu. Hal itu menyulut emosi Zufar, tapi berusaha untuk tidak memperlihatkan sisi hitamnya. Setelah kepergian sang istri, pintu dari kayu menjadi korban kemarahannya. Tangan yang sedikit memerah tak di hiraukan, hanya menginginkan Suci kembali bersamanya.
"Mengapa dia begitu egois? Apa susahnya untuk pulang bersamaku dan menjadi ibu sambung dari anak Siska?" itulah yang dipikirkan oleh Zufar, berpikir jika masalahnya bisa selesai dengan sangat mudah. Tanpa menggali masalah dari kedua istrinya, ketidakpekaan membuatnya terjerat masalah yang tidak di pahami olehnya.
Suci menimba air di sumur, berwudhu di saat orang lain tengah tertidur lelap. Dinginnya air yang menyentuh kulit membuatnya merasa segar, setiap tetesan air di wajahnya memberikan rasa ketenangan.
Zufar melihat istrinya yang tengah menghadap sang Rabb, dia merasa tersentuh akan taatnya seorang hamba pada sang pencipta. Pria iblis sepertinya sangat beruntung bertemu dengan wanita sholehah, membuatnya bisa berjalan ke arah yang lebih baik. Setidaknya dia berperilaku baik di hadapan istrinya, namun bersikap iblis di belakang. "Aku sudah memantaskan diri untuknya," gumamnya yang tersenyum puas, sudah begitu yakin dengan kualitas di dalam dirinya.
Selesai sholat, Suci menoleh dan masih melihat keberadaan suaminya yang setia menunggu hingga ibadahnya selesai. Segera membuka mukenah dan melipatnya, meletakkan ke dalam lemari kayu yang sudah usang.
"Hei, kamu menyimpan mukenah di lemari jelek itu? Ayo, kemasi semua barang-barangmu, kita akan pulang ke Indonesia." Tutur Zufar yang protes, tapi tak memperlihatkan kemarahan. Tak tega melihat kehidupan Suci yang tidak layak, tidak nyaman. Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel, dia segera mengangkat telepon dari istri keduanya, Siska.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Mas, aku masuk rumah sakit."
"Apa? Apa yang terjadi?"
"Lantai di kamar mandi sangat licin dan aku hampir terpeleset, tapi aku tidak tahu bagaimana kondisi anak kita."
"Apa? Tunggu aku disana!"
Zufar sangat panik, mendengar kabar dari Siska yang masuk ke rumah sakit. Dia tidak bisa berpikir jernih, mengingat kondisi bayi yang ada di dalam kandungan. Bayi yang selama ini diinginkan dan diharapkan. "Cepat bersiaplah, Siska masuk rumah sakit!" ucapnya yang cemas.
"Baiklah, tapi aku punya satu syarat." Ucap Suci dengan penuh keyakinan.
"Apa itu?" tanya Zufar yang sangat antusias, menghampiri istrinya karena sangat penasaran. Tak punya banyak waktu karena ingin menghampiri istri keduanya yang berada di rumah sakit.
"Berikan aku waktu lima hari saja di sini."
__ADS_1
"Syarat macam apa itu? Aku mencarimu cukup sulit, tapi malah menjauhkanku darimu, aku tidak menerimanya." Protesnya tak terima.
"Tolong mengertilah Mas, cukup sulit melupakan apa yang terjadi ini. Aku butuh waktu hanya untuk menenangkan pikiranku, anak-anak disini memberiku ketenangan. Tapi aku berjanji akan kembali dalam lima hari," ujar Suci yang mencoba meyakinkan Zufar, beradaptasi membuatnya membutuhkan waktu.
"Tempat ini tidak aman untukmu," jelas Zufar yang juga mencemaskan istri pertamanya.
"Lima hari saja, aku akan kembali. Mengenai keamanan jangan di permasalahkan, mempercayakan jika Allah swt menjagaku."
"Baiklah, hanya waktu lima hari saja. Ingat! Aku akan menemukanmu, dimanapun. Jangan pergi lagi, atau kamu tahu konsekuensinya," ancam Zufar yang segera pergi dari tempat itu, hatinya dongkol saat permintaan Suci yang ingin tinggal disana selama lima hari.
Suci terdiam dan melihat kepergian suaminya yang menghilang dari balik pintu, dia menangis karena tak sempat mengatakan kabar bahagia. Bukan bermaksud untuk lari dari kenyataan, karena dia hanya butuh waktu untuk menenangkan pikiran. Mengelus perut yang masih rata. "Maafkan ibu, Sayang. Dengan waktu lima hari, semoga saja Ayahmu bisa memahami segalanya."
Dia segera menyeka air mata, berpikir bagaimana nasibnya kelak jika menyandang status menjadi istri sah. Apakah perhatian dan cinta sang suami juga akan condong atau tidak, mengingat bagaimana perhatian Zufar yang memperhatikan Siska.
__ADS_1