Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 11 - Rencana


__ADS_3

Zaid melihat kepergian bawahannya dengan tatapan penuh arti, punggung yang terlihat menjauh, menghilang dari pandangan. Sebelum beranjak dari tempat itu, dia melirik kiri dan kanan, mengecek situasi di sekitaran. Dia segera menutupi wajahnya kembali dengan sorban, dan bergegas pergi dari tempat itu. "Sepertinya aman, semoga tidak ada yang mengenaliku," gumamnya yang was-was.


Lain halnya dengan Suci yang masih berada di kamar mandi, dia tak bisa menggerakkan kaki yang terasa kaku untuk digerakkan. Ditambah lagi dengan tubuh yang keringat dingin, wajah yang pucat pasi. Kembali terdengar suara beberapa telapak kaki yang melewati tempatnya bersembunyi. "Semoga mereka tidak menuju kesini," batinnya sembari menutup mulut agar tidak menimbulkan suara yang bisa memancing musuh. 


Suci mendengar ketiga tentara itu tengah berbicara bahasa Ibrani yang tak diketahui artinya, tapi satu hal ditangkap, ada nada amarah dan kesal. Dia terus menunggu suasana kembali aman dan segera meninggalkan tempat itu dengan wajah ketakutan. Sering kali menoleh ke belakang, memastikan jika tidak ada tentara Israel yang menangkapnya. 


Langkah yang tergesa-gesa membuat Suci tak bisa berpikir jernih, hingga tak sengaja menabrak dada bidang seorang pria. "Maaf, aku tidak sengaja," ucapnya tanpa menoleh, rasa takut menyelimuti wajahnya.


"Ada apa? Kenapa wajahmu sangat pucat?" tanya pria itu yang tak lain komandan Simon yang menyamar menjadi pria muslim bernama Zaid. Ada guratan kecemasan di wajahnya, melihat Suci yang sangat ketakutan.


"I-itu, aku melihat tiga tentara Israel menuju kesini. Aku sangat takut dengan anak-anak, bagaimana jika mereka membantai anak tak berdosa itu?" Suci sangat gugup, dan takut. Seluruh tubuhnya gemetar, kaki yang terasa lunglai untuk di bawa berjalan. 


Zaid sedikit terkejut, tapi untung saja wanita di hadapannya tidak melihat interaksi mereka. "Benarkah? Aku sudah berkeliling dan tidak melihat mereka," jawabnya yang mencoba untuk menenangkan, berpura-pura tak tahu apapun.

__ADS_1


"Tapi aku melihat mereka melewati tempat ini."


Zaid tersenyum, terlihat dari matanya yang menyipit. "Mereka tidak mengganggu, mungkin hanya lewat saja. Sebaiknya kamu kembali ke kamar," tuturnya.


Suci menganggukkan kepala dan bergegas pergi kembali ke kamar mandi untuk mengambil wudhu karena tak sengaja menabrak Zaid yang membatalkan wudhunya. 


Selesai sholat, dia berdzikir menyebut nama Tuhan sang pencipta, sebagai bentuk pendekatan diri. Dirinya begitu khusyuk dalam beribadah, memohon ampun juga berdoa demi semua orang yang berada di tempat itu. 


Suci kembali melanjutkan tidur setelah membuka mukenanya, membaringkan tubuh di atas tempat tidur yang hanya beralas tikar. Memejamkan mata dan menunggu hari esok, dan menjalani dengan normal. 


Di sisi lain, kepulan asap yang memenuhi di ruangan itu, melayang ke udara dengan sangat indah. Seorang pria asik menghisap dan mengeluarkan asap rokok, memainkannya di kala bosan melanda. "Hah, ini sangat menarik. Dunia memanglah indah," monolognya dan sesekali meneguk minuman berakohol. 


Pintu terbuka dengan sangat keras, di tendang oleh orang lain dari luar ruangan. Segera oria itu mematikan rokok dan menarik perhatian ke arah sang pelaku, senyum tipis di wajah membuatnya tampak bahagia. "Selamat datang, Kakak." 

__ADS_1


Pria itu tak menjawab, rasa amarah yang segera dia lampiaskan kepada orang yang berhak. Zufar memukul wajah pria tampan yang sedikit mabuk, memberikan dua bogeman mentah di wajah pria tampan di hadapannya. "Itu permulaan saja, lancang sekali kamu menarik para pemilik saham di perusahaan milikku."


Pria itu menyeka salah satu sudut bibir yang mengeluarkan darah segar. "Brengsek!" umpat nya kesal.


"Jangan lupakan siapa aku, dengan mudah aku bisa membuatmu bangkrut," ancam Zufar. "Mengapa bisa aku memiliki adik yang tidak berguna sepertimu!" 


"Ikatan darah tak membuatku takut."


"Kembalikan pemilik saham ku, kamu pasti mengetahui sifat dari kakak kandungmu, Mirza." Zufar tersenyum licik dan memperlihatkan sebuah flashdisk yang berisi data perusahaan berada di tangannya. "Flashdisk ini berisi data perusahaan mu, dengan mudah membuatmu jatuh miskin. Aku ingin besok, para pemilik saham kembali ke perusahaanku." Ancamnya tersenyum smirk.


"Aku tidak percaya, kamu pasti membohongiku."


Zufar tersenyum dan memperlihatkan data di penting di dalam flashdisk, mengulas senyum tipis di wajahnya. "Besok harus pulih, atau kamu akan menerima konsekuensinya." Dia bergegas pergi dari tempat itu, keluar dari ruangan dengan tersenyum puas. "Dia bermain dengan orang yang salah." Gumamnya yang bisa bernafas lega, tidak lama lagi dia akan mengatur jadwal keberangkatan menuju Palestina, sangat merindukan Suci yang pergi baru beberapa hari.

__ADS_1


Mirza melempar gelas kecil berisi minuman alkohol sembarang arah, hingga menjadi serpihan kecil. "Kamu harus membayarnya dengan sangat mahal, tunggulah tanggal permainannya." Dia tersenyum, walau sekarang posisinya rendah, tapi masih mempunyai kartu As untuk melawan jika memerlukannya di waktu terdesak.


__ADS_2