
Dua orang pria yang tengah bertarung, menunjukkan kebolehan diri satu sama lain. Mereka menggunakan tangan kosong, dan saling menyerang satu tanpa kenal ampun, tidak ada yang ingin mengalah ataupun merasa kelelahan.
Simon melayangkan pukulan yang dapat ditangkis oleh Mirza, hingga dirinya kembali melayangkan tendangan tepat mengenai perut pria itu dengan sangat keras. Hingga terdengar suara meringis dari pria yang terjerembab ke lantai, menatap tajam ke arah pria permata biru yang berhasil menumbangkannya.
"Jika sampai kamu melakukannya lagi, maka aku tidak segan-segan akan membunuhmu," ancam Simon yang berjalan menuju ke arah Mirza dengan perlahan, tatapan yang membuat aura hitam, membuat lawan ketakutan. "Apa tujuanmu yang mengintai dan mengawasi kami? Apa kamu bekerja sendiri, atau ada orang lain di balik ini?"
Mirza yang merasa terpojokkan, tak punya pilihan lain. Segera mengeluarkan bubuk yang ada di sakunya, dan melemparkan mengenai lawannya yang kesulitan dalam penglihatan beberapa detik, dan hal itu dimanfaatkan untuk segera kabur dari sana sebelum pria itu benar-benar menghabisinya.
Dengan cepat Simon mengucek kedua mata yang terasa sedikit perih, penglihatan yang buram dan juga kabur, membuatnya tak bisa melihat lawan dengan jelas. Setelah efek dari bubuk yang dilemparkan itu menghilang, barulah dia menyadari jika pria yang mengawasinya telah pergi dan hal itu membuatnya sangat kesal. "Sial, dia sudah pergi." umpat nya kesal, seraya berjalan menuju ke wastafel mencuci wajahnya dengan mata yang masih kelilipan dan juga terasa perih.
Simon segera menyadari jika dirinya pernah bertemu dengan pria itu, tetapi dia lupa siapa pria itu dan ada hubungan apa dengan Suci. "Siapa pria itu? Aku seperti pernah melihatnya," ucapnya di dalam hati sembari berpikir, tetapi dia tidak ingin terlalu memusingkan hal itu dan segera pergi setelah selesai mencuci wajah.
Dia segera keluar dari toilet dan bergabung kembali, setelah merapikan jasnya yang terlihat sedikit kusut.
"Tuan, kenapa sangat lama sekali. Bahkan makanannya hampir habis," keluh asisten Ben yang mengangkat piringnya yang sudah licin.
"Jika sudah selesai, sebaiknya kita kembali saja ke kantor." Putus Simon yang tak berselera makan.
"Eh, tapi makanan mu belum habis." Ucap Suci yang mengharukan, kening penasaran mengapa pria itu tiba-tiba saja ingin pergi.
"Tidak, sebaiknya kita kembali ke kantor, dan aku sudah kenyang."
__ADS_1
"Baiklah, ayo!" ajak suci yang segera beranjak dari kursi, menoleh ke arah sahabatnya yang menganggukkan kepala.
Simon segera membayar bill makanan, dan segera berjalan ke arah mobil yang terparkir, mereka segera masuk ke dalam mobil. mereka lebih dulu mengantarkan Melati ke toko roti dan barulah mereka kembali ke kantor.
Mirza lari dengan menggunakan seluruh kekuatannya, agar tidak bisa ditemukan oleh pria bermata biru yang hampir saja membunuhnya. Untung saja dia selalu membawa bubuk yang seperti tepung, sebagai pelindung diri di saat merasa terancam. Berhenti di sebuah tempat yang sunyi, dan mulai mengatur nafas yang tidak terkontrol. Masih memikirkan pria bermata biru yang begitu membuatnya merinding, karena pria itu terlihat sangat berbahaya.
Dia segera mengeluarkan ponsel yang ada di saku, dan menghubungi seseorang untuk menjemputnya di lokasi yang sudah dikirim. Tak lama, mobil hitam berhenti di dekatnya dan dia segera masuk seraya menghela nafas karena bisa terbebas.
"Kau kenapa?" tanya Siska yang sangat keheranan.
"Aku sedang mengawasi pergerakan Suci, tetapi seorang pria bermata biru menghalangi dan mengetahui jika aku sedang mengawasi."
"Ya, itulah yang terjadi. Pria itu terlihat sangat berbahaya dan bahkan melukaiku."
"Sepertinya rencana ini cukup sulit, apalagi Suci dilindungi oleh pria itu."
"Ck, jangan terlalu membuka pendapatmu, karena itu tidaklah penting sekarang dan aku ingin kamu menjalankan tugasmu sesuai dengan apa yang kita rencanakan dan disepakati bersama." Tukas Mirza dengan tegas.
"Baiklah, aku akan melakukan tugasku."
"Ingat! Jangan menyakiti Suci sedikitpun, atau kamu akan aku bunuh!"
__ADS_1
"Aku tahu apa yang aku lakukan, tidak perlu mengancam."
****
Simon menjadi tidak tenang, dan bahkan dia tidak fokus dalam bekerja. Mengetahui jika ada seseorang yang mengawasi mereka, dan diyakini jika pria itu berniat buruk kepada Suci atau melati.
Simon terus memainkan pulpen dan segera menghubungi seseorang, melewati rapat itu untuk beberapa menit.
"Halo."
"Iya tuan, ada apa?"
"Aku ingin kamu mengawasi seseorang dan cari data dari pria itu."
"Baiklah, kapan terakhir kali tuan melihat pria itu."
"Tidak lama di saat kami pergi ke restoran tak jauh dari perusahaan Mitra Group, segera retas CCTV yang ada di sana dan cari identitas dari pria itu!"
"Baik, Tuan. Akan saya laksanakan!"
Selesai sambungan telepon, Simon memutuskan untuk kembali ke ruangan rapat menyelesaikan dan membahas mengenai proyek setelah penandatanganan selesai.
__ADS_1