
Pertemuan diadakan dengan pebisnis handal, Zufar sudah menyiapkan semua yang diperlukan di saat pertemuan dengan pemimpin dari perusahaan SA Group. "Apa persiapan untuk menyambut kedatangannya pemimpin SA Group sudah matang?" tanyanya yang cemas, takut jika klien nya tidak puas.
"Tuan tidak perlu khawatir, saya sudah mengecek ulang." Sahut Doni, sang asisten yang berada di sebelah atasannya.
"Bagus, buat pimpinan itu terkesan dengan penyambutan dari perusahaan Mitra Group."
"Pasti Tuan."
Zufar membenarkan dasi dan juga jas berwarna abu-abu yang melekat di tubuhnya, memperhatikan penampilan agar pimpinan itu terkesan dengannya.
"Itu rombongannya, Tuan." Celetuk asisten Doni yang datang menghampiri, menyambut mereka dengan sangat baik. "Selamat datang di Mitra Group, semoga kita bisa menjadi rekan yang baik dalam kerjasama ini." Ujarnya yang mengulas senyum sepersekian detik.
Pimpinan itu menganggukkan kepala, menerima untuk berjabat tangan dengan Zufar, dua pria yang sama-sama mempunyai kedudukan tinggi.
"Zufar Rasyid Habibi."
"Simon Albert."
Keduanya saling berjabat tangan dengan sorot mata penuh arti, mereka sama-sama mengulas senyum tipis. Pertemuan dari dua pimpinan yang sangat ditakuti oleh pesaing bisnis lainnya, Zufar yang terkenal akan ambisi dan kejam dalam dunia bisnis, tak pandang bulu jika ada yang menjadi musuh dan juga menghalangi jalannya. Sedangkan Simon, seorang mantan komandan militer Israel yang terkenal akan kegigihan bekerja, tak kenal takut pada apapun, bahkan tak mempercayai akan adanya tuhan.
Kedua pria yang sama-sama mempunyai sikap bengis membuat keadaan sekitar seakan di penuhi aura gelap.
"Aku pernah mendengar suaranya? Tapi dimana?" batin Zufar yang mencoba untuk mengingat, ditambah lagi dengan sorot mata elang pria yang berada di hadapannya.
"Eh, bukankah pria ini yang berebut mangga muda denganku? Jadi dia pimpinan perusahaan ini." Gumam Simon yang tidak tahu, jika pria itu adalah suami Suci, wanita yang menjadi cinta pertama saat berada di dalam pesawat.
__ADS_1
Asisten Doni segera memecah suasana dengan mempersilahkan kedua pimpinan itu masuk ke meja rapat, segera mendiskusikan mengenai kerjasama yang saling menguntungkan keduanya.
Sekretaris dari Zufar mulai menjelaskan apa saja tujuan dan visi misi mereka, memperkenalkan beberapa proyek pembangunan mereka yang nantinya akan di kelola oleh perusahaan dari Simon. Semua tampak serius, mereka mencermati setiap penjelasan.
Simon tersenyum tipis, dia sangat puas mengenai proyek pembangunan. Dia menganggukkan kepala, menopang pipi menggunakan tangannya. Mata yang terus ke depan, tanpa melewati satu kata.
Zufar melihat reaksi dari pria yang akan menjadi rekan bisnisnya, melirik sang asisten jika pekerjaan mereka akan membuahkan hasil. "Bagaimana? Apa anda tertarik untuk bergabung, dan bekerjasama?"
"Tentu, aku sangat tertarik. Keuntungan yang aku dapatkan membuatku menyetujuinya, sekarang kita menjadi rekan. Selamat untukmu," Simon mengulurkan tangannya, menerima kerjasama dan mencapai keuntungan.
"Selamat juga untukmu," sambut Zufar yang melemparkan senyum.
Simon melirik jam di tangannya. "Sebaiknya aku pergi."
"Mengapa terburu-buru? Kita bisa merayakan ini, seperti berpesta misalnya."Tawar Zufar.
"Hem, baiklah. Katakan saja waktu luangmu, dan kita akan merayakannya." Terlihat wajah sedikit kecewa dari Zufar, tapi dia tak mempermasalahkan hal itu.
"Tentu." Simon dan asistennya yang bernama Ben segera pergi dari perusahaan Mitra Group, mereka senang dengan kerja sama.
Baru saja Simon masuk ke dalam mobil, tiba-tiba ponselnya berdering. Tersenyum saat melihat siapa yang meneleponnya, tidak peduli jika dalam keadaan apapun, dia pasti mementingkan Rasidha.
"Iya, sayang."
"Apa ayah sibuk?"
__ADS_1
"Tidak, katakan ada apa?"
"Apa yang harus aku lakukan di rumah yang sangat besar ini sendirian?"
"Bermainlah bersama baby sitter sampai ayah kembali pulang."
"Ayah sudah dewasa tapi tak memahami perkataan anak seusia ku."
"Lalu?"
"Oh ayah…maksudku, kapan ayah membawa ibu Suci kesini dan mempertemukan kami."
Simon hanya terdiam, tak tahu harus alasan apa yang akan dia berikan. Semenjak Rasidha bisa berbicara, anak itu bersifat ceria, selalu menanyakan pertanyaan yang membingungkannya. Gadis kecil yang ternyata sangat pintar, dan menguasai ilmu bela diri dasar.
"Apa ayah sakit gigi? Ayo, jawablah!"
"Ayah sedang mengusahakannya, berdoa lah agar Rasidha bisa menemui ibu Suci."
"Hem, baiklah. Aku tutup teleponnya, assalamu'alaikum."
"Hem." Simon segera memutuskan sambungan telepon, karena dia tak pernah menjawab salam dari anak angkatnya yang beragama islam.
Asisten Ben mengetahui jika bosnya mempunyai masalah yang sedikit rumit. "Mau sampai kapan Tuan menutupi identitas itu? Bahkan sampai sekarang Rasidha tidak pernah melihat wajah Tuan yang asli."
"Aku tidak akan mengatakannya untuk saat ini, dan tak bisa menerima kebencian dari putriku sendiri. Jangan bahas ini lagi, lakukan saja pekerjaanmu!"
__ADS_1
"Baik, Tuan."