
Cukup puas memandangi anak-anak yang bermain dengan tawa senda gurau mereka, terdapat kebahagian tersendiri di hati. Seakan mereka itu adalah obat yang menenangkan jiwa di kala terasa sepi, senyum tulus yang sangat berarti.
"Aku baru di sini, dan belum bisa memahami anak-anak itu." Celetuk Suci yang terlihat sedih.
Melati tersenyum manis. "Tidak masalah, kamu memahami mereka juga memerlukan waktu untuk beradaptasi. Oh ya, apa kamu sudah menikah?" rasa yang sangat penasaran, tapi sedikit gugup untuk menanyakan.
Suci terdiam beberapa saat, karena tidak ingin menceritakan identitasnya pada orang lain yang dianggapnya privasi.
"Maaf, aku menanyakan hal pribadi padamu." Seolah Melati memahami rasa tak nyaman dari Suci, dia tidak bertanya lagi dan memilih diam. "Anak-anak sini!" panggilnya menggunakan bahasa Arab dengan fasih.
Semua anak-anak itu datang mengerubungi Melati, Suci melihat mereka dengan haru. Anak yang diperkirakan masih berusia tiga tahun sampai lima tahun. "Mereka sangat lucu dan sangat menggemaskan, tapi dunia malah merebut masa kecil yang seharusnya bersama dengan keluarga." Batinnya.
"Ibu mau mengenalkan kalian pada wanita cantik ini, namanya Ibu Suci."
Mereka tersenyum hangat dan menyambut relawan yang juga tersenyum pada mereka. Semua anak-anak berlari dan lanjut bermain, dan menyisakan seorang anak perempuan yang berusia lima tahun sedang mengamati wajah relawan baru. Suci berjongkok menyamakan tinggi, dia sangat tertarik dengan anak itu dan memeluknya erat. "Siapa namamu? Mengapa tidak bermain dengan mereka?" tanyanya yang membingkai wajah gadis kecil di hadapannya.
Tiba-tiba gadis kecil itu menangis dan kembali memeluk Suci dengan erat, tak membuka suara membuatnya sangat kebingungan. Melati melihat hal itu dan mengerti arti tatapan yang terlontar ke arahnya. "Namanya Rasidha, dia tidak berbicara semenjak dia diungsikan kesini. Sudah banyak relawan yang mencoba untuk mendekatkan diri, sepertinya dia mengalami trauma yang cukup dalam." Jelasnya.
Suci membelai kepala anak perempuan itu dengan penuh kasih sayang, seakan mereka berdua sangatlah akrab.
__ADS_1
"Oh ya, ini waktunya kita memandikan anak-anak. Di tempat mereka bermain, ada sumur yang di bangun oleh donatur dan kita akan membawa mereka kesana."
"Baik, tidak masalah. Aku akan membantumu!" ujar Suci santai, dia kembali menatap Rasidha lekat dan tersenyum. "Bermainlah dengan teman-temanmu, aku akan menyiapkan air untuk kalian."
Rasidha menggelengkan kepala, tidak membiarkan Suci untuk pergi kesana dan menimba air sumur. Melati tersenyum melihat relawan baru yang bisa mengakrabkan diri begitu cepat. "Temani saja dia, sepertinya Rasidha menyukaimu. Jarang ada relawan yang bisa mendekatinya, kamu orang kedua setelah tuan Zaid."
"Tuan Zaid? Siapa dia?"
"Pria yang menjadi donatur terbesar di sini, pria itu mengenakan sorban." Jelas Melati yang segera berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Suci melihat punggung wanita itu hingga terlihat menjauh, membawa gadis kecil untuk duduk di pangkuannya. "Kamu sangat menggemaskan, apa Rasidha menyukai permen?" tawarnya yang di anggukkan kepala oleh anak perempuan itu dengan sangat antusias.
"Ini kali pertama aku melihat Rasidha mau dekat dengan orang lain selain aku." Ucap seseorang yang membuat Suci menoleh ke belakang.
"Maaf?" Suci melihat seorang pria yang mengenakan sorban, wajahnya tertutup dan hanya menyisakan bagian matanya. Dia sedikit penasaran, dan teringat mengenai perkataan Melati. "Apa anda tuan Zaid?"
Pria itu tersenyum, terlihat di matanya yang berwarna biru. "Benar, aku Zaid dan siapa kamu?"
"Suci."
__ADS_1
"Indonesia?"
"Yah." Jawab Suci singkat, karena tak ingin terlalu dekat dengan pria asing, mengingat dirinya masih berstatus suami.
Zaid mengambil jarak dan memilih duduk berjarak dua meter, melihat kedekatan Rasidha dengan orang baru suatu peristiwa yang sangat menakjubkan baginya. "Aku tidak pernah melihatmu di sini."
Suci menundukkan pandangan, tak ingin menatap pria asing di hadapannya. "Aku relawan baru di sini," jawabnya sembari melihat anak kecil di pangkuannya dan tersenyum. "Rashida, ini waktunya mandi. Ayo!" ajaknya yang langsung disetujui. "Aku pamit," ucapnya tak ingin mengucapkan salam, dan berlalu pergi. Sebelum pergi, gadis kecil itu melambaikan tangan ke arah Zaid.
"Apa sudah selesai?" tanya Suci.
"Sudah, kita bisa memandikan mereka. Aku lihat tuan Zaid menghampirimu," lanjutnya penasaran.
"Dia ingin bertemu dengan Rasidha."
"Ya sudah, apa kita bisa memandikan mereka?"
"Tentu." Suci, Melati, dan beberapa relawan ikut serta dalam memandikan anak-anak yang terlantar di usia yang masih kecil.
Suci memandikan Rasidha yang begitu piawainya, membersihkan tubuh gadis kecil yang terlihat sangat kucel. Ada kebahagiaan tersendiri di hatinya, seakan bebannya berkurang, melakukan hal itu dengan sepenuh hati.
__ADS_1