
Betapa terkejutnya Suci, saat dia yang pernah diselamatkan dan pernah bertemu di rumah sakit, merupakan pemilik dari perusahaan besar. Siapa sangka, jika pria itu adalah orang yang sama. "Mengapa dunia ini terlihat sempit, ternyata dialah pemilik perusahaan SA Group," gumamnya yang masih saja tak percaya dengan mata yang melihat secara langsung pria itu berjalan menghampiri.
"Tenangkan pikiranmu, tarik nafas dan keluarkan dengan perlahan. Lakukan itu sebanyak tiga kali, untuk merealisasi pikiran agar tidak stres dalam menjalani pekerjaan pertamamu," bisik asisten Doni yang mengetahui jika wanita di sebelahnya terkejut dan juga gugup.
"Baiklah, akan aku coba, semoga saja berhasil!" dengan cepat Suci melakukan saran yang diberikan oleh asisten Doni. Ya, sedikit mengurangi beban di hatinya, dan kembali fokus dengan pertemuan perusahaan itu.
"Selamat datang ke perusahaan Mitra Group, semoga kerjasama yang kita jalin satu bulan lebih akan berjalan dengan lancar untuk kedepannya. Oh ya…perkenalkan, di sebelah saya adalah pimpinan baru yang bernama Nona Suci Az-Zahra, istri dari almarhum Zufar Rasyid Habibi. Wanita ini akan mengelola perusahaan dan tekanan tanggung jawab akan dipukul olehnya," ucap asisten Doni yang segera mengulurkan tangannya untuk bersalaman sebagai etika bentuk kerjasama.
"Mengapa dia menatapku begitu?" batin suci yang sedikit merasa risih, selalu saja menjadi korban dari pria bermata biru.
Asisten Doni segera melirik Suci yang di sebelahnya, memberikan isyarat agar wanita itu juga menyambut kedatangan dari pimpinan perusahaan SA Group.
__ADS_1
Suci yang mengerti akhir pun menyatukan kedua tangannya, dan meletakkannya di depan dada. Berharap jika pria itu tidak tersinggung, karena tak bersentuhan dan berjabat tangan secara langsung. Simon mengikuti cara bersalaman tanpa sentuhan, dia tersenyum dan menganggukkan kepala sebagai penghormatan.
"Kita bertemu lagi di sini, semoga perusahaan kita bisa bekerja sama lebih baik lagi, dan aku turut berduka cita mengenai almarhum dari tuan Zufar."
"Semoga saja," sahut suci yang singkat karena tak ingin berbuat kesalahan.
Asisten Doni segera mengarahkan beberapa orang dari perusahaan SA Group untuk masuk ke dalam ruang rapat, saling mengobrol mengenai sesama asisten. Sementara Suci berjalan berdampingan dengan Simon, tentu saja dengan menjaga jarak, tanpa dia sadari jika pria di sebelahnya tersenyum tipis.
Dia sudah terbiasa dengan cara bersalaman dari wanita muslimah yang ada di depannya, dan hal itu tidak mungkin menyinggung perasaannya, melainkan semakin kagum dengan Suci yang menjaga martabat dan marwahnya sebagai seorang wanita. Hal itu tak luput dari pandangan asisten Ben, dia terus melirik tuannya yang diam-diam mencuri pandang pada pemilik perusahaan Mitra group yang baru seperti menyelidiki sesuatu.
"Ada hubungan apa mereka, hingga tuan Simon selalu saja mencuri pandang?" gumamnya di dalam hati, dan berniat untuk menanyakan setelah pertemuan dua perusahaan itu selesai.
__ADS_1
Di dalam rapat pertemuan, asisten Doni dan juga sekretaris saling mendukung satu sama lain, dalam menjelaskan detail perencanaan proyek selanjutnya yang akan mereka adakan. Suci sedikit gugup karena tidak terlalu memahami proyek yang sedang mereka kerjakan, hanya bisa terdiam dan memperhatikan apa yang disampaikan oleh orang dalam rapat.
Simon yang masih melirik wanita berhijab yang tengah gelisah, dia tahu jika Suci tidak memahami mengenai isi rapat, dan dia segera menyudahi rapat itu. Tersenyum saat wanita muslimah itu mengenal nafas dengan raut wajah yang begitu menggemaskan.
"astaga…melihat raut wajahnya yang begitu menggemaskan, sepertinya aku tidak bisa tidur malam," ungkapnya di dalam hati.
"Tuan, mengapa anda menyelesaikan rapat yang bahkan belum setengah berjalan? Bagaimana jika ada kesalahan dalam proyek itu?" asisten Ben mencoba untuk memperingati sang bos yang tidak menghiraukan ucapannya. "apa Tuan tidak mendengarku?" ucapnya yang masih berbisik sembari memperhatikan arah pandangan Simon yang tertuju kepada Suci.
"Heh, aku pikir tuanku ini gay. Ternyata dia sedikit normal," batin asisten band menahan tawa dan segera berlalu pergi meninggalkan ruangan rapat.
Di ruangan itu tinggallah Suci dan juga Simon, di saat wanita muslimah itu ingin pergi tiba-tiba namanya dipanggil oleh pemilik perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan miliknya. "Iya, ada apa?" sahutnya yang segera menoleh.
__ADS_1
Simon sudah menahan dirinya, tetapi dia tidak bisa hanya dengan diam-diam melirik mata saja. Dia berjalan menghampiri Suci, dan mencari alasan agar mereka saling berinteraksi.