
Mau tak mau Siska mengangkat telepon, di seberang sana seseorang tengah bersenang-senang dengan minuman alkohol di tangan, meneguknya dalam gelas kecil dan tersenyum senang.
"Halo Baby."
"Ada apa? Sudah aku bilang untuk tidak menelpon ku!"
"Tenanglah, jangan marah-marah atau kecantikanmu akan berkurang."
"Cepat katakan, apa tujuanmu? Aku tidak punya banyak waktu mengurus pria brengsek sepertimu."
"Kenapa kamu tergesa-gesa, aku ingin kita bertemu."
"Bicarakan saja lewat telpon!"
"Tidak, cepat datang ke sini atau aku yang akan datang kesana!"
"Berani sekali kamu mengancamku!"
"Kenapa tidak?"
Siska memutuskan sambungan telepon dengan sepihak, melempar benda pipih itu ke sembarang arah, karena kesal jika dirinya selalu saja dalam genggaman pria itu. Pria yang selama ini membuatnya berhasil menjadi istri dari Zufar. "Sial! Pria brengsek itu, selalu saja mengambil keuntungan dari ketidakberdayaan ku."
__ADS_1
Mau tak mau Siska bersiap-siap untuk menemui pria itu, kembali memasang silikon perut agar dirinya terlihat sedang mengandung. Melangkahkan kakinya keluar dari kamar menuju keluar rumah setelah memesan taksi online terlebih dulu.
"Mau kemana kamu?" tanya Tini dengan penuh selidik.
"Ada urusan di luar, Ma."
"Urusan apa?"
Siska berdecak kesal, mengingat dirinya di hadang oleh sang mertua. "Itu urusanku, bukan urusan Mama." Jawabnya sambil menyelonong melewati wanita paruh baya itu, tidak ada rasa sopan santunnya pada orang yang menghalangi jalannya.
"Dari mana Zufar mendapatkan wanita seperti Siska?" Keluh Tini seraya perlalu pergi menuju taman di samping rumah.
"Untung mas Zufar berangkat ke kantor, aku harus segera pergi atau pria brengsek itu menemuiku dan merusak semua rencana yang sudah disusun dengan sangat baik." Gumamnya seraya masuk ke dalam taksi yang sudah dipesan. "Jalan, Pak!"
"Semoga saja dia bisa diatasi," monolognya seraya membuka pintu, terlihat seorang pria yang duduk santai di sofa sambil meneguk alkohol. Melajukan langkahnya yang tergesa-gesa menghampiri pria itu, melemparkan seikat uang berwarna merah. "Itu untukmu!" ketusnya.
Pria itu tersenyum, meletakkan gelas kecil di tangannya dan segera mengambil uang, mengipas-ngipasi kertas merah itu. "Nah, ini jauh lebih baik."
"Jangan mengusikku lagi, apa kamu mengerti!"
Pria itu mendongakkan kepala, tersenyum melihat ekspresi dari Siska yang tampak menggemaskan, melirik perut yang membuncit. "Kamu masih bersandiwara di depan mereka? Mataku sakit melihatnya, lepaskan perut silikonmu!"
__ADS_1
Siska mendesis kesal, segera melepaskan silikon yang selama ini dia gunakan. "Kamu sudah mendapatkan uangmu, jangan minta lagi karena itu uang terakhir."
"Tidak ada kata uang terakhir, jasaku cukup banyak dibandingkan dengan uang yang kamu berikan padaku. Kenapa kamu repot-repot menjadi istri kedua orang kaya itu, lebih baik menikah denganku saja."
"Ck, menikah denganmu? Bahkan kamu tidak punya gambaran masa depan, aku tidak ingin hidup melarat denganmu."
"Hah, terserah padamu. Dasar wanita licik, kamu menggunakan segala cara untuk menghancurkan rumah tangga Zufar. Mengapa kamu berambisi sekali? Aku sangat yakin, jika bukan karena harta saja. Apa yang kau sembunyikan dariku?" Pria itu menghampiri Siska dan memeluknya dengan erat, sangat merindukan belaian dari sang kekasih.
"Hanya itu saja, apa kamu masih mencurigaiku?"
"Semenjak kamu menjadi istri Zufar, sekarang kamu malah melupakan aku yang notabene adalah kekasihmu." Rajuk pria itu sembari meraba-raba bagian sensitif dari Siska.
Siska segera menjauh, karena tak ingin melakukan hal itu sekarang. Ambisinya terlalu dalam dan tidak akan ada orang yang bisa menghalangi jalannya. "Tidak hari ini, kita sudah melangkah jauh. Rencanaku akan berjalan mulus saat Zufar mentalak Suci, di saat itulah kita bisa berpesta." Tolaknya.
Pria itu mengepalkan kedua tangannya, dua sorot mata yang penuh kemarahan jika tak mendapatkan keinginannya. Perasaan menggebu-gebu karena hasrat menyelimuti pikirannya, menghamburkan pelukan dan mengecup leher jenjang.
Siska memberontak dan melepaskan diri dari pelukan pria itu. "Aku sudah menolakmu, aku tidak suka ada yang memaksaku!" bentaknya yang menunjukkan jari tepat di hadapan pria itu.
"Kamu tidak ingin melayani kekasihmu sendiri? Dan malah melayani pria lain? Dasar wanita jal*ng!" bentak pria itu sebari menampar pipi mulus Siska dengan kasar.
"ANTON!" pekik Siska yang menatap pria itu dengan tajam.
__ADS_1
Anton tersenyum miring, mendorong tubuh Siska hingga terjatuh di atas tempat tidur. Segera membuka pakaiannya ingin melampiaskan hasrat yang sudah lama dipendam. Kemarahan akibat mendapat penolakan, membuatnya bermain dengan kasar. Sedangkan wanita itu tak bisa melarikan diri, hanya pasrah saat tubuhnya dijamah sang kekasih.