
Pria itu hanya berdiam diri di sebuah menara, bisa melihat dari kejauhan memanglah menyenangkan. Tapi perkataan sang sahabat membuatnya kembali berpikir, mengenai pekerjaan dan juga agama yang bertolak belakang. "Suci memang sangat berbeda, dia wanita unik. Hanya saja, dia sudah bersuami." Gumam pria itu yang tak lain adalah komandan Simon, pria yang selalu menutupi wajahnya dengan sorban.
"Jadi namanya Suci? Sepertinya dia orang asia, Indonesia, Brunei, atau Malaysia?" celetuk Felix sambil mengamati keadaan sekitar.
"Indonesia."
"Mengapa kamu menyukainya?"
"Entahlah, aku menyukainya saat dia menangis dan tersenyum setelah sedih. Menurutku dia wanita yang sangat unik dan menarik, selalu menjaga jarak jika berdekatan dengan pria asing sepertiku." Jelas Simon.
"Heh, kamu terlambat kawan. Dia sudah bersuami, lupakan rasa ketertarikanmu."
"Ya, semoga saja aku bisa melupakannya. Perintahkan pada para bawahan agar tidak menyerang tempat itu," titah Simon.
"Ya…ya, baiklah. Mau sampai kapan kamu menjadi donasi? Jangan bersikap baik jika masih membunuh keluarga anak-anak Palestina," cibir Felix.
"Aku sudah muak membunuh, karena peperangan ini membuat anak-anak kehilangan keluarganya. Aku pernah menceritakan padamu mengenai Rasidha," ucap Simon dengan antusias.
"Ya, lalu?"
"Aku yang membunuh kedua orang tuanya dengan kejam, bahkan gadis baru menginjak lima tahun melihat kejadian itu dan juga wajahku." Terang Simon atau Zaid ketika menyamar.
"Itu sudah menjadi perintah."
"Aku sudah tak sanggup menjadi abdi negara," tukas Simon menghela nafas.
__ADS_1
"Kamu ingin meninggalkan jabatanmu itu? Apa kamu sudah gila?"
"Aku hanya ingin menjadi orang biasa, menjadi abdi negara sungguh melelahkan pikiran dan juga batinku."
"Wah…wah, ada udang di sebalik gajah. Kenapa baru sekarang otakmu berpikir dengan hati nurani?" goda Felix yang tertawa renyah, kali pertama melihat sahabatnya penuh kebimbangan.
Simon sangat kesal hingga memukul kepala sahabatnya dengan keras, untung saja kepala plontos itu ditutupi helm keselamatan saat berperang. "Akhir-akhir ini kamu mulai cerewet ya, persis seperti wanita."
"Itulah aku!"
"Sepertinya aku harus mengundurkan diri menjadi komandan pasukan militer," Simon sudah tak bisa melihat begitu banyak korban yang berjatuhan setiap harinya, mengambil keputusan setelah memikirkannya.
"Astaga…kamu mengatakan itu lagi, kamu dulu sangat menggebu-gebu saat terpilih menjadi abdi negara, tapi sekarang malah sebaliknya."
"Bagaimana denganku? Tidak akan mudah untuk mengundurkan diri, jangan memikirkan itu lagi. Aku rasa ini dari wanita asia itu yang mempengaruhi otakmu," kesal Felix.
"Aku akan memulai kehidupan baru ku dan membawa Rasidha pergi, kamu tidak akan bisa berpikir luas jika terus berada di situasi seperti ini."
"Aku bukan pria bodoh sepertimu, pencapaianku selama ini tak akan aku sia-siakan." Felix pergi meninggalkan tempat itu, meninggalkan Simon yang sudah memikirkan langkah berikutnya.
"Suci sudah bersuami, semoga aku bisa melupakannya."
****
Membuka pintu dengan keras, segera berlari masuk ke dalam bangsal tempat Siska dirawat. Zufar melihat jika wanita itu baik-baik saja, tapi sangat mencemaskan bayi yang ada di dalam kandungan istri keduanya. Dia menghampiri dokter yang masih berada di ruangan, bisa terlihat betapa dia mengkhawatirkan anak yang belum lahir itu. "Bagaimana keadaan calon anakku, Dok?"
__ADS_1
"Alhamdulillah bayinya sehat dan juga aktif, tidak ada masalah serius yang perlu dikhawatirkan."
"Apa Dokter telah memeriksanya dengan benar?"
"Sudah, saya pamit dulu."
Kedua orang itu menatap kepergian sang Dokter, Zufar segera menoleh menatap wajah istri keduanya yang tampak baik-baik saja.
"Mas, aku tidak percaya kamu pulang!" seru Siska tersenyum bahagia, rencananya berhasil membuat pria itu pulang dengan tangan kosong. "Oh ya, dimana mba Suci?" tanyanya yang celingukan.
Plak
Suara tamparan yang menggema di telinga, mendarat mulus tepat di pipi kiri Siska yang sangat terkejut dengan serangan mendadak. "Mas, apa kesalahanku kali ini?" tanyanya yang protes.
Plak
Tamparan kedua juga melayang, mengenai pipi mulus sebelah kanan. "Itu hadiah ku dari Palestina, kamu membuatku begitu khawatir dan mencemaskan keadaan calon bayi yang belum lahir."
"A-aku tidak mengerti!" Siska sangat gugup, tubuh gemetaran saat melihat tatapan suaminya yang kembali bersikap kekerasan.
"Suci menelponku, tapi kamu malah menghapus riwayat panggilan terakhir dan juga tidak mengatakan padaku. Kedua, karena kamu sangat ceroboh, padahal lantai di rumah tidak licin. Ketiga, kamu melakukan itu hanya ingin menarikku saja."
Siska terdiam, sedikit terkejut jika sang suami mengetahui niatnya. "Maaf!"
Zufar sangat kesal, apalagi bayi yang berada dalam kandungan dijadikan senjata oleh istri keduanya. Tak tahan, dia mencengkram dagu Siska dengan sangat erat. "Jika bukan karena anak itu, kamu sudah aku usir dari rumah. Hanya menunggu tiga bulan lagi, kamu akan aku campakkan!"
__ADS_1