
Seorang wanita berhijab cream tengah menunggu kedatangan seseorang dari
bandara, menunggu hampir setengah jam. Tapi tak melihat batang hidung dari orang yang ditunggu dari tadi. "Dimana Melati sekarang? Dia tidak terlihat di manapun, aku sudah menunggunya dari tadi." Gumamnya seraya melirik jam yang melingkar di tangan. Celingukan mencari seseorang yang belum kunjung tiba, hal itu membuatnya mendengus kesal.
"Sepertinya kamu sedang menunggu seseorang?" ucap seseorang yang membuat Suci segera menoleh, kedua pupil matanya membesar di saat melihat kehadiran Melati yang ternyata ada di belakangnya, mengawasi dan membiarkan dia menunggu terlalu lama.
"Kamu mengerjaiku? Sudah setengah jam aku menunggu, tapi kamu tidak terlihat." Suci segera memeluk sahabatnya dengan erat, merindukan wanita yang menemaninya selama di Palestina.
"Sebenarnya aku sudah sampai lebih awal,, hanya ingin membuat kejutan dan melihat reaksimu yang terlihat jelek." Melati membalas pelukan dari sahabatnya dan melepaskannya setelah beberapa detik, keduanya tersenyum dan saling melepas rindu.
Suci menggelengkan kepalanya yang merasa telah dikerjai oleh sahabatnya sendiri, namun hal itu tidak berarti apa-apa di saat mereka sudah bertemu. "Ya, sudah. Ayo kita ke rumahku!" ajaknya yang segera menarik tangan Melati.
"Tunggu dulu, aku tidak bisa menginap di tempatmu." Tolak Melati yang tahu jika sahabatnya baru saja kehilangan sosok suami dan tak ingin menjadi beban.
"Kamu tenang saja, ada aku dan juga ibu mertuaku di sana. Rumah sebesar itu membuat kami kesepian, dengan begini kamu tidak perlu membayar uang sewa hanya cukup menemaniku saja!"
"Semacam bayangan?" tebak Melati.
__ADS_1
"Tidak, bukan itu. Sebaiknya kamu tinggal di tempatku saja, dan menghemat biaya. Hitung-hitung kamu hanya mengumpulkan uang untuk kebutuhanmu saja." Jelas Suci yang mencoba memberi pengertian pada wanita yang berkerudung sebatas pinggang.
"Hem, tawaran yang menarik. Baiklah, aku akan tinggal di rumahmu, tapi tidak akan lama setelah aku menerima gaji pertamaku."
Suci menganggukkan kepala, dan menarik tangan sahabatnya membantu menyeret koper besar menuju mobil yang sudah dari tadi terparkir. Di dalam perjalanan, keduanya saling bercengkrama menghabiskan waktu, mengenai kenangan masa di Palestina.
"Maafkan aku yang baru tahu mengenai kondisimu sekarang, aku turut prihatin dengan apa yang menimpa. Jadilah wanita kuat dan juga berpendirian. Aku sangat yakin, jika kamu pasti melewati segalanya dengan penuh semangat," Melati memegang kedua tangan Suci dengan erat, seakan memberikan kekuatan untuk keadaan yang memaksa.
"Tidak apa-apa, aku sudah mengikhlaskan kepergian dari suamiku. Tapi, mengapa kamu tiba-tiba kembali ke Indonesia? Apa ada hal yang mendesak atau seseorang tengah menekan mu?" ujar Suci dengan mata yang menyelidik.
Seketika Melati terdiam, berusaha mengontrol emosinya yang ada di dalam hati dengan menghela nafas dengan panjang. "Mantan ibu mertuaku kembali mengacaukan kehidupanku yang sudah tenang di Palestina, dan aku harus menyelesaikan permasalahan itu secepat mungkin."
Beberapa saat kemudian, mobil berhenti di halaman kediaman milik Suci, mereka segera turun dan masuk ke dalam. "Ini rumahku, akan aku tunjukkan di mana kamarnya. Mari, aku akan perlihatkannya!"
Melati melihat ruangan yang akan dia tempati begitu besar dan juga mewah, membuatnya merasa segan dan tak enak hati untuk tinggal secara gratis di sana. Ternyata sahabatnya merupakan orang kaya, berbeda darinya yang hanyalah orang dari kalangan miskin. "Apa aku boleh mengatakan sesuatu?"
"Ya katakan saja." Sahut Suci yang dengan antusias.
__ADS_1
"Bukannya aku tidak menerima apa yang kamu berikan, tapi kamar besar ini membuat aku merasa tidak layak. Berikan saja kamar yang kecil seperti di yayasan Palestina, agar aku tidak terbebani." Jelasnya yang berusaha untuk tidak menyinggung perasaan sahabatnya.
Suci tersenyum, dia mengerti dengan kesederhanaan yang dimiliki oleh sahabatnya. "Tidak ada kamar lain lagi, tinggallah di sini. Kamu bisa membantuku di toko, dan anggaplah ini sebagai kontrakan."
"Baiklah, jika kamu memaksa. Kapan kita bisa ke toko? Aku sudah tidak sabar untuk bekerja!"
"Kamu baru saja sampai dari Palestina, dan mengatakan untuk bekerja? Kamu bukan TKW. Besok pagi kita mulai bekerja, dan aku akan membantumu dua atau tiga hari ke depan."
"Memangnya kamu mau ke mana?"
"Aku akan fokus ke kantor milik suamiku, sudah semestinya aku mengelola nya dengan sangat baik sesuai amanat. Mengenai toko roti aku serahkan kepadamu, dan sesekali aku akan mengeceknya." Jelas suci.
"Baiklah, aku setuju."
"Hem, aku tinggal dulu. Silahkan beristirahat!" kata suci yang segera berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Melati tersenyum dan menganggukkan kepala, sangat bersyukur mempunyai sahabat seperti Suci yang tidak membeda-bedakan kasta, dan tidak malu mempunyai teman seperti dirinya. "Aku sangat beruntung mempunyai sahabat sepertinya, dan aku berjanji tidak akan mengecewakan sahabatku itu."
__ADS_1