
Suci berpikir jika dirinya akan tiada di hari ini, sengaja memejamkan mata agar tidak bisa menerima kematiannya yang sebentar lagi. Pria itu tertawa di saat melihat wajah tenang dari wanita yang mengenakan hijab, dengan perlahan dia menembak dan membuat waktu seakan terhenti.
Namun, tidak mendengar suara peluru yang keluar dari pistol. Membuat Suci kembali membuka kedua matanya dan melihat keadaan sekitar, ternyata pria itu tidak menembaknya menimbulkan keanehan.
"Kau tertipu," ucap pria itu yang memainkan pistol tanpa peluru, dia tertawa terbahak-bahak melihat tekad dari wanita muslimah yang tak gentar dalam mempertahankan marwah nya sebagai seorang wanita. Segera dia mengeluarkan satu timah dari sakunya dan memasukkan ke dalam pistol yang kosong, seakan menjadikan Suci sebagai mainan.
"Nah, ini baru asli. Bagaimana kita bermain-main dengan ini, siapa yang beruntung dan tidak. Taruhannya adalah nyawa."
"Aku tidak ingin bermain-main dengan nyawa, untuk apa melakukan hal ini. Apa salahku padamu? Aku rasa kita tidak saling mengenal."
Pria itu segera menurunkan pistol dan menganggukkan kepala, tertarik dengan pertanyaan dari wanita yang menutupi kepalanya. "Itu benar, kita baru bertemu hati ini. Tapi aku mendengar mengenaimu beberapa bulan yang lalu," ungkapnya..
"Aku tidak mengerti, dimana kamu melihat atau menemuiku? Dendam apa yang membuatmu ingin menghabisiku?"
"Karena ulahmu, sahabatku berubah. Apa kehebatan dirimu yang menaklukkan sahabatku dengan begitu mudah? Pria itu sudah sangat lembek dan juga lemah, berlaku baik dan meninggalkan aku. Seakan kami baru saja mengenal," jelas Felix yang menceritakan uneg-uneg yang ada di hati, kejanggalan yang harus dia selesaikan.
__ADS_1
Sementara Suci semakin tak mengerti, menautkan kedua alisnya dengan tatapan bingung. "Sepertinya kamu salah orang," jawabnya yang menggelengkan kepala.
"Ck, jangan berpura-pura lugu." Bentak Felix dengan tatapan tajam.
"Aku tidak tahu, demi Allah!"
"Pria yang kamu temui di Palestina, awalnya aku bahagia jika dia berubah kearah yang lebih baik. Tapi persahabatan kami rusak akibat kehadiranmu!"
"Sungguh, aku tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan. Jelaskan mengenai pria yang aku temui di Palestina? Karena pada saat itu, aku hanya mengenal tuan Zaid saja. Mungkin kamu keliru dan menangkap orang yang salah, aku bukanlah targetmu."
"Stop, jangan mencoba untuk membela dirimu lagi. Pria bersorban bermata biru itu adalah sahabatku, komandan tentara Israel."
Seketika Suci sangat terkejut dan juga shock, mengetahui kebenaran mengenai pria yang selalu menutupi wajahnya dengan sorban. Kembali mengingat kenangan di saat beberapa tentara yang masuk ke dalam yayasan, di saat itu pula dia menjadi tak tenang. "Ko-komandan ten-tentara Israel?" dua sangat gugup, tiba-tiba tangannya berkeringat dingin. Rasa kekhawatiran yang begitu mendalam, mengingatkannya akan kekejaman dari tentara Israel dan salah satunya berada di hadapan mata.
Felix tersenyum di melihat wajah ketakutan dari wanita yang hanya dianggapnya sebuah kelemahan seorang pria, bahkan dia tidak ingin mengancam menggunakan pistol. "Jangan berpura-pura untuk tidak tahu hal ini, pria yang mendekatimu adalah komandan militer Israel Simon Albert." Ungkapnya yang semakin membuat Suci terkejut.
__ADS_1
"Si-Simon Albert?"
"Ya, pemilik perusahaan SA Group." Akhirnya Felix mengungkap jati diri dan identitas asli dari sahabatnya, dia ingin jika wanita di belakangnya membenci Simon dan persahabatannya kembali.
Seakan waktu terhenti dengan cepat, wajah yang pucat pasi di saat mengetahui identitas asli dari pria bermata biru. Tiba-tiba dia mengingat, jika Rasidha berada bersama dengan pria itu. Dia takut, jika komandan Israel yang dikenal kejam dan juga bengis membunuh anak angkatnya.
"Rasidha…Rasidha," teriak Suci yang sangat ketakutan, dia sangat mencemaskan anak kecil yang berusia lima tahun. Segera keluar dari mobil dan mencari seperti orang yang dikendalikan alam bawah sadar.
Felix segera menyusul dan membekap wajah Suci menggunakan kain, membuat wanita itu pingsan dan kembali memasukkannya ke dalam mobil. "Demi persahabatanku dengan Simon," gumamnya yang ingin menutup pintu, tapi terlambat di saat seseorang menghalangi langkahnya. Dia segera menoleh, melihat siapa yang menghalanginya.
"Mengapa kamu melakukan ini padanya?"
"Kamu bertanya setelah terjadi seperti ini? Minggir, aku akan menyingkirkan wanita yang membuatmu menjauh dariku." Felix mencoba untuk menutup pintu, tapi tak bisa karena Simon lebih dulu menahannya.
Simon tahu akan lokasi Suci yang diculik oleh sahabatnya lewat mata-mata yang dikirimkan olehnya. Sungguh, dirinya sangat terkejut saat tahu siapa pelakunya yang tak lain adalah Felix. "Lepaskan dia, aku tidak akan mengulangi kata-kata ku."
__ADS_1
"Heh, tidak akan. Aku akan membunuhnya, agar aku mendapatkan sahabatku kembali."
Simon tak punya pilihan lain dan memukul wajah Felix dengan keras, keduanya saling bertarung meluapkan emosi masing-masing.