
Suci sangat terkejut, mengingat dirinya yang harus menggantikan posisi sang suami untuk menjalankan perusahaan yang sudah dikelola dengan sangat baik. Dirinya bahkan tidak tahu, bagaimana menjalankan perusahaan dan tiba-tiba diangkat menjadi bos besar. "Itu ide yang sangat buruk, aku bahkan tidak mengerti urusan kantor, dan juga yang bersangkut paut dengan itu. Sebaiknya kamu saja yang mengurus perusahaan, dan aku mempercayaimu." Dia memberikan kesempatan untuk asisten Doni dalam mengembangkan perusahaan.
"Aku tidak bisa mengabaikan amanat yang diberikan oleh almarhum tuan Zufar, itu akan menjauh dari prinsip yang sudah aku tanam sejak lama. Mengenai urusan kantor, aku akan mengajarimu dengan perlahan, tidak ada yang perlu dipikirkan lagi. Ini sudah menjadi pasien yang harus dijalani."
"Kamu memang benar, tapi aku tidak bisa menjalankan itu dan memegang tanggung jawab yang besar. Apalagi sekarang toko rotiku juga butuh perhatian."
"Permasalahan itu, aku akan memberikan waktu dalam dua hari. Ini karena kita tidak mempunyai banyak waktu, dan harus menyelesaikan proyek kerjasama dengan perusahaan SSA Group."
Suci menelan saliva yang terasa tersangkut di tenggorokan, dia tidak bisa memikul tanggung jawab yang begitu besar dalam satu waktu. Bagaimana dengan toko rotinya yang sudah berjalan lancar, tidak mungkin dia meninggalkannya begitu saja. "Baiklah, aku akan memikirkan ini selama dua hari."
Asisten Doni tersenyum dan menganggukkan kepala, mengerti jika wanita berhijab itu mengalami kegelisahan. "Aku mengerti, sebaiknya aku pergi dari sini!" ucapnya yang segera berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Suci mengusap wajahnya dengan kasar, begitu banyak tanggung jawab yang harus dipikul sendiri. Tiba-tiba terbesit di pikirannya untuk menghubungi Melati, teman yang menjadi relawan di Palestina. Dengan cepat, dia meraih ponsel yang ada di sakunya, dan mencari nomor kontak yang dituju hingga tersenyum saat telepon itu tersambung.
"Halo, assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam, tumben kamu meneleponku? Bagaimana kabarmu?"
"Alhamdulillah, aku sangat baik, dan kamu?"
"Aku juga baik, kebetulan kamu meneleponku hari ini."
__ADS_1
"Memangnya apa yang terjadi, dan sepertinya aku orang yang beruntung meneleponmu."
"Aku sedang berkemas untuk kembali ke Indonesia, aku sangat merindukan negaraku. Sudah lama aku berada di Palestina, dan akan segera pulang!"
"Suatu kebetulan yang sangat pas."
"Apa? Aku tidak mengerti."
"Bagaimana dengan rencana hidupmu kedepannya?"
"Entahlah, mungkin aku akan mencari pekerjaan baru di sana, dan memulai awal hidup yang baru."
"Bagaimana jika kamu bekerja di toko roti milikku? Soalnya, aku tidak bisa menangani semua pekerjaan seorang diri."
"Telepon aku jika kamu sudah sampai di bandara, aku akan menjemputmu."
"Pasti."
Setelah sambungan telepon terputus, Suci bisa menghilangkan nafas dengan lega. Mendapat karyawan dadakan yang hanya kebetulan semata, kini dirinya yakin mengenai amanat sang suami untuk menjaga harta dengan baik dan juga mengelolanya.
****
__ADS_1
Selama satu bulan Rasidha dan juga Simon tidak melihat keberadaan Suci, mereka sibuk dengan urusan masing-masing. "Ayah, kita sudah lama tidak mengunjungi ibu Suci di toko roti."
Zaid alias Simon menundukkan wajahnya menatap putri tercinta yang sudah rapi mengenakan pakaian sekolah. "Benar, Ayah begitu sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk, dan juga tuan putri harus sekolah di taman kanak-kanak."
"Bagaimana jika kita mengunjungi ibu Suci? Aku sangat merindukan ibu angkatku, jika Ayah sibuk biarkan aku yang akan menghampirinya di toko."
"Eh, Rasidha masih kecil dan tidak boleh pergi sendirian sangat berbahaya."
"Ayah tidak perlu khawatir, aku pergi bersama dengan nani."
"Nani siapa?" Ziad mengerutkan keningnya, karena tidak mengingat nama orang-orang yang bekerja di kediamannya, terutama sang pengasuh yang sudah menemani putrinya.
"Nani Nadia, mengapa Ayah begitu cepat melupakan nama pengasuhku itu?" Rasidha menepuk dahinya dengan pelan, mengingat ayah angkatnya yang pelupa dengan nama karyawan atau bawahan sendiri.
Sementara Zaid cengengesan dan penggaruk tengkuk leher yang tidak gatal, walaupun dia perfeksionis dalam bekerja kekurangannya tidak bisa mengingat nama orang yang bekerja dengannya. "Maaf, Ayah melupakannya."
Tiba-tiba raut wajah gadis kecil itu murung, membuat Zaid bingung, karena tidak tahu penyebabnya. "Ada apa? Mengapa Rasidha murung?"
"Karena Ayah mengepang rambutku dengan sangat jelek."
Dengan cepat Zaid membandingkan kepangan kiri dan kanan yang tidak beraturan. "Ayah tidak mempunyai keahlian dalam mengepang rambut, tapi tenang saja Ayah akan kembali mengepang ulang."
__ADS_1
"Bisa-bisa aku terlambat pergi ke taman kanak-kanak, sebaiknya Ayah pergi berangkat ke kantor dan aku akan meminta bantuan saja kepada Nani." Rasidha berlari menuju keluar kamar, memanggil sang pengasuh untuk mengepang ulang rambutnya.
"Mengepang rambut bukanlah keahlianku, kecuali jika dia memintaku untuk mengajarinya bersenjata dan juga bela diri. Pasti aku berdiri paling depan antrian," racau nya yang tersenyum lebar, tingkah dari Rasidha sangatlah menggemaskan di matanya.