Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 87 - Kebenaran


__ADS_3

Keduanya saling memukul dan menyerang satu sama lain, mereka bertarung tanpa henti. Mengungkapkan perasaan masing-masing yang sangat terluka terutama Felix, yang sudah kehilangan sahabatnya sendiri akibat seorang wanita muslimah dari Indonesia. 


Simon kembali memukul wajah Felix hingga meninggalkan bekas, terlihat darah segar yang keluar dari salah satu sudut bibir. 


Felix tidak terima jika bibirnya terluka, dan mengusapnya menggunakan ibu jari. Menatap sahabatnya yang sudah menyerangnya kali pertama, mereka saling memukul satu sama lain karena biasanya mereka tidak memiliki masalah apapun. Tapi sekarang tampak berbeda, hanya karena seorang wanita yang baru hadir dalam kehidupan pria bermata biru.


"Kamu menakuti Suci dan juga membuatnya pingsan, apa kesalahannya dalam urusan kita ini? Apa kamu tidak bisa menyelesaikan ini secara baik-baik?" ungkap Simon ya sudah tak tahan lagi dengan tingkah sang sahabat yang seenak hati menculik wanita pujaannya.


Felix tersenyum miris, karena perubahan dari sahabatnya yang begitu cepat. Bahkan pertemanan mereka yang selama bertahun-tahun tidak ada artinya, dia berjalan ke arah pria yang berbadan kekar itu, dan melayangkan pukulan karena merasa sakit hati. "Kamu lebih memilih wanita yang baru kamu kenal beberapa bulan saja, dan melupakan persahabatan kita yang terjalin belasan tahun. Mengapa kamu melakukan ini padaku, perubahanmu di sebabkan oleh wanita muslim itu." 

__ADS_1


Simon segera menikah, sudut bibir yang terluka menatap Felix. Dia bahkan meragukan persahabatan mereka, padahal dirinya hanya berubah ke arah yang lebih baik lagi. "Aku tidak mengenalmu, siapa kamu sebenarnya? Felix yang aku kenal tidak akan melakukan hal ini padaku, dan selalu mendukung keputusanku. Apa kesalahanku jika berubah ke arah yang lebih baik, aku tidak ingin hidup dalam kebencian dan kemarahan, aku hanya menginginkan kehidupan yang normal." Ungkapnya dengan tulus, dia tak bisa jika kehilangan sahabat yang selama ini menemaninya, bahkan di dalam keadaan susah dan juga senang.


"Aku yang tidak mengenalmu semenjak kedatangan wanita itu, kamu berubah dan akan menjauhiku."


"Hentikan Felix! Aku sudah muak dengan dengan sikapmu yang kekanak-kanakan, apa salahnya aku ingin hidup normal dan mempunyai keluarga kecil yang bahagia. Jangan hanya menghakimi ku dan mengatakan aku salah. Jika kamu jatuh cinta? Bukan hanya aku, bahkan kamu berubah seperti apa yang aku lakukan agar dirimu layak bersama."


"Dangan berbohong kepadanya, kamu bahkan tidak memberitahu identitas mu yang asli. Tapi kamu tenang saja, aku sudah menyelesaikannya dan telah mengatakan semua kebenaran kepadanya."


Felix hanya tersenyum miring, tidak ada raut wajah penyesalan dan juga rasa bersalah. Hal itu semakin membuat Simon geram karena telah mengungkapkan identitasnya yang asli, tidak bisa dibayangkan bagaimana ekspresi yang ditunjukkan oleh Suci nantinya atau dia akan bisa kehilangan. 

__ADS_1


"Kamu merusak segalanya, aku akan mengurus mu nanti," Simon segera meninggalkan pertarungan itu, dan menggendong tubuh suci ala bridal style Segera membawanya masuk ke mobil, dan membawanya ke rumah. Sementara Felix hanya menyeka darah segar berwarna merah di sudut bibirnya, meringis dengan sikap sang sahabat yang malah menyalahkan nya. Padahal dia hanya berkata jujur, agar semuanya tidak ada kebohongan. 


Di sepanjang perjalanan, Simon mengumpat kesal Felix. Dirinya sekarang tidak bisa menyembunyikan identitas lagi, dan menyiapkan mental untuk menghadapi sikap dari Suci yang nantinya akan menjauhi. 


"Seharusnya dia tidak tahu mengenai identitasku dengan cara seperti ini, aku hanya membutuhkan waktu tetapi semuanya telah sirna," gumamnya di dalam hati seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


Suci merasakan sakit di bagian tengkuknya, dengan perlahan membuka kedua mata dan melihat di mana dia berada sekarang. Alangkah terkejutnya dia saat mengetahui jika bantal empuk menahan kepalanya ada di atas paha seorang pria asing, dan dengan cepat bangun dan menyudutkan dirinya di sisi lain. "Apa yang kamu lakukan?" bentaknya yang ketakutan melihat Simon karena mengetahui jika pria itu sangatlah berbahaya.


Simon berusaha untuk menenangkan wanita yang mengenakan hijab itu, tapi tidak bisa karena rasa ketakutan yang berlebihan membuatnya sulit untuk mengontrol. 

__ADS_1


"Jangan mendekat…jangan mendekat! Apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan? Kamu pasti bersekongkol dengan temanmu untuk melenyapkan ku?" tuduh asuci yang tidak bisa mengontrol emosi dan ketakutan di dalam dirinya. Tangannya begitu bergetar hebat, bibir yang pucat pasi, di saat mengetahui identitas asli dari pria bersorban yang ternyata itu adalah Simon Albert, seorang komandan militer dari Israel, musuh dari Islam. "Di mana Rasidha? Berikan putriku kepadaku!" bentaknya yang menatap tajam ke arah pria bermata biru.


__ADS_2