Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 6 - Memutuskan ke Palestina


__ADS_3

Suci masih mencintai suaminya, tapi luka itu masih terasa hingga saat ini. Dia begitu berdosa dengan meninggalkan suami tanpa memberi tahu kemana dia akan pergi. Tapi perhatian dan juga kasih sayang yang terbagi dari Zufar membuatnya begitu hancur, tidak bisa mengandung menjadikannya wanita tak sempurna di mata sang suami. Dia lemah, keinginan sang suami membuatnya harus menerima pernikahan kedua tersebut, tak lama lagi akan hadirnya seorang bayi yang menjadi pelengkap.


"Luka yang diberikan mas Zufar tidak akan sembuh, aku tidak mau kembali!" batin Suci yang sudah memutuskan segala. 


"Wajahmu selalu saja murung."


"Maaf Umi." Jawabnya sembari menundukkan kepala, tahu kemana arah pembicaraan berikutnya.


"Apa kamu sudah mengatakan keberadaanmu kepada Zufar?" lirik Umi Kalsum sembari membentuk kue yang akan dijual.


"Belum Umi, mas Zufar pasti tahu kemana aku pergi. Tempat pengaduan ku hanyalah di sini, tidak lama lagi dia akan menuju kemari."


"Itu bagus, kembalilah pada suamimu." 


Suci tidak membalas perkataan dari wanita paruh baya, karena cukup sulit untuk kembali setelah dikhianati sang suami.


Suasana menjadi hening, Umi Kalsum menyibukkan dirinya memanggang kue, dia tidak ingin ikut campur lebih dalam urusan rumah tangga anaknya. Sedikit menunjukkan jalan dan berdoa untuk kebaikan anak angkatnya.

__ADS_1


"Aku bantu ya, Umi." Suci tak bisa berdiam diri menatap rutinitas sang ibu, segera beranjak dari tempat duduk dan ikut membantu.


"Kamu bantu jual kuenya, menemani Hana." 


Suci menganggukkan kepala, membantu adiknya yang akan menjual kue di toko roti milik almarhum suami Umi Kalsum, toko yang tidak terlalu besar yang dikelola oleh Hana.


****


Suci menghirup nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, seakan dia terbebas. Suasana yang berbeda dari Indonesia membuatnya cukup mengurangi beban di hati, ikhlas membantu Hana di toko roti. Dia sedikit lama dalam menyajikan dan membungkus kue, membuat salah satu pelanggan di sana berdelik kesal seraya melirik arlojinya. "Cepatlah sedikit, aku tak ingin terlambat," keluh pria itu yang menggunakan bahasa arab.


Suci meminta maaf karena belum piawai membungkus roti yang dipesan dalam jumlah besar, untung saja ada Hana yang menyelesaikan masalahnya. 


Suci mengerti maksud yang sebenarnya, dia menganggukkan kepala, melangkahkan kaki keluar dari toko roti. Menelusuri tempat itu dengan berjalan kaki, permasalahannya membuat tidak bisa berkonsentrasi. Dia melihat kursi yang tak jauh darinya dan duduk di sana, melihat suasana di kairo dan orang yang berlalu lalang.


"Kemana aku harus pergi? Cepat atau lambat mas Zufar pasti menemukan keberadaanku." Gumamnya tampak berpikir. 


Suci mengeluarkan ponselnya dan memutuskan untuk kabur ke tempat lain, dia tidak ingin kembali, menyeret ibu dan adik angkatnya dalam permasalahan rumah tangga. Memesan sebuah tiket menuju ke palestina, walaupun dia tahu jika di negara itu tidaklah aman. Peperangan antara Palestina dan Israel yang masih terjadi, ingin menjadi relawan dengan hidup yang sedikit berguna.

__ADS_1


"Maafkan aku, Umi. Lebih baik aku meninggalkan Kairo!" batinnya sambil menyeka air mata. Suci kembali ke toko dan berpamitan kepada Hana, memberikan alasan yang logis. 


Sesampainya di rumah, Suci tidak melihat keberadaan Umi Kalsum. Segera menuju kamarnya dan mengemasi semua barang dan pakaian miliknya, meninggalkan sepucuk surat di atas meja. Sebelum melangkah, dia menoleh beberapa detik, rasa kerinduan pada sang ibu masih belum puas.


Segera dia menyeret koper dan pergi ke bandara, mengambil penerbangan awal. Untung saja masih ada tiket untuknya, memudahkan untuk kabur sebelum suaminya datang menjemput. 


****


Zufar tersenyum mengembang, penerbangan awal menuju Kairo saat menemukan keberadaan kediaman ibu angkat dari istri pertamanya. "Tunggu aku disana, Sayang. Mas akan menjemputmu!" gumamnya yang sangat bahagia, sebentar lagi mereka akan bertemu.


Perjalanan yang membutuhkan waktu, tidak ada rasa lelah menyelinap di hati Zufar yang begitu bersemangat, sangat merindukan wajah cantik istrinya yang menjadi penenang. 


Akhirnya perjalanan usai, sekarang dia berada di depan kediaman Umi Kalsum. Senyum mengembang menghirup aroma sekuntum mawar putih kesukaan Suci, sudah tidak sabar ingin memeluk istrinya yang baru beberapa hari jauh dari sisinya.


Pintu terbuka, Zufar dengan sopannya mengucapkan salam dan mencium tangan wanita paruh baya yang sudah seperti ibunya sendiri. Dia melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam setelah mendapatkan izin, tapi situasi dari penghuni rumah tampak bersedih. "Mengapa Umi dan Hana sedih?"


Tidak ada yang menjawab pertanyaan Zufar, membuat pria itu mengerutkan kening. "Apa yang sebenarnya terjadi? Dan dimana Suci?" tanyanya yang celingukan.

__ADS_1


Umi Kalsum merasa dirinya tidak bisa mendidik Suci dengan baik, hingga kabur dari sisi Zufar. "Dia sudah pergi tanpa berpamitan kepada Umi dan juga Hana," sahutnya sembari memberikan sepucuk surat yang ditinggalkan.


Zufar tidak tahu berbuat apa, segera meraih surat yang ditinggalkan istrinya, mengatakan pergi jauh dan tidak akan kembali ke sisi suaminya. Tetesan air mata mengalir dan mengenai surat, dia tak bisa berpikir jernih dan pergi dari tempat itu menuju bandara. "Suci tidak boleh meninggalkan aku begitu saja, inilah yang aku takutkan dan sekarang terjadi." 


__ADS_2