
Keesokan harinya, Suci kembali dengan rutinitas dalam merawat anak-anak terlantar, namun bergerak dengan penuh hati-hati. Betapa bahagia nya mempunyai kesempatan merasakan menjadi wanita normal, mengelus perut disertai senyuman.
Selesai melakukan rutinitasnya, Suci memilih untuk duduk di tempat teduh. Melihat anak-anak bermain dengan tawa yang terdengar di telinga, membuatnya tersenyum. Tangan seseorang di pundak membuatnya tersentak kaget, segera menoleh dan memeriksa sang pelaku. "Melati?"
"Dari kemarin aku lihat kamu senyum, ada apa?" tanya Melati yang ikut bergabung, duduk di sebelah teman barunya yang sama-sama dari Indonesia.
"Tidak, aku bahagia melihat anak-anak bermain."
"Bohong."
Suci tersenyum, tidak bisa mengatakan kondisinya yang tengah berbadan dua. Seseorang datang menyapa keduanya, seorang pria bersorban yang menutupi wajah, hanya menyisakan bagian mata. "Apa aku boleh bergabung?"
Suci menatap ke arah lain, menyadari jika pria bermata biru memandangnya. Melati melihat hal itu, mengerutkan dahi karena tak mengerti apa yang terjadi antara keduanya. Dia menepuk kening karena baru mengingat sesuatu yang hampir saja terlupakan. "Aku harus pergi!"
"Kamu mau kemana?" tanya Suci yang risih jika di tinggalkan dengan pria asing.
"Ada perlu sebentar, tidak lama. Aku pasti kembali kesini!" jelas Melati agar Suci tenang.
"Ta-tapi__." Belum sempat Suci melanjutkan perkataannya, Melati lebih dulu pergi. Menghela nafas dan menyusuri pandangan memperhatikan suasana sekitar.
"Kamu tampak risih denganku," celetuk Zaid yang penasaran.
"Hem, tidak sepantasnya seorang wanita bersama dengan pria asing."
__ADS_1
"Baik, aku mengerti."
"Apa kamu tinggal disini?" tanya Suci yang penasaran, hampir setiap hari pria itu datang.
"Ya, tempatku tak jauh dari sini. Melihat anak-anak yang tengah bermain menjadikan rasa lelahku berkurang," jawab Zaid mengarahkan pandangannya ke anak-anak yang sedang bermain. "Bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik, jangan katakan apapun pada mereka mengenai kehamilanku."
"Kenapa?"
"Itu privasi, aku hanya ingin suamiku tahu sebelum orang lain."
Zaid menatap lekat wanita berhijab berjarak dua meter. "Dugaanku benar, kamu wanita bersuami. Negara ini tidak aman untukmu, bahkan peperangan masih berlanjut. Membahayakan diri dengan pergi seorang diri, apa kamu sedang menghindar dari masalah?"
Zaid tersenyum, melihat keketusan wanita menjadi daya tarik tersendiri. "Hanya ada dua alasan untuk datang kesini, tidak ada tujuan dan kedua menghindari masalah."
Suci sedikit gugup saat perkataan Zaid memang benar adanya, kembali terlintas bayangan sang suami saat memperhatikan kondisi Siska.
"Tidak perlu memikirkan ucapanku! Kamu tahu, aku kesini juga menghindari masalah dan juga tidak mempunyai tujuan. Seorang pria tersesat yang sedang mencari jalan, hanya itu." Ungkap Zaid.
Suci mendongakkan kepalanya, menatap pria bermata biru tak jauh dari hadapannya. "Mengapa kamu mengatakan itu padaku? Kita tidak sedekat itu."
"Aku hanya ingin mengatakannya, kamu lihat gadis kecil disana." Zaid menunjuk Rasidha yang bermain boneka bersama temannya.
__ADS_1
Suci mengangguk. "Aku lihat Rasidha."
"Benar, aku menyukai anak-anak, tapi daya tarik gadis kecil itu membuatku kesini. Aku membawanya kesini, di saat kedua orang tuanya meninggal dibantai oleh tentara."
"Aku benci peperangan, mereka tidak mempunyai hati. Membom tempat tinggal mereka, kehilangan keluarga dan orang yang disayangi amatlah menyakitkan." Tutur Suci yang sedih, membuat Zaid terdiam.
"Jangan cepat menilai, tidak semua para tentara itu jahat."
"Lalu, mengapa mereka merenggut kebahagiaan anak-anak itu?" bulir cairan bening berlinang di pelupuk mata, seakan merasakan hal yang sama.
Zaid manggut-manggut kepala. "Aku mengerti kamu merasa sedih, ada kalanya mereka melakukan itu karena tak berdaya."
"Ya, semoga saja kamu berkata benar." Tutur Suci yang mengharapkan itu.
"Aku pergi dulu!" pamit Zaid yang berlalu pergi, entah mengapa perasaan nya sedikit terluka saat wanita berhijap di belakangnya tidak menyukai tentara Israel.
Zaid menatap kedua telapak tangannya, tangan yang digunakan membunuh kaum muslim di negara itu. Begitu banyak orang yang habis di tangan, bahkan dialah yang membunuh kedua orang tua Rasidha. Gadis kecil yang melihat kekejamannya di saat itu, ingin membunuh anak tak berdosa. Tapi, hati nuraninya seakan bergerak saat melihat gadis kecil yang sangat trauma hingga tak pernah berbicara.
Komandan yang terkenal bengis dalam berperang, penembak jitu jarak dekat dan jauh. Dengan mudah baginya melayangkan nyawa orang tak bersalah, tapi hati nuraninya melawan ego di pikiran. "Apa aku begitu buruk? Menjadi komandan bukanlah keinginanku." Gumamnya menaiki mobil Jeep dan pergi meninggalkan tempat itu menuju markas militer Israel.
Suci tampak memikirkan perkataannya yang salah, karena rasa amarah membuatnya hampir hilang kendali. "Astaghfirullah, karena rasa marah membuatku terlalu tergesa-gesa menyimpulkan sesuatu. Maafkan Hambamu ini ya Rabb." Dia beranjak dari tempat itu.
Tiba-tiba lidah terasa asam membuatnya ingin mencicipi buah segar. "Apa aku dalam fase ngidam? Aku ingin makan mangga muda." Gumamnya sambil meneguk saliva, membayangkan mangga muda terlihat nikmat.
__ADS_1