Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 58 - Pertemuan tak sengaja


__ADS_3

Zufar menghubungi asistennya, dia tak ingin jika perusahaan Mitra Group diambil alih oleh Mirza yang sangat serakah. Kehidupannya yang singkat membuatnya memerlukan beberapa surat penting, membutuhkan surat peresmian.


"Halo."


"Iya tuan, ada apa?"


"Datang ke rumahku besok, dan bawa semua berkas yang berkaitan!"


"Baik tuan, laksanakan."


Zufar menghela nafas, setelah sambungan telepon berakhir. "Aku akan membayar semuanya, demi Suci." Gumamnya tersenyum. 


****


Keesokan paginya, Suci terpaksa pergi memeriksa toko roti atas permintaan sang suami. "Aku tidak mengerti, mengapa mas Zufar memintaku untuk mengecek toko?" gumamnya sembari menatap keluar jendela mobil. 


Tak lama, mobil berhenti dan dia segera turun. Berjalan menuju toko dengan hati yang sedikit gelisah, meninggalkan suaminya bersama ibu mertua. Beberapa karyawan menyambutnya dengan ramah, mereka sangat senang jika pemilik dari toko tempat mereka bekerja datang untuk mengunjungi. "Assalamu'alaikum, 


Bu." Sapa mereka dengan ramah dan juga serempak.


"Wa'alaikumsalam, bagaimana keadaan kalian?" 


"Alhamdulillah, kami baik." Jawab tiga orang karyawan wanita yang mengenakan pakaian tertutup, mewajibkan wanita muslimah yang menjaga aurat untuk bekerja di toko milik Suci. Sementara karyawan laki-laki hanya di rekrut dua orang saja, yang akan berjaga dari sore hingga jam sepuluh malam.


"Lanjutkan pekerjaan kalian!" ucap Suci yang tersenyum. 

__ADS_1


"Baik, Bu." 


Suci tersenyum melihat para remaja yang putus sekolah bekerja di tokonya, ada sedikit kebahagiaan memberi mereka peluang. 


"Semoga toko ku membawa keberkahan," gumamnya yang mengecek bagian dapur, ingin melihat dan juga memantau pekerjaan di dalam. Sengaja merekrut wanita dari kalangan bawah, memberi pekerjaan yang layak dibandingkan memulung. "Ingin sekali aku membuat adonan kue, tapi keadaan membuatku terpaksa menghentikan hobi untuk sementara waktu," batinnya sembari menghela nafas. 


"Apa bahannya masih ada?" tanya Suci yang menatap karyawannya di dapur.


"Bahannya sudah menipis, Nona." 


"Hem, coba ditulis bahan-bahan yang kurang dan aku akan membelinya."


"Baik, Nona."


Setelah menerima catatan dari karyawannya, Suci berpamitan untuk membeli beberapa macam bahan membuat kue dan juga roti. Kembali masuk ke dalam taksi online, dan meminta untuk diantarkan ke swalayan grosir. 


Namun, tiba-tiba dia sangat terkejut saat seorang anak menabraknya, hingga semua bahan di dalam keranjang berserakan di lantai. "Astaghfirullah," dengan cepat Suci memunguti tepung dan juga bahan penting lainnya. Tapi, dia sedikit terkejut saat dua tangan kecil memeluknya dengan sangat erat. 


"Ibu."


Suci mengerutkan kening, merasa tak mengenal suara itu dan segera menoleh. Betapa terkejutnya dia menemui seorang gadis kecil yang tengah tersenyum ke arahnya, berpikir jika ini adalah mimpi. 


"Ibu Suci." Panggil gadis kecil itu yang tak lain adalah Rasidha, dia bahagia dengan pertemuan tak terduga.


"Ra-Rasidha? Ka-kamu di sini, Sayang?" Suci meneteskan air mata, memeluk gadis kecil itu dengan haru. Pertemuan yang tidak terduga membuat keduanya saling melepaskan rindu, tapi ada kejanggalan yang dirasakan olehnya. 

__ADS_1


"Apa Ibu terkejut? Aku bisa berbicara dan sedikit belajar bahasa Indonesia," ucap Rasidha yang masih menggunakan bahasa Arab. 


"Hem, sangat terkejut. Bagaimana keadaanmu, Nak?" Suci mengelus gadis kecil yang dikenalnya di Palestina saat menjadi seorang relawan. 


"Aku baik."


Suci celingukan mencari wali yang menjaga Rasidha, tapi tak menemukan. "Apa Rasidha pergi sendiri?" tanyanya penasaran, celingukan mencari orang lain yang mengawasi gadis kecil itu. 


"Tidak, aku pergi bersama nani. Aku tidak menyukainya, itu sebabnya aku lari demi menghindari nani." Ungkap Rasidha yang masih polos.


"Tidak boleh mengerjai orang yang lebih tua dari kita, bukankah Ibu sudah mengajarkannya? Apa Rasidha melupakannya?" 


Dengan cepat gadis kecil itu menggelengkan kepala, mematuhi perkataan dari Suci. "Maaf," lirihnya yang menyesali perbuatannya.


Suci tersenyum, membelai rambut gadis itu dengan lembut. "Minta maaflah pada nani, jangan menyusahkan orang yang merawatmu, Nak."


"Baiklah. Oh ya, Ibu tinggal dimana? Apakah Ibu merindukan aku?" ucap Rasidha dengan mata yang berbinar cerah, pertemuan mereka yang secara tidak sengaja di swalayan begitu berbekas di antara keduanya.


Suci menganggukkan kepala, menyeka air mata bahagia dan memeluk gadis kecil itu, kasih sayang tanpa ikatan darah, menyatukan dua orang asing. "Ibu sangat merindukanmu, Sayang."


"Lalu, dimana rumah Ibu? Aku akan datang berkunjung," tanya Rasidha penuh harap. 


Suci mengeluarkan kertas nama, tertulis alamatnya di sana. "Ibu tinggal di sana."


"Rasidha…Rasidha, kamu dimana?" panggil seseorang yang membuat suasana haru terhenti seketika, melihat seorang pengasuh yang datang menghampiri mereka. "Jadi kamu ada disini? Aku sudah mencarimu dari tadi," ungkap wanita cantik yang kesal dengan tindakan anak yang diasuhnya. 

__ADS_1


Spontan Rasidha berlindung di belakang Suci, seakan dia tak ingin ikut dengan pengasuhnya. "Aku tidak ingin ikut dengan Nani!" tegasnya yang sudah memutuskan. 


Suci bingung dengan situasinya, mereka saling berkontak mata.


__ADS_2