Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 25 - Kebahagian Zufar


__ADS_3

semua orang tampak panik dengan keadaan Suci yang tak sadarkan diri, hingga mereka terjebak dalam situasi yang menegangkan. Mengkhawatirkan kondisi wanita yang mengenakan hijab berwarna pastel, dan mencoba untuk menyadarkannya.


Tak lama, pintu terbuka mengalihkan perhatian semua orang. Terlihat seorang wanita yang mengenakan jas putih, membawa tas yang berisi alat untuk memeriksa keadaan pasien.


"Mengapa istriku pingsan dan wajahnya pucat, Dok. Dia sakit apa?" tanya Zufar yang sangat cemas. 


Dokter wanita itu memeriksa detak jantung dan beberapa lainnya, sangat serius jika menyangkut dengan pasiennya. Wajah yang pucat dan terlihat lemah, menganalisis apa yang diderita oleh sang pasien. Setelah pemeriksaan selesai, sang dokter menarik nafas dalam dan tersenyum. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ini biasa terjadi jika pasien tengah hamil." Jelasnya.


"Apa? Hamil?" ucap Zufar, Tini, dan Siska yang sangat terkejut dengan kabar itu. Mereka melongo tak percaya apa yang baru saja mereka dengar.


"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Zufar dengan tatapan tak percaya, menatap sang dokter dengan penuh harapan. Kedua matanya berbinar, hingga tak tersadar jika cairan bening menetes begitu saja. 


"Menantuku hamil, Dok?" 


Sang dokter menganggukkan kepala, mengisyaratkan jika itu benar terjadi dan mereka sedang tidak berkhayal. "Itu benar, pasien sedang berbadan dua. Aku akan menulis resep vitamin dan juga obat penguat janin, tolong tebus dan minum tepat waktu." Dokter wanita itu menulis resep dan menyerahkannya kepada Zufar. "Istirahat yang cukup, makan makanan bergizi dan jangan membuatnya stres, karena itu sangat berpengaruh pada kesehatan janinnya." Sambungnya.


"Tapi, bagaimana mungkin? Istriku sebelumnya sudah di vonis mandul," ungkap Zufar yang sangat tak memahami apapun.

__ADS_1


"Itu keajaiban dan rencana Tuhan, kita hanya bisa berusaha dan berserah diri pada sang kuasa," sahut sang dokter seraya mengulas senyum manis di wajahnya.


"Apa dokter yakin, jika kakak maduku hamil?" celetuk Siska yang mencoba untuk meyakinkan dirinya, berharap jika kabar itu tidaklah benar. Dia sangat cemas dengan nasibnya, apalagi Suci dalam keadaan hamil. Keringat di dahi mengucur deras, menandakan kegelisahan hati yang tak bisa dia lukiskan lagi. Seluruh kemewahan dan juga kehidupan yang sangat berkecukupan, membuatnya begitu terlena. 


"Apa maksudmu menantuku tidak bisa hamil, begitu?" sela Tini yang melemparkan tatapan sinis. 


"Bukan begitu, hanya saja ini terdengar aneh dan tidak masuk akal."


"Tidak masuk akal bukan berarti tidak mungkin, Tuhan sudah memberinya kepercayaan dengan menitipkan janin itu pada menantuku."


Suci membuka kedua matanya dengan perlahan, pandangan masih terlihat kabur di awal dan mulai jelas. Melihat empat orang yang tengah menunggu dia sadar, dan Zufar dengan sigap membantu istri pertamanya menyandarkan punggung. "Apa kamu baik-baik saja?" tanya nya sembari membingkai wajah cantik sang istri. 


Suci menganggukkan kepala dengan pelan, melirik sang dokter dan tahu apa penyebab dia pingsan secara mendadak.


"Selamat untuk kalian, sebentar lagi akan ada tawa bayi di rumah ini. Jangan lupa untuk meminum vitamin dan obatnya tepat waktu, jangan membebani pikiran yang hanya akan berdampak stres, dan tidak baik untuk kesehatan janin." Jelas sang dokter kepada Suci dan berpamitan dengan semua orang, senang dengan pasiennya yang sehat.


Zufar menangis haru, penantiannya selama delapan tahun terbayar kontan saat mendengar kabar kehamilan Suci. Memeluk dengan erat dan tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur kepada sang pencipta, mengecup wajah istri pertamanya secara bertubi-tubi. "Selamat Sayang, kamu memberiku kabar yang sangat membahagiakan. Sekarang keluarga kita sudah lengkap, aku tak sabar dengan kehadiran dua anak yang akan lahir di rumah ini."

__ADS_1


Siska berjalan mendekat, dia tersenyum dan tak lupa memberi selamat. "Selamat ya Mbak, akhirnya bisa merasakan hamil juga. Dirawat baik-baik agar tidak keguguran, cukup sulit untuk mendapatkan kehamilan kedua setelah keguguran." Jelasnya seraya memeluk kakak madunya, melemparkan ucapan yang disertai doa yang sangat buruk.


Suci membalas pelukan itu dan melepaskannya, tersenyum dan tahu makna dari semua ucapan yang dilontarkan Siska padanya. Dia tak ambil pusing, lebih memikirkan janin yang berada di perutnya, mengelus perut yang masih terlihat datar. 


Tini mulai sewot dengan ungkapan yang disertai makna yang buruk. "Doa yang baik akan kembali kepadamu, begitupun dengan sebaliknya." 


"Mama! Sudahlah, ada apa dengan kalian?" Zufar sangat kesal dengan perdebatan tak ada kata usai, dia segera membantu Suci membawa ke kamar utama yang lebih luas dari kamar lainnya. 


Di dalam kamar, Zufar terus mengelus perut sang istri dan sesekali mengecupnya. "Aku tidak sabar untuk menunggu dia lahir kedunia ini." Tersenyum membayangkan akan menggendong dua orang anak di pangkuannya. 


Suci tersenyum, dan membelai rambut suaminya. "Aku juga, doa yang selama ini kita inginkan sebentar lagi hadir di keluarga kecil kita, Mas." 


"Itu benar, jaga dirimu dan juga jangan stres. Ikuti saran dari dokter dan makan makanan sehat, agar pertumbuhan buah hati kita bagus.


"Mulai sekarang, Mas harus ekstra menjaga ku dan juga Siska. Dia juga mengandung anakmu, Mas. Jangan ada kasih sayang yang condong antara kami dan juga anak-anak nantinya, aku hanya mendoakan yang terbaik saja."


"Pasti, aku sangat beruntung memilikimu sebagai istriku. Aku mencintaimu, Suci Az-Zahra."

__ADS_1


__ADS_2