Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 71 - Kebahagiaan Rasidha


__ADS_3

Suci tidak terlalu memikirkan masalah warisan yang diberikan oleh mendiang suaminya, harta tidaklah berarti baginya ketika tidak ada seseorang yang berada di samping. Mirza segera pergi dari tempat itu karena hatinya sangat dongkol, tidak mendapatkan harta atau warisan sepeserpun dari mendiang kakaknya, kebencian di masa lalu semakin menjadi. 


"Sebaiknya aku pergi saja, tidak ada gunanya lagi untuk tetap tinggal di sini!" gumam Mirza yang segera melangkahkan kaki tanpa berpamitan terlebih dulu.


Tini melihat tindakan putra bungsunya yang tidak menghargai dan juga tidak ada raut wajah kesedihan, hal itu malah membuatnya semakin sedih. "Ada apa dengan Mirza? Selalu saja tidak begitu!" geramnya di dalam hati. 


Terdengar suara dari ponsel milik Suci, dia segera mengangkat setelah mengetahui siapa yang menghubunginya.


"Halo, assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam, ada apa?" 


"Ada seseorang yang mencari ibu di toko."


"Mencariku?" 


"Itu benar, bu."


"Bagaimana ciri-ciri orangnya?"


"Laki-laki bermata biru yang menutupi wajahnya dengan sorban, dan seorang anak kecil berusia kurang lebih lima tahun."

__ADS_1


"Hem, baiklah. Aku akan kesana!" 


Setelah telepon selesai, Suci segera bersiap-siap menuju toko roti miliknya. Semenjak kematian sang suami membuatnya tak bersemangat untuk pergi kemanapun, tetapi di saat salah satu karyawannya yang mengatakan jika dua orang mencarinya, dan diyakini itu adalah Zaid dan juga Rasidha, putri angkatnya dari Palestina. Mendengar nama anak kecil yang berusia lima tahun membuat dirinya kembali bersemangat, dan dia segera berpamitan kepada Ibu mertuanya. 


"Ma, Aku ingin ke toko! Beberapa hari ini aku tidak datang, mereka membutuhkanku." Ucap Suci yang meraih tangan kanan Ibu mertuanya dan menciumnya, sudah menganggap wanita paruh baya itu seperti ibunya sendiri. 


"Baiklah, hati-hati di jalan! Telepon Mama jika ada masalah."


"iya, Ma. Assalamu'alaikum."


"wa'alaikumsalam."


Suci tidak sabar minta pak sopir untuk mengantarkannya di toko roti, beberapa karyawan mulai menjemput kedatangannya yang sudah beberapa hari tidak masuk. Tiba-tiba dia merasa ada tangan kecil yang sedang memeluk kakinya. "Ibu, aku merindukanmu!" wajah terkejut berubah menjadi senyuman saat melihat putri angkatnya, tersenyum sembari memeluknya.


Suci tersenyum dibalik kesedihannya, menyamakan tinggi gadis kecil itu dengan berjongkok dan memeluknya dengan erat. "Ibu juga sangat merindukanmu, Sayang."


Rasidha segera melepaskan pelukan itu, dan menatap dalam wajah dari ibu angkatnya. "Mengapa wajah Ibu terlihat sedih?" ucapnya yang ikut bersedih.


"Tidak, Ibu tidak sedih. Apa putri Ibu sudah makan? Bagaimana jika kita makan di restoran yang tak jauh dari sini?" tawar suci yang tersenyum sembari membelai rambut gadis kecil itu, dia melirik Zaid yang berdiri memperhatikan interaksi mereka. Dia melirik pria itu, seakan ingin meminta izin untuk  membawa Rasidha. 


Zaid menganggukkan kepala, menyetujui permintaan dari Suci. "Kalian boleh pergi, tapi bagaimana dengan aku?" Ucapnya yang wajah memelas, berharap jika dia ikut bersama mereka.

__ADS_1


Mendengar hal itu membuat Suci tampak ragu, dia tidak ingin bersama dengan pria asing. Tapi, Rasidha lebih dulu menyetujuinya. "Ayolah Bu, biarkan ayah ikut bersama kita!" bujuknya dengan tatapan puppy eyes miliknya, terlihat sangat menggemaskan sehingga wanita berhijab itu terpaksa menyetujui.


"Baiklah, kita akan pergi." Pasrah Suci yang membuat gadis kecil itu bersorak gembira, sedangkan Zaid atau Saimon menyunggingkan senyuman bahagia, kali pertama mereka akan makan bersama. 


Di dalam mobil, Suci dan Rasidha saling tertawa, mereka tampak akrab. Zaid ikut senang, diam-diam dia melihat dua orang wanita tengah bercengkrama. Menyunggingkan senyuman yang tak di ketahui oleh siapapun di balik sorbannya, sembari fokus mengemudikan mobil. "Aku sangat terkesan dengan kepribadiannya, di balik senyuman itu tersimpan kesedihan yang mendalam. Aku prihatin atas kepergian suaminya," batinnya yang menghela nafas. 


Tak lama, mobil berhenti di restoran yang tak jauh dari toko roti. "Kita sudah sampai, ayo turunlah!" tutur Zaid yang melepaskan sabuk pengaman dan membuka pintu. 


"Hore," sorak Rosida yang sangat bahagia, seakan keluarganya telah kembali sempurna.


Mereka masuk secara bersamaan, mengundang perhatian semua orang, mereka mengira itu adalah keluarga yang bahagia. 


Bahkan, ada juga yang merasa iri dengan kedekatan dari Rasidha, Suci, dan juga Zaid atau Simon.


"Mengapa mereka menatapku seperti itu?" gumam Suci di dalam hati, yang menatap orang-orang tengah memperhatikan mereka. 


Mereka berjalan menuju kursi kosong, Zaid membantu Suci dengan menarik kursi. Sontak membuat wanita berhijab terkejut, dan merasa canggung dengan perhatian kecil yang diberikan oleh pria bermata biru. "Maaf, aku hanya membantu." 


"Hem, tidak apa-apa." jawab suci yang menganggukkan kepala. 


Mengulas wajah yang senyum, terus terlukis pada wajah Rasidha. Dialah yang paling bahagia, dan berharap jika ayah dan juga ibu angkatnya hidup bersama. 

__ADS_1


__ADS_2