
" Pergilah ! " lanjut pria itu dengan sedikit mengibaskan lututnya, sedikit mendorong tubuh wanita di bawahnya.
Sang wanita yang masih tampak sangat bergairah di buat terpana keheranan karena dirinya yang belum mendapatkan pelepasan apalagi sang boss juga sepertinya masih butuh waktu lama untuk.menuntaskan hasratnya, tetapi malah minta berhenti.
" Tapi Tuan, saya belum selesai ... apalagi Anda-" kalimat wanita itu terpotong dengan tatapan mata tajam wajah culas di depannya.
Dan lagi, gerakan pada lutut sang pria di hadapannya kembali membuat sang wanita itu akhirnya berdiri, melepaskan tangannya dari milik sang pria dan merapikan gaunnya. Ia keluar dengan perasaan limbung karena belum mencapai pelepasan di saat puncaknya.
" Saya permisi, jika Anda menginginkannya lagi bisa panggil saya, Tuan. Dengan senang hati saya akan menghangatkan ranjang An- "
" Berisik. Pergi ! " perintah pria itu dengan nada dingin.
Wanita itu berlalu tanpa kata lagi, dan tubuhnya menghilang di balik pintu.
Sang pria bangkit dari kursinya dan menarik resleting celananya, berjalan ke pinggir jendela dan melihat ke arah pantai dengan tatapan sendu.
Cerutu di celah bibirnya masih terhisap sempurna hingga kepulan asap nikotin memenuhi ruangan. Ada hati yang terasa berdenyut nyeri. Sakit. Terluka.
__ADS_1
" Andai, yah andai waktu dapat di putar ulang, " gumam pria itu lirih. Tangan kekarnya mengusap pinggir jendela besar yang membatasi dirinya dengan lautan lepas, " Andai kau masih ada di sini sayang, akan ku berikan semua duniaku untukmu, hingga tak ada lelaki yang dapat merebutmu dariku. Andai semua tak memandang harta dan silsilah, kupastikan kau bahagia di sisiku. Andai kau bukan keturunan klan terkutuk itu. Shiiittt, "
Hembusan nafas kasar dan berat terdengar di kesunyian. Pria itu menyesap cerutunya dengan perasaan dalam, " gadis itu sangat mirip denganmu, Aku akan mendapatkannya dan akan menjaganya untukmu, " pria itu nampak mengepalkan tangannya kuat.
***
Di mansion keluarga Arzallane,
Brak.
" Nona, ada apa ? " seorang maid yang kebetulan ada di kamar itu memperhatikan gadis cantik yang sedang mengelus - elus lututnya.
" Sakit, Bi, " ringis Kinara sambil menunjuk lebab pada lututnya.
" Aduh, Non, bagaimana bisa jadi seperti ini ? " tanya Bibi maid dengan rasa khawatir. " Ini juga lecet, " tunjuk sang maid ke arah siku Kinara.
Wanita setengah baya dengan tubuh tambunnya itu bergegas keluar kamar untuk mengambil kotak obat. Dan tak berapa lama setelah mengambil obat dan membersihkan luka lecet serta memberikan salep pada luka lebab gadis di depannya, maid itu segera bergegas keluar kamar kembali.
__ADS_1
" Jangan lupa di makan sarapannya, Nona ! Tuan besar tidak suka Anda mengabaikan makanan. " ucap maid sebelum tubuhnya tenggelam di balik pintu.
" Bi ! " panggil Kinara pelan, " Ehm, apa Tuan besar sudah pergi ? " tanya Kinara dengan wajah kemerahan.
" Tuan besar sudah berangkat ke kantor, Nona. Ada yang Anda perlukan lagi, Nona ? "
" Bi, ehm..., " Kinara menjeda kalimatnya dan berpikir sejenak, " Bi, apakah aku boleh keluar mansion ? Aku ingin pulang ke rumah, aku rindu rumah, Bi ! " bisiknya lirih dengan air mata yang mulai menggenang di matanya.
" Maaf, Non ! Anda tidak diperkenankan keluar mansion oleh Tuan Besar. Saya permisi, " pamit maid kemudian.
Tubuh tambun segera menghilang di balik pintu. Kemudian, klek. Terdengar suara pintu terkunci dari luar.
Kinara masih duduk di pinggir ranjang dengan hati yang mulai gundah. Rasa rindu akan sosok ayah dan rumahnya memenuhi hatinya.
***
Bersambung
__ADS_1