Tuan Besar

Tuan Besar
Bab 55. Terbongkar


__ADS_3

Han Liu menatap tajam mata Fenuel Golland, mencoba menilai dari gestur tubuhnya yang mulai melemah.


" Cari tahu lagi kelemahannya ! Saya dengar dia memiliki seorang putri yang ada di daerah barat di sebuah panti asuhan. Bawa gadis itu ! Jika melawan, habisi ! " ucap Han Liu dengan dingin. Mata tajamnya tetap menatap Fenuel Golland dengan pandangan tak terbaca.


Tubuh Fenuel Golland sedikit terjengkit. Tubuhnya sudah melemah, dan matanya menatap Han Liu dengan tatapan memohon.


" Ja ... ja ... ngan ! " Ucap Fenuel Golland dengan lemah. Tubuhnya merangkak mendekati Han Liu dan tangan lemahnya dengan gemetar mencoba meraih kaki Han Liu.


" Ja ... ngann ! " suara lemah Fenuel Golland terdengar parau. Ingatan Fenuel mengembara belasan tahun lalu sebelum menjadi anak buah Shade Carr dari sebuah organisasi terlarang yang memperdagangkan anak di bawah umur di pasar gelap sekaligus menjadi agen pembunuh berdarah dingin. Semua disumpah setia sampai mati dan mengorbankan apapun demi menutup identitas organisasi.


Pertemuan manis dirinya dikala masa muda dengan seorang wanita cantik yang menjadi cinta pertamanya. Cintanya sungguh menggebu hingga wanitanya melahirkan seorang bayi cantik tapi tak sampai sebulan isterinya meninggal karena terbunuh.


Fenuel Golland menghembuskan nafas perlahan mengisi rongga dadanya yang mulai sesak. Ingatan kelam yang membuatnya masuk ke dunia hitam untuk mencari pembunuh isterinya malah membuat hidupnya terikat dengan sekelompok orang dari organisasi pembunuh bayaran.


Almira, maafkan papa nak ! Semoga hidupmu dilimpahi kebahagiaan dan kemudahan.


Tanpa sadar Fenuel Golland berdoa untuk putrinya yang jauh. Air mata perih karena tidak bisa menjadi papa yang baik yang selalu ada bahkan sekedar menemukan pembunuh isterinya saja gagal. Padahal dirinya dikenal sebagai spyder handal dan pembunuh bayaran dengan nilai yang cukup mahal.


Fenuel Golland terbatuk, dan darah segar keluar begitu saja dari mulutnya. Fenuel masih mencoba meraih ujung celana Han Liu, tetapi gagal. Tubuhnya sudah remuk tanpa tulang penyangga.


" Baik, Tuan. " Renno mengangguk dengan patuh.


Bagaimana mungkin seorang mafia under ground dapat menutup mulutnya. Bahkan bisa mengorbankan segalanya termasuk keluarganya. Hal yang paling tabu dalam dunia hitam adalah tak memperkenalkan keluarga didepan umum. Semua yang dinamakan keluarga hanya sebagai alat yang melemahkan. Sehingga dunia hitam hampir - hampir tidak akan memperkenalkan keluarganya pada dunia karena itu akan menjadi titik lemah seorang mafia.

__ADS_1


Han Liu hanya mengibaskan tangannya, dan berlalu keluar ruangan.


" Tu ... tu ... an ! " Fenuel Golland masih mencoba menahan Han Liu.


" Hhmm ?? " Han Liu menahan kakinya untuk melangkah keluar ruangan.


" To ... long, ja ... ngan ! Dia tidak tahu a..pa - apa. "


Han Liu mengibaskan tangannya tanda tak peduli.


" So ... arez ... . "


Deg.


Han Liu berjongkok menatap Fenuel Golland dengan nafas yang mulai putus - putus.


Sedikit hening ketika suara Fenuel Golland tidak terdengar.


Han Liu hanya mengepalkan tangan dengan geram. Belasan tahun hidup di tengah keluarga Arzallane dengan dendam yang tak pernah usai karena saudara tiri ayah angkatnya ini seorang yang rakus dan tamak akan kekayaan keluarga Arzallane.


" Seharusnya dia sudah mati di tangan Aljendro kan ? "


Fenuel Golland mengedipkan matanya. " Sekre ... taris Han, to ... long jaga Almira untuk saya ! " suara Fenuel Golland semakin parau dan terbata - bata. Nafasnya tersengal dengan hebat.

__ADS_1


Dengan kekuatan terakhir Fenuel Golland menyentuh tangan Han Liu, " Tolong ! " seraya menyelipkan sebuah bungkusan kecil di tangan Han Liu.


Tak sampai hitungan detik tangan Fenuel Golland sudah terkulai.


Han Liu dengan reflek memeriksa denyut nadinya. Sudah tak berdetak.


Han Liu berdiri dan membersihkan tangannya dengan cairan pembersih yang telah disodorkan anak buahnya.


Entah sejak kapan tapi ternyata kebiasaan Tian Besarnya kini menjadi kebiasaan Han Liu juga. Han Liu segera melangkah keluar ruangan.


Langkah tegapnya tak sesuai dengan suasana hatinya yang sedang bergejolak menahan banyak beban. Han Liu menghembuskan nafas dengan berat mencoba mengurai setiap beban tanggung jawab yang dipikulnya.


Tring.


Sebuah notifikasi pesan dari ponselnya terdengar. Han Liu perlahan merogoh saku celananya dan mengaktifkan ponselnya. Keningnya berkerut dalam. Sebaris kalimat yang membuat Han Liu hampir berteriak kegirangan.


Han, Ocean Park di Barat Daya. Bawa pasukan lengkap.


Alexander MA.


Deg


Han Liu segera menghubungi Santos anak buah didikan Pedro, di ruang pemantauan.

__ADS_1


" Selamat siang, Sekretaris Han, " Sapa Santos begitu sambungan terhubung


" Cek pesan yang akan saya kirim. " jawab Han Liu singkat dan langsung mematikan panggilan.


__ADS_2