Tuan Besar

Tuan Besar
Bab 46. Rahasia Yang Mulai Terungkap


__ADS_3

Dominic meraih tubuh Daddynya yang terhuyung.


" Stop ! " Dominic. " Berhentilah saling menyalahkan ! Jangan kekanakan ! "


" Pantas rencana Dad selalu gagal. Daddy mudah terbakar amarah ! " ucap Dominic dingin.


Alexander Moralez hanya melihat dari sudut matanya yang ia coba buka. Diliriknya suntikan di atas nampan di sisi tubuhnya. Dengan sedikit pergerakan Alexander meraih suntikan dan menggantikan dengan suntikan yang sengaja diselipkan oleh Gery tadi pagi.


Alexander kembali menutup matanya dengan sempurna, mengatur tubuhnya kembali dengan sikap rileksnya lagi.


" Sudahlah ! " tukas Billy Soarez dengan nada marah. " Lanjutkan rencananya ! Mana suntikan ? "


Dominic sedikit tersentak mengingat sesuatu, tubuhnya berbalik dengan cepat dan melangkah sedikit terburu menghampiri sisi ranjang.


Diminic mengangkat tangannya, dan memperhatikan jarum jam di pergelangan tangannya.


" Empat menit tiga puluh detik, uncle. " Dominic sedikit bertanya.


" It's okey. Masih kurang dari sepuluh menit, honey. " jawab Thomas Soarez.


" Memangnya kenapa ? " tanya Billy Soarez.


" Ini formula baru, Dad. " ucap Dominic memberitahu Daddynya. Tangannya memeriksa jarum suntik di atas nampan.

__ADS_1


" Ini formula yang lebih sempurna, Dad. Serum yang lebih ampuh, sekali suntik cukup untuk membuat seseorang seperti mayat hidup. Cairan ini mampu melumpuhkan kinerja otak pada manusia normal. Sistem yang digunakan adalah pemblokiran yang berfungsi memanipulasi fungsi otak yang seharusnya mampu reaktif terhadap rangsangan tetapi fungsi itu diblok supaya hanya kita yang bisa mengendalikannya ... akh sudahlah Dad ! Daddy dijelaskan pun tidak akan paham, " ucap Diminic meremehkan.


Billy Soarez hanya mengepalkan tangan. " Dasar anak kurang ajar. " gumamnya marah.


Dominic meraih kapas dan mulai mengambil alkohol dan mulai mencari titik area untuk menyuntikkan.


Alexander mengatur nafasnya yang mulai panas penuh dengan kemarahan. Rasanya cukup kesabaran untuk mendengar hal yang membuatnya marah.


Alexander menahan tubuhnya untuk tidak merespon berlebihan ketika tangan halus Dominic menyentuh lengannya. Dirasakannya jarum itu sudah menembus kulitnya. Sedikit aneh yang dia rasakan, tubuhnya terasa segar.


Dominic mengelus lengan Alexander dengan lembut. " Selamat datang dalam pelukanku, Al. Aku sangat merindukanmu, " ucap Dominic penuh puja.


Tampak di belakang Dominic, Thomas Soarez mengepalkan tangannya dengan kuat. Wajahnya sedikit mengeras melihat Dominic terus membelai lengan Alexander Moralez dengan tatapan penuh puja.


" Bagaimana kondisi di rumah Alexander, Don ? " tanya Billy Soarez ke arah seorang pria yang nampak berdiri tegak agak jauh dari tempatnya berdiri.


Lelaki yang dipanggil Don sedikit menoleh, " Aman dan terkendali Boss. Beberapa anak buah kita masih ada di dalam mengawasi pergerakan Han Liu. Sepertinya Han Liu belum menemukan Alexander Moralez. Dan semua orang sudah mati terbunuh di tangan Aljendro Stewartz seperti dugaan kita, termasuk Ryan Juville. "


Dominic mengerutkan dahinya dan menoleh ke arah pria yang dipanggil Don, " Ryan Juville mati ? "


Don mengangguk, " Benar, Nona. Menurut anak buah saya, Ryan Juville dibunuh oleh Aljendro Stewartz. Dia termasuk salah satu mata - mata yang ditempatkan Aljendro disisi Alexander Moralez. Tapi sepertinya Ryan Juville berubah haluan sehingga dia dibunuh karena menghianati Aljendro. "


Deg. Alexander terkejut, jantungnya berdegub dengan kencang. " Jadi benar feelingku untuk tidak mempercayai bocah itu, sialan. Sejak kapan ? "

__ADS_1


" Ryan Juville ditempatkan Aljendro Stewartz sejak kanak - kanak. Mereka bertumbuh bersama. Aljendro mengurung mama Ryan Juville untuk menekannya dan membuatnya menurut. Termasuk dengan kecelakaan serum itu. " ujar Don lebih lanjut ketika melihat sedikit kerutan pada dahi putri Billy Soarez.


" Oh. " Dominic tampak terkejut. Sebuah senyum terulas, " Itu sebabnya dia menghubungiku untuk melanjutkan dengan serum kedua. Oh Ryan Juville, aku patut berterima kasih kepadamu. Akhirnya aku mendapatkannya. "


Alexander Moralez mendengar semuanya dengan geram yang semakin menumpuk di dadanya. " Kurang ajar, jadi selama ini aku berteman dengan para penghianat. "


Dominic kembali menatap tubuh yang masih tenang terbaring di atas ranjang, tanpa menyadari bahwa laki - laki yang dipandangnya dengan penuh cinta sedang menumpuk bara api yang siap meledak.


" Biarkan dia beristirahat, Dominic ! Jangan mengusiknya dulu ! Serum itu akan bekerja sempurna dalam enam jam, mari kita keluar dan atur strategi untuk mengambil alih semua milik Arzallane. Hahaha ... . " Tawa Thomas Soarez terdengar sangat bahagia. Tangannya merangkul pinggang Dominic dan melangkah pergi.


Langkah kaki terdengar menjauh dan pintu kembali tertutup rapat.


Alexander Moralez mengepalkan tangan kuat - kuat di balik selimutnya. Wajahnya nampak mengeras menahan marah. " Sial, ternyata selama ini aku hidup dengan para penghianat. "


Alexander Moralez akan bergerak turun dari ranjang ketika pintu tiba - tiba terbuka. Seorang dengan masker penutup memasuki ruangan dengan tergesa dan mengambil nampan yang tertinggal.


Alexander mengurungkan pergerakan tubuhnya.


Perawat itu nampak memperhatikan infus dan akan beranjak pergi. Tapi terlihat ragu laki - laki itu kembali berjalan mendekati sisi ranjang Alexander lagi dan menarik sesuatu dari sakunya, menggengam sesuatu yang kemudian dia selipkan diantara jari Alexander.


Alexander Moralez sedikit terkejut dengan benda kecil yang diselipkan diantara jarinya.


" Keluarlah dari sini sebelum mereka merebut semua milikmu ! " ucap perawat itu pelan dan bergegas keluar dengan tergesa membawa nampan dengan bekas jarum suntik yang ditinggalkan Dominic.

__ADS_1


__ADS_2