
" Mommy, Daddy ! Na ! "
Brugh.
" Hei, sayang ! Xander ! "
" Aw .... "
Flash back off
Alexander kembali menegang seketika. Sebaris ingatan tentang peristiwa masa lalu terlintas samar di pikirannya.
" Na, " tanpa sadar pria berahang keras itu memanggil lirih. Mencoba merasai perasaannya akan sebuah sebuah nama.
Deg.
__ADS_1
Dominic yang masih bergelayut manja dengan wajah sedikit terkejut memandang lekat mata Alexander, sang pujaan. Ada rasa tak biasa ketika mendengar nama singkat yang di gumamkan Alexander barusan. Sebuah nama dari masa lalu yang selalu coba ia hilangkan. Bahkan bukan hanya tentang sebuah nama tetapi juga sang empunya nama termasuk juga sang penyebut nama yang selalu membuatnya panas hati.
" Na ? " ulang Alexander mencoba mengingat pemilik nama. Seorang gadis kecil dengan rambut panjang, sebentuk wajah yang terlihat buram tetapi Alexander mengingat betul sebaris senyum menawan yang selalu tersemat di bibir gadis kecilnya. " Na ? " ulangnya dengan terus berpikir, mengorek ingatannya seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Sulit. Sangat sulit.
Bahkan hari ini adalah barisan hari kesekian ribu hari di hidupnya untuk mencari tahu ingatannya yang hilang. Tapi seperti ada selubung gelap yang menutupi semuanya. Tak ada ingatan yang tersisa.
Bukan sebuah ingatan yang di dapat Alexander tetapi rasa pening di kepalanya yang berdenyut sangat nyeri, seperti menusuk - nusuk dan tubuh kekarnyapun mulai berkeringat dingin. Rasa yang sama yang akan ia alami jika terus memaksakan pikirannya mengingat sebuah gambar wajah seseorang.
Pria bermata tajam itu sedikit mengerutkan keningnya dan tangan kakarnya kembali menyentak tubuh Dominic yang masih bergelayut di lengannya dengan kasar.
Alexander mengerang sakit dan frustasi dalam percobaan mengingatnya.
" Xander, " panggil Dominic khawatir bersamaan dengan Han Liu yang juga nampak khawatir dengan sang tuan besarnya.
" Tuan, Tuan Alexander, " panggil Han Liu sang sekretaris mencoba menarik kesadaran sang tuan besarnya yang masih terjebak dalam usahanya mengingat masa lalu. Han Liu merasakan ada potongan puzzle yang baru saja pria itu ingat, menilik dari gurat wajahnya yang tadi sempat tersenyum samar.
__ADS_1
" Xander, please dengarkan aku ! " panggil Dominic panik dengan suara lembut. Perempuan cantik dengan surai kecoklatan itu kembali maju dan menyentuh tangan Alexander yang masih meremas kasar kepalanya. Menggengamnya dengan lembut untuk menghentikan usaha pria itu yang terus meremas kepalanya dengan kasar.
" Jangan lakukan itu, Xander ! Itu akan menyakiti dirimu sendiri. Xander ! Xander ! " Dominic masih mencoba menyadarkan pria pujaan hatinya dengan suara yang khawatir.
Dominic menyentuh lengan pria tegap di depannya. Bagaimanapun sikap penolakan Alexander kepadanya yang sering membuatnya marah dan putus asa bahkan sakit hati tetapi tetap hatinya yang penuh dengan nama Alexander Moralez Arzallane tak juga membuatnya mampu untuk mengabaikan sang pria kasar itu.
Wanita cantik itu tetap mengkhawatirkan dirinya yang terlihat kesakitan. " Xander ! Hentikan usahamu untuk mengingatnya ! Kau hanya akan merasakan kesakitan. Xander ! " bentak wanita itu akhirnya. Ia merasa sangat cemburu karena usaha Alexander untuk terus mengingatnya, mengabaikan alarm tubuh yang sudah mengirimkan sinyal batas kemampuan tubuh untuk mengingat dengan rasa pening yang ia rasakan.
Dominic sangat tahu betul jika Alexander terus memaksakan diri memgingat memori yang hilang itu, maka pria itu akan mengalami kelumpuhan otak secara permanen. Jelas itu akan memicu saraf dan sistem tubuh yang tak akan lagi dapat berfungsi dengan baik. Dan Dominic tak mau itu terjadi pada sang pria yang sangat di cintainya.
" Aaarrrgghh, " Alexander kembali mengetatkan rahangnya kuat ketika ia masih dengan usaha kerasnya mengingat masa lalunya, mengingat sebentuk wajah yang selalu ia coba ingat dengan susah payah. " Shiiiiittt, sakit. "desisnya tak tahan dengan meremas rambut legam di kepalanya, bahkan kepalan kuat mendarat di kepalanya sendiri untuk mencoba membuatnya dapat mengingat.
Tetapi tak sampai hitungan menit dan brugh ... .
Tubuh kekar dengan dada bidang dan wajah keras yang menawan itu akhirnya limbung dan jatuh menghantam lantai marmer.
__ADS_1
Han Liu yang sigap tak cukup kuat menahan berat tubuhnya hingga keduanya jatuh terjerembab.