
Han Liu mengernyitkan dahi melihat wajah Kinara yang bersemu merah. Gadis itu terlihat semakin menggemaskan, " pipi Anda merah Nona. Apakah ada sesuatu yang Anda lewati dengan tuan Alexander ? " tanya Han Liu penasaran.
Untuk sesaat lagi, ingatan Kinara kembali saat kemarin sang tuan pemilik mansion, Alexander memasuki kamarnya ketika dirinya dalam keadaan tidak memakai apapun. Wajah Kinara memerah sempurna. Kinara ingat bagaimana rakusnya pria tampan dengan aura kejam itu ******* rakus bibirnya. Kinara ingat bagaimana pria dengan tinggi besar itu menatap dirinya yang tanpa menggunakan apapun, ketika pria itu dengan kasar mengurungnya di dinding dan menciuminya dengan rakus.
Kinara menarik nafas pelan, untuk mengendalikan jantungnya yang tiba - tiba berdegub kencang. Jantungnya lemah jika mengingat pesona sang tuan besar pemilik mansion ini, Alexander Moralez Arzallane.
Kinara berdehem sejenak untuk menetralkan jantung dan hatinya yang menjadi berantakan karenanya. Lalu gadis itu mengangkat wajahnya sejenak. Mata indah dengan bulu mata lentik itu mengerjap perlahan, terlihat sungguh menggemaskan bagi Han Liu.
Akh tunggu ! Menggemaskan. Tidak. Kata itu tidak mungkin tercetus dalam benaknya kan ? Hati Han Liu berdesir aneh. Han Liu mengepalkan tangan di bawah meja. Ia harus mengusir perasaan ini secepatnya sebelum membuat dunianya yang datar berantakan.
" Habiskan sarapan Anda ! " ulang Han Liu datar lagi.
Kinara menunduk dan dengan cepat lalu gadis itu menghabiskan sarapannya, setelahnya meneguk habis susu dalam gelasnya, Dan tanpa sadar gadis cantik itu lagi - lagi membuat gerakan yang hampir membuat jantung Han Liu berhenti. Gadis itu terlihat menghapus jejak susu di sudut bibirnya dengan menyapukan lidahnya ke seluruh permukaan bibir merahnya dengan santai. Bahkan ia terlihat seperti sedang menyesap bibirnta sendiri untuk merasai jejak susu yang tertinggal.
Untuk seketika Han Liu meneguk salivanya kasar, pandangan di depannya sungguh membuat jiwa liarnya bangkit, " damn it, apa gadis ini tidak tahu perbuatannya sungguh memyiksa orang lain. " umpatan kasar Han Liu tercetus dalam hatinya. Ingin rasanya pria ini menarik gadis di depannya masuk ke kamar dan memgurungnya seharian, tak membiarkan gadis itu lepas dari pelukkannya walau sebentar.
Han Liu mengepalkan tangannya kuat di atas meja. Menarik senyum tipis yang hampir tak terlihat jika tak memperhatikan pria itu dengan cermat
" Tuan, " panggil Kinara lirih, tanpa rasa bersalah tentunya. Mana Kinara tahu jika tindakannya barusan sudah membuat pria datar dan dingin ini hampir kehilangan kendali.
__ADS_1
" Ehm .... " Kinara berdehem untuk menghilangkan ketakutannya, "Tuan, saya ingin kembali bekerja. Rasanya saya sudah bosan jika hanya terkurung di kamar tanpa melakukan apapun. Lagian kebutuhan saya banyak, belum lagi tanggungan yang harus saya lunasi dengan cepat, " ucap Kinara dengan nyali yang hampir ciut. Bagaimanapun ia sampai di tempat ini karena dijual atau pengganti hutang sebutan yang membuat nyalinya untuk meneguk kebebasan hilang. Sialan, Arkanzaz, umpat Kinara dalam hati.
Kinara harus merelakan kebebasannya untuk sesuatu yang tidak ia lakukan. Bagaimana tidak semua hutang besar pada keluarga Arkanzaz adalah hutang ibunya. Wanita pembawa petaka dalam hidup ayah dan dirinya.
Kinara menghela nafas perlahan, masih menatap takut - takut pada sosok datar di depannya.
" Bagaimana, Tuan ? Apakah boleh ? Saya janji setelah pulang bekerja, saya akan kembali ke mansion ini, " tanya Kinara penasaran. Bagajmana pun tanggungan ayah dan ibunya tetaplah tanggung jawabnya. Merekalah yang sudah merawat Kinara sejak kecil.
Deg.
Untuk sesaat Kinara seperti merasakan ada yang aneh dalam dirinya. Gadis cantik itu mengerjapkan mata sejenak, lalu mengernyitkan dahinya. Ada sesuaty dalam dirinya tadi yang menjadi sebuah ingatan yang terlupa.
Lupa. Satu kata yang kini Kinara ulang berkali - kali. " Apa ya tadi ? Koq jadi lupa ? " gumamnya pelan.
Han Liu hanya mengerutkan dahi bingung.
" And ingin bekerja ? " ulang Han Liu datar. Jari - jari kokohnya mengetuk - ngetuk pinggiran gelas yang belum juga habis ia minum.
" Iya, " jawaban singkat Kinara terdengar di telinga.
__ADS_1
" Ok, ikut saya ! " perintah Han Liu seraya bangkit berdiri. Berjalan dengan gagah menuju sudut di mana lift berada untuk menuju kamar utama di lantai tiga.
Kinara, gadis dengan gaun biru laut itu tampak sedikit kesusahan mengikuti langkah Han Liu yang cepat.
Bersama mereka memasuki lift.
Ting.
Pintu terbuka. Han Liu keluar dengan langkah tegapnya berjalan cepat menyeberangi lorong yang cukup panjang. Baru pertama kali Kinara berjalan di lantai ini, karena tidak semua orang bebas berjalan di kawasan yang dilarang untuk sembarang orang boleh melewatinya.
Kinara berdecak kagum melihat lorong dengan pilar - pilar yang besar, dinding di kanan kiri terlihat angkuh dengan lukisan - lukisan kuno yang cukup horor bagi Kinara. Kinara menyukai lukisan tapi lukisan yang cerah dengan warna yang lembut, tapi sepanjang mata Kinara melihat lukisan itu tampak kuno tapi memancarkan aura yang membuat bulu kuduk berdiri.
" Mereka siapa ? " tanya Kinara pelan dengan rasa penasaran yang tinggi.
Han Liu berhenti sejenak, " Jangan terlalu penasaran dengan sesuatu, Nona ! Itu tidak baik bagi hidup Anda, " peringat Han Liu dingin.
" Cepatlah, Nona ! Saya masih harus ke kantor. "
Keduanya melanjutkan lagi berjalan hingga mencapai sebuah pintu kayu yang kokoh dengan list berwana keemasan. Mewah.
__ADS_1
Ceklek.