
Deg.
Deg.
Jantung Kinara serasa di pacu semakin kuat, wajahnya yang putih terlihat memerah. Tubuhnya meremang seketika, terasa bergetar sampai ke kaki.
Ingin rasanya Kinara berbalik untuk melihat siapa yang sedang berada di belakang tubuhnya. Tetapi mengingat dirinya yang ..., " Akhhh mmmmphft...." jerit Kinara reflek ketika menyadari tubuhnya terbukanya tanpa handuk yang membungkus tubuhnya.
Tangan kokoh dan besar terjulur dari arah belakang tubuhnya langsung membekap bibirnya. "Ssshut up, " Suara bariton terdengar serak di telinga Kinara. Tubuh yang menempel sempurna di punggung mulusnya tanpa jarak menciptakan gelenyar aneh yang membuat udara terasa panas. Sangat panas hingga terasa menyesak dan membuatnya semakin frustasi menahan rasa yang aneh yang semakin liar di permukaan kulitnya.
" Kau, mau menggodaku, hhhmm ? " suara bariton itu terdengar semakin berat.
Alexander sedikit menundukkan kepalanya dan mulai memiringkan kepalanya untuk mengendus leher Kinara. " Harum, " bisiknya tepat di telinga dengan sesekali menjilat cuping gadis itu dengan seduktif.
Tubuh Kinara semakin menegang. Dirinya hanya terpaku, tak berani bergerak, benar-benar hampir tak berdaya, bingung hendak melakukan apa. Otaknya stuck ketika bibir tebal sang tuan besar mulai menyesap perlahan lehernya, tengkuk dan bahunya. Bahkan jilatan dan gigitan ia tinggalkan sebagai bukti kepemilikan.
Alexander mengerang tertahan ketika hasratnya mulai terpancing, hanya dengan menghirup aroma tubuh Kinara. Terasa segar di otaknya dan dirinya menginginkannya sekarang.
Tangan kiri lelaki itu mulai menjulur dan melingkari perut ramping Kinara, memeluknya dengan posesif.
" Mmmphft ... Le ... pas ... kan ! " terdengar suara serak Kinara yang masih di bekap Alexander.
Alexander masih sibuk dengan ceruk leher Kinara yang kini mulai menjadi candu baginya. Bahkan lidah lelaki itu mulai menjilatinya dengan nafas yang mulai tak terkendali.
__ADS_1
Kinara yang merasa dalam bahaya segera mulai menggerakkan tubuhnya, untuk berusaha melepaskan diri. Semakin gadis itu menggeliat, semakin kencang pelukan tangan sang Tuan Besar di tubuhnya. Bahkan tangan kokoh yang tadi membekap bibirnya kini mulai menggunakan jarinya untuk menyusuri belahan bibir merah Kinara.
" Lepaskan, Tuan ! Jangan kurang ajar ! " seru Kinara marah dan reflek menghantamkan kepalanya ke arah dagu sang Tuan besar.
" Akhh, ssshitt, " umpat Alexander ketika kepala gadis dipelukannya menghantam dagunya dengan cukup keras.
Ketika Alexander mengaduh kesakitan, Kinara segera melepaskan diri dari pelukan sang Tuan besar. Tapi detik berikutnya dirinya bukan bersegera mencari pembungkus tubuh tetapi tanpa Kinara sadari dirinya yang merasa kasihan malah berbalik ingin melihatnya kondisi sang Tuan Besar sedang mengaduh kesakitan.
Dan,
Mata Alexander menatapnya tajam, memandang lekuk sempurna yang ada di hadapannya.
" Maaf, Tuan ! " cicit Kinara merasa bersalah, " Salahkan Anda yang ... Akkkhh, " Kinara tidak menyelesaikan kalimatnya ketika dirinya kembali menyadari kebodohannya.
Deg.
" Akh ... Mmmphhfft, " Kinara menjerit tertahan ketika sebuah ******* membungkam bibirnya.
Alexander maju dan segera menerjang tubuhnya hingga keduanya beradu. Alexander bahkan dengan rakus mulai menyesap bibir Kinara, kedua tangannya mulai bergerak melingkari tubuh Kinara dan menekannya ke tubuhnya dangan kuat.
Seakan mendapatkan sengatan listrik dengan beribu volt, tubuh keduanya saling menegang dengan deburan jantung yang semakin menggila.
Untuk beberapa saat tubuh Kinara hanya terdiam. Otak kecilnya bahkan hanya stuck mendapati bibirnya di ***** dengan rakus.
__ADS_1
Gelenyar aneh dan rasa nikmat membuat keduanya terbuai hingga terjadi saling berbalas menghisap.
Alexander sungguh menjadi gila karena bibir Kinara, " manis, " bisiknya lirih masih dengan mencecap, ******* bibir Kinara dengan rakus.
Rasa manis, dan candu membuat seorang tuan besar, Alexander Moralez Arzallane menjadi semakin menggila mencecap rasa manis bibir Kinara yang sudah membengkak karenanya.
Bahkan bibir tebalnya mulai menyusuri lekuk leher jenjang Kinara dan kembali melukis jejak di sana dengan gigitan - gigitan kecilnya.
Kinara mengerang kesakitan sekaligus rasa aneh yang membuat dirinya juga menginginkan lebih.
Alexander yang sudah bergairah kembali menerjang bibir Kinara dan ********** lagi dengan hisapan yang menuntut.
Satu menit ... dua menit ... tiga menit ... lima belas menit kemudian ... .
" Bernafas, bodoh ! " umpat Alexander dengan menggeram ketika di dapati Kinara dengan wajah memerahnya sudah kehabisan nafas.
Kinara yang masih awam hampir kehabisan nafas, jika sang tuan besar tidak melepaskan sejenak.
Tubuh keduanya masih dalam posisi saling berpelukan. Hanya jarak wajah beberapa senti yang mengikisnya.
Alexander menyusur bibir Kinara yang bengkak dan mengkilat karena bekas salivanya yang tertinggal.
Tatapan mata keduanya bertemu dan saling mengunci untuk menyelami kedalaman tatapan mata yang sungguh membuat keduanya terdiam
__ADS_1