
Sebuah senyuman smirk tercetak jelas di sudut bibir merahnya. " Goodjob, honey. Kau selalu bisa diandalkan. " suara wanita itu terdengar serak. Jari - jarinya yang lentik dan halus kemudian membelai rahang sang pria dan merangkum pipinya. " Puaskan aku ! "
***
" Tuan, " panggil Kinara lirih, " Kalau Anda hanya tidur begini, kenapa terlihat sangat tampan ? " tanpa sadar Kinara menyusur rahang keras Alexander yang masih asyik dengan ketidaksadarannya dengan jari lentiknya.
Yah Kinara di tinggal sendiri di dalam ruangan sang tuan besar. Menurut Han Liu itu bagian dari pekerjaan yang di sepakatinya dengan pria sedatar kanebo. Kinara harus menjaga sang tuan sepanjang hari. Termasuk juga dengan membersihkan tubuh sang tuan, mengganti pakaian dan mengawasi semua orang yang bisa keluar dan masuk ke dalam ruangan.
Kinara masih menopang dagu dengan tangan kirinya, memperhatikan lamat - lamat pria arogan sang penguasa. Tetapi itu pun tidak mengurangi ritme jari jemarinya yang masih menyusur rahang sang pria.
" Kalau diam begini, telihat tampan, dan menggemaskan, " lirih Kinara sambil mencubit gemas pipi Alexander.
Gadis cantik itu tertawa lirih ketika dirinya bisa merasakan pipi dan rahang tegas sang pria arogan ini, " Hehehe, coba kalau mendadak bangun dan aku masih seperti ini, " celoteh Kinara seraya menoel hidung Alexander yang mancung, " pasti ngamuk tujuh turunan, hehe ... . Mumpung masih tidak sadar, lumayan bisa toel - toel gratis. "
Kembali Kinara terkikik geli. Seharian di kamar Alexander sejak tadi pagi pria itu meninggalkannya di kamar, Kinara bingung akan berbuat apa. Tidak ada ponsel sekedar membuka media sosialnya yang entah dari berapa tahun tak ia buka, atau sekedar membuka ruang obrolan mungkin ayahnya menghubunginya.
Kinara menghela nafas berat. Ingatan akan sosok pria yang menjadi ayahnya terasa mengusik akhir - akhir ini. Ada panggilan yang terasa aneh diucapkan ketika memanggil ayah, tapi ingatannya membawa panggilan yang berbeda. Seharusnya papa bukan ayah.
__ADS_1
Deg.
Sekali lagi gadis itu menarik nafas sepenuh dada, mengisi setiap rongga dadanya dengan udara segar. Terasa ada sesak yang menjalar, rasa sedih yang entah dari mana asalnya mendominasi hatinya kini. Rasa frustasi karena kesulitan untuk mengingat membuat wajah Kinara seperti orang yang berbeban berat.
Sebuah ingatan gelap yang sangat menakutkan tiba - tiba terlintas dalam pikirannya. Kinara menutup mata sejenak, mencoba menjeda ingatannya supaya ada gerakan lambat yang mampu ia rasakan dan ingat dengan gamplang sebuah peristiwa aneh di masa kanak - kanak.
Jujur ada ingatan Kinara yang terlupa yang selalu membuat dadanya sesak seperti ini, rasa perih, sakit hati dan ketakutan yang teramat dalam.
Deg.
Kalung.
Ya, Kinara harus mencari kalung itu, sepertinya ada sesuatu yang akan menjadi kunci dari semua. Dan lagi, itu juga merupakan pesan ayahnya sebelum mereka berpisah karena suatu hal. Ya Kinara harus mencarinya dari kamar sang tuan besar. Karena kalung itu di ambil pria itu ketika pertama kali Kinara menginjak mansion Arzallane ini.
Setelah memastikan tidak ada kamera pengawas, Kinara mulai menyusuri kamar. Dengan langkah hati - hati, gadis cantik itu memeriksa laci nakas, tempat terdekat dengannya duduk sekarang.
Laci nakas pertama hanya ada beberapa berkas dalam map kuning. Laci nakas kedua ada beberapa senjata seperti beberapa pisau kecil dengan ukiran aneh di kepala gagangnya, sedang laci ketiga kosong.
__ADS_1
Kinara meraba sampaj ujung bagian terdalam di dalam laci, memang kosong. Sampai laci nakas keempat, laci nakas yang terletak paling bawah, jantung Kinara seakan di pompa keluar. Tangan lentiknya meraih sebuah kotak coklat seperti sebuah peti kecil dengan kunci terbuka. Di sisi peti kecil ada kunci yang tergeletak, sepertinya sang tuan lupa menutupnya.
Kinara meraih kotak itu dan membuka pengaitnya.
Deg.
Sebuah buku tebal. Ada getaran aneh dalam hatinya begitu melihat buku bersampul biru dengan gambar seorang penari.
Kinara mengambil diary itu dan mendekatkannya ke indera penciumannya. Hatinya menuntunnya untuk menghirup wangi buku itu. Kinara menghirup wangi buku itu yang ia yakini, ada wangi yang ia hafal. Ia merasa familiar dengan wangi buku ini.
Deg.
Bulu kuduk Kinara meremang, hatinya terasa berdesir. " Wangi ini sama dengan dua puluh tahun lalu, wangi yang sangat familiar, " batin Kinara menebak.
Sebuah embusan nafas yang sedikit tercekat terdengar kasar. Kinara mencoba menguasai diri, untuk tidak terlalu ingin tahu. Tetapi hati kecilnya seakan menuntutnya untuk segera membuka buku diary berwarna biru yang kini ada di pangkuannya.
***
__ADS_1
Bersambung