Tuan Besar

Tuan Besar
Bab 38. Apakah Masih Ada Mujizat ?


__ADS_3

Ryan Juville bernafas dengan perlahan, sekalipun lukanya sudah menganga sangat banyak dan darah sudah menetes dimana - mana. Sisa perasaan jeruk juga masih terasa perih, tapi sebisa mungkin Ryan Juville menahannya dan tetap sadar. Dengan pandangan sedikit kabur, dirinya mencuri lihat pemandangan yang menggetarkan hatinya. Genangan darah dan tubuh - tubuh yang tergeletak tanpa nyawa dengan luka di perut yang sangat mengerikan.


Ryan Juville berusaha untuk tetap sadar sekalipun tubuhnya terasa sangat remuk dan perih yang teramat sangat di beberapa luka yang terbuka. Tubuhnya benar - benar kepayahan.


Ryan Juville melirik sekilas Aljendro Stewartz. Dilihatnya sosok Aljendro terduduk dilantai dan nampak frustasi. Tangannya penuh darah.


Ryan Juville menutup mata kembali, bernafas dengan sangat perlahan. Dirinya berharap jika ada sebuah mujizat terjadi, bisa lepas dan keluar dari tempat ini dengan selamat. Hanya andai sebuah kata yang berarti jika ... . Karena rasanya sangat mustahil bisa keluar dengan nyawa yang masih utuh di raga jika Aljendro sudah kalap seperti hari ini.


" Tunggu, apakah ini ada hubungannya dengan gadis itu ? Yah aku melupakan seseorang. Aliana Stewartz. Astaga pantas saja Aljendro menggila. " Ryan Juville berpikir dalam hatinya tentang kejadian di luar prediksinya. Laki - laki itu mengingat seorang gadis yang datang ke mansion Alexander dan mau menjadi wanita Alexander. " Aliana Stewartz ? "


Ryan Juville merenung dalam kepayahannya. Merangkai semua menjadi gambaran yang nyata hingga titik ini. Hal biasa yang manusia lakukan ketika detik - detik ajal menjemput. Perenungan akan masa lalu dengan segala kelakuannya.


Yah, masa lalu seorang Ryan Juville pun sama kelamnya. Sekalipun gelar dokter melekat pada namanya tapi itu semua di bayar dengan sangat mahal dengan pengabdian penuh darah yang harus dilaluinya tanpa diketahui oleh siapapun, termasuk seorang Alexander Moralez dan Han Liu, sahabatnya. Walaupun keduanya tahu bahwa dirinya juga termasuk pembunuh berdarah dingin tetapi mereka tidak pernah tahu bahwa seorang Ryan Juville pernah bekerja sebagai pengawal andalan Aljendro Stewartz.


Ryan Juville terdiam dengan rasa lemah yang semakin membuatnya tak berdaya.


Ryan Juville melirik sekilas lagi ke arah Aljendro.


Sepuluh orang bodyguard sudah mati sia - sia, tanpa perlawanan. Entah para pengawal yang lain apakah masih hidup atau bernasib sama ? Atau bisakah mereka melarikan diri ? Sedangkan kejadiann itu sangat cepat dan mendadak, walaupun dilakukan dengan pengaturan yang matang. Apakah mereka yang tidak disini juga masuk dalam barisan mata - mata yang ditempatkan Aljendro di sekitar Alexander atau bukan ?


Ryan Juville masih dalam posisi tergantung dengan tubuh yang sangat lemah. Apalagi sudah tiga hari lebih tanpa makanan dan air yang masuk.


Saat seperti inilah, Ryan Juville mengingat Penguasa dunia, " Oh God, " desisnya peelahan.


" Andai Kau berikan aku kesempatan hidup sekali lagi ... rasanya aku sungguh ingin bertobat dari jalanku yang penuh darah ... . "


Brakkk.


Pintu di buka dengan kasar dari luar. Beberapa laki - laki berjaket hitam masuk.

__ADS_1


" Permisi, Tuan. Mari saya topang Anda untuk ke kamar. " terdengar seseorang berbicara kepada Aljendro yang masih terduduk di lantai.


" Maaf kami membuka pintu dengan kasar, Tuan. Karena saya khawatir Anda terluka. " seorang berujar dengan tubuhnya sedikit membungkuk untuk meminta ijin sebelum meraih tubuh jangkung yang terduduk di lantai.


Laki - laki setengah baya itu nampak dengan penuh rasa hormat membantu Aljendro berdiri dan memapahnya keluar ruangan.


" Bersihkan semuanya dengan benar ! Buang semua mayat ke hutan, biar menjadi santapan penghuni hutan milik Tuan Aljendro. Sudah lama mereka tidak mendapat asupan gizi. " seorang dengan dingin memerintah beberapa anak buahnya yang lain sambil tersenyum culas.


Beberapa saat kemudian, semua anak buah dengan jaket hitam bergerak dengan cepat membersihkan ruangan dan menyeret tubuh - tubuh tak bernyawa yang tergeletak di lantai.


Ryan Juville menghela nafas perlahan dan meraup sebanyak - banyaknya oksigen sebelum dirinya menahan nafas agar tidak ketahuan bahwa nyawanya masih utuh di tubuh lemahnya.


Tapi rasa berat dan lemah di tubuhnya tiba - tiba menyerang. Sedikit panik, Ryan Juville berusaha untuk tetap tenang, dan tetap menjaga kesadarannya. Karena setelah di bawa keluar dari ruangan ini menuju hutan, pikir Ryan Juviille, dirinya masih punya kesempatan untuk bertahan hidup. Tetapi rasa yang sangat tenang dan entah apa, yang jelas tiba - tiba perasaan itu datang seperti rasa kantuk yang datang menyerang secara tiba - tiba dan membuat Ryan Juville menutup matanya perlahan.


Ryan Juville menutup mata, kali ini sungguh sudah tidak kuat lagi. Pandangannya mengabur bersamaan dengan kesadarannya yang mulai hilang.


Sedetik sebelum hilang kesadarannya, Ryan Juville masih merasakan beberapa laki - laki yang sedang melepaskan ikatannya dan menyeret tubuhnya dan melemparkan tubuhnya ke atas mobil pick up di halaman luar.


Mobil akan berjalan keluar dari halaman bangunan dengan pagar - pagar yang tinggi sebagai pembatas, tetapi ada seseorang yang naik ke atas bak belakang dengan diam - diam. Duduk dengan tenang di atas tumpukan mayat - mayat yang penuh bau anyir darah. Wajahnya tertutup masker, dengan topi hoddie yang menutup sempurna kepalanya.


Mobil bergerak dengan cepat menuju luar ke arah tengah hutan yang sangat menyeramkan.


Hari beranjak malam. Cahaya rembulan hanya sedikit yang bisa menembus rimbunnya pepohonan.


Seseorang dengan bantuan sinar rembulan, dengan ketajaman mata yang terlatih sedang mencoba memperhatikan satu demi satu tumpukan mayat. Matanya yang tajam, menelisik wajah - wajah yang berlumuran darah untuk memastikan orang yang sedang dicarinya. Hal yang menguntungkan adalah bahwa mayat tertumpuk dengan posisi yang berjajar sama sehingga memudahkan mengamati wajah - wajah yang mulai nampak menyeramkan di tengah hutan yang gelap.


Senyumnya muncul ketika matanya bertumpu pada seorang yang tergeletak tak jauh dari kakinya. Dengan cepat orang tersebut meraih sesuatu dari balik hoddie hitamnya dan dengan cekatan meraih pangkal lengan Ryan Juville dan menusukkan jarum suntikan yang berisi penuh cairan berwarna bening.


" Semoga Sang Penguasa melindungimu. " seseorang berucap dalam hatinya.

__ADS_1


Detik berikutnya di antara batang - batang pepohonan yang melintang rendah di atas jalan, tangan orang itu segera meraih batang pohon terdekat dengannya dan mengayun perlahan sehingga tubuhnya sekarang berada di atas dahan pohon.


" Semoga ini bisa membantumu bertahan di tengah hutan sana, sobat. Sekalipun itu tidak mungkin. Tapi paling tidak aku tidak berhutang budi atas pertolonganmu 5 tahun lalu, di hutan ini. " gumam seseorang. " Maafkan aku tidak bisa membantu lebih karena hutan inipun penuh dengan kamera tersembunyi. " gumamnya lagi dan kemudian berayun lagi ke dahan lain untuk menyelinap di tengah gelapnya hutan.


***


Di bagian kota lain, nampak tubuh seorang laki - laki terbaring dengan beberapa alat dan selang yang terhubung pada panel indikator. Tubuh atas telanjangnya nampak lemah dan tak berdaya.


" Bagaimana kondisinya ? " seseorang dengan lembut bertanya pada seorang perawat. Mengamati sejenak wajah pucat yang tetap terlihat menawan sekalipun matanya tertutup rapat.


" Cukup stabil, Dok. Tapi racun itu menyebabkan kelumpuhan pada otaknya sehingga kemungkinan kecil ingatannya bisa pulih. Sepertinya ada blok khusus yang diciptakan sehingga pasien mengalami penurunan dalam kemampuan untuk mengingat. " seorang sedang mencoba menjelaskan diagnosanya.


Dokter berkacamata itu hanya diam tidak berkomentar.


" Itu bukan kelumpuhan otak, Cel. " tangan Dokter itu menggulung kertas tulisan perawatnya dan memukulkan pada bahu perawatnya.


Senyumnya tampak cerah.


" Nah kalo tersenyum begini, Anda terlihat sangat cantik, Dokter. Dan ... tidak terkesan sebagai dokter killer berdarah dingin. " perawat itu tertawa menggoda.


Seraut wajah cantik dengan senyum yang sempat mengembang berubah kaku dan dingin.


" Jaga bicaramu, Cel ! " tegas Dokter itu.


Suasana nampak dingin.


" Buat dengan benar ! Ini dipakai ! " Dokter itu berucap dengan dingin sambil menunjuk bagian dahi laki - laki di depannya.


***

__ADS_1


Saat yang bersamaan, situasi kacau dan menegangkan sedang melingkupi ruang kerja Alexander Moralez. Nampak Han Liu dengan wajah yang kacau sedang berusaha meretas banyak airport untuk memastikan dimana pesawat jet pribadi Alexander Moralez telah landing. Beberapa orang dengan laptop masing - masing sedang melakukan peretasan yang sama.


" Oh shi**** ! " Han Liu memukul meja dengan keras. Perasaannya sangat cemas akan kondisi tuan besarnya.


__ADS_2