
Ada perasaan gelisah yang tiba - tiba ketika mengingat belati tengkorak berwarna keperakan tersebut dengan keberadaan seseorang yang dirinya bawa saat keluar dari Laboratorium tempat dirinya di sekap beberapa waktu lalu. Seorang lelaki kurus dengan rambut panjang.
Ingatan terakhirnya ketika berada di ruang sempit sebuah ruangan di bawah tanah laboratorium milik Thomas Soarez, dengan seorang pria kurus tak terurus, bahkan sekujur tubuhnya dipenuhi luka. Nampak miris dan sangat mengerikan penampakannya.
Tetapi dari semua yang nampak janggal adalah lukisan kecil di tembok lembab di belakang tubuh pria tersebut. Lukisan tengkorak dengan warna keperakan yang masih terlihat jelas walau dinding bercat kusam dan lembab.
Alexander mengernyitkan dahi sejenak mencoba menggali ingatannya lagi, karena belati yang sama nampak berserakan di samping pria itu. Belati dengan gagang kepala tengkorak berwarna keperakan.
Alexander Moralez terhentak kaget dengan pemikirannya sehingga kakinya menyelinap cepat di antara pepohonan sampai berada di samping seseorang yang tergelatak tak jauh dari tempatnya berdiri. Tubuh Alexander akan bergerak menunduk untuk meraih senapan yang tergeletak di samping seseorang tersebut tetapi sebuah gerakan cepat dari orang yang terbaring di tanah itu membuat Alexander Moralez melompat menghindar. Sebuah sabetan benda tajam berhasil merobek pinggangnya.
Seorang yang tergeletak tersebut ternyata hanya berpura - pura mati. Gerakan pria tersebut sangat gesit. Menebas apapun yang terdekat dengannya.
Alexander yang merasakan tubuhnya belum pulih sedikit kewalahan menghadapi serangan mendadak tersebut. Bahkan sebuah sabetan belati nampak merobek lengan kekarnya dan pinggangnya hingga terlihat darah merembes dengan cepat di kemejanya.
Tak selang lima menit pun beberapa orang dengan hoddie hitam nampak berkelebat mendekat dan ikut menyerang Alexander Moralez.
Alexander Moralez yang di serang bersamaan tampak semakin kewalahan apalagi dirinya melawan dengan tangan kosong. Tubuhnya beberapa kali terhuyung terkena pukulan dan tendangan dari para penyerang.
Bugh. Bugh. Bugh.
Pukulan bertubi - tubi bersarang di tubuh tegapnya yang mulai oleng. Tenaganya tak cukup kuat melawan serangan bertubi - tubi dari pihal lawan. Tubuh Alexander berkali - kali terpental kesana kemari dengan pukulan bertubi - tubi.
Keenam pria berhodie hitam itu mengepung Alexander dengan senjata lengkap di tangan. Sekalipun hanya belati kecil tetapi ternyata mereka sangat piawai memainkan belati tersebut.
Han Liu yang melihat Tuannya sedang di kepung dan di serang dengan brutal oleh beberapa orang pria itu bermaksud mendekat dan membantu tetapi ternyata di belakangnya kini seorang pria dengan masker hitam dan hodiie hitam juga sedang mengarahkan belati dengan ujung yang sudah menyentuh lehernya. Bahkan belati tersebut juga sudah menyayat kulit leher Han Liu.
" Oh **** !! " umpat Han Liu tertahan. Lehernya terasa perih. Darah segar merembes perlahan.
__ADS_1
Han Liu menghentikan gerakan menyerangnya sekejap ketika telinganya menangkap suara Kinara yang juga merintih tertahan. Terlihat darah mulai menitik dari permukaan kulit putih leher Kinara.
" Sial, ini terlalu cepat. " batin Han Liu mengumpat dalam hati. Dirinya sungguh tak menyadari bahaya yang sedang mengancam. Sangat teledor. Untuk kedua kalinya Han Liu tidak mampu memprediksi situasi yang ada di sekitarnya. Nyawa sang Tuan Besar yang harus dijaganya malah sedang dalam bahaya.
" ****, " umpat Han Liu dalam hati. Rahangnya mengeras menahan emosi. Antara Tuan Besar dan Nona Kinara.
Han Liu hanya terdiam sejenak, rasa dingin dari benda tersebut cukup membuat pikiranannya stuck sejenak. Han Liu terdiam berpikir taktis untuk segera melumpuhkan dua orang yang entah datangnya dari mana sudah mengarahkan senjatanya ke arah Han Liu dan Kinara.
Wajah Kinara memucat karena ujung belati sudah menekan lehernya. Ujungnya tertekan ke dalam bahkan karena gerakan Kinara yang memberontak membuat ujungnya menggores permukaan kulit leher Kinara. Kinara semakin memberontak berusaha melepaskan diri. Tak dirasakan tekanan pada lehernya, pikirannya hanya satu menolong pria di ujung sana yang sedang di keroyok enam pria berhodie hitam.
" Lepas ! " sentak Kinara marah dengan mengarahkan kepalanya ke belakang menyundul keras dagu orang yang berada tepat di belakangnya.
" Argggh, " lenguh seseorang yang berada di belakang Kinara.
Sundulan yang cukup keras di dagunya membuat pria tersebut mengaduh kesakitan dan terhuyung ke belakang.
Dengan cepat Kinara merebut senjata yang tadi dipakai untuk menekan lehernya dan mengarahkan ke perut pria tersebut. Entahlah semua terlihat sangat cepat sehingga gadis itu sudah melompat turun ke tanah yang lebih rendah dan berlari ke arah Alexander Moralez yang sedang di kepung enam pria.
Entah keberanian dari mana , Kinara melompat ke tengah perkelahian dan ikut melakukan perlawanan. Gerakan gadis itu terlihat sembarangan dan sembrono.
" Hahaha ... ternyata seorang Alexander Moralez Arzallane memiliki bodyguard yang sangat cantik, wow ... menarik, " seorang berseru mengejek Alexander yang berdiri dengan sedikit terhuyung.
Kinara berdiri di samping Alexander dengan tubuh kecilnya menjadi tameng lelaki itu. Tangan kanannya mencekal tangan Alexander, menahan lelaki itu untuk tidak ambruk ke tanah.
" Mengapa ke sini ? Merepotkan saja, " suara dingin Alexander terdengar bergetar. Rasa cemas dan marah bercampur menjadi satu. Tak habis pikir Alexander melihat gadis di sampingnya, keberanian dari mana sehingga gadis itu melemparkan dirinya di tengah perkelahian. Sesuatu yang sangat berbahaya.
Senyum meremehkan terlihat di sudut bibir para lelaki itu.
__ADS_1
Kinara menggerakkan belati di tangannya dengan sembarangan bermaksud untuk menakuti.
" Jangan mendekat ! " perintahnya marah sambil mengacungkan belati ke arah depan.
" Nona cantik, seharusnya tangan mulusmu jangan bermain dengan belati itu. Itu tidak baik. Alangkah lebih baik jika kau bermain dengan milik kami. Mengelus, memijat, okh ... pasti nikmat. " seru seorang pria dengan tubuh kurus tingginya dengan suara mesum dan senyum smirk di ujung bibirnya.
" Kami akan membuatmu mendesah puas hahaha ... . " lanjut seorang yang lain sembari mencolek dagu Kinara.
" Hahahha, " tawa para pria lain terdengar bergemuruh.
Senyuman mesum dan tatapan penuh damba terlihat sangat menjijikan bagi Kinara. Bahkan tubuh gadis itu sedikit bergidik ngeri melihatnya.
Kinara berdecih marah dan jijik.
" Pergilah ! " suara lirih Kinara terdengar sangat dingin.
" Ayolah, honey, tinggalkan laki - laki itu ! Dia tak kan bisa memuaskanmu, tubuhnya sudah lemah ... Ayolah ! " seorang bergerak mendekati Kinara dan menarik tangan kirinya.
Alexander Moralez yang melihatnya terlihat sangat marah, tangannya terkepal kuat. Tubuhnya yang sempoyongan dia tegakkan untuk mengumpulkan kekuatan.
" Lepaskan, gadis milikku ! " seru Alexander marah.
" Diam kau ! " seorang menendang Alexander.
Alexander terpental jatuh ke tanah. Tubuhnya sudah tak cukup kuat menahan tendangan yang bertubi - tubi. Bahkan darah segar sudah ia muntahkan dari mulutnya.
Wajah Kinara memucat ketika melihat Alexander yang tergeletak di tanah. Rasa marah dan jijik terkumpul menjadi satu sehingga terlihat wajah gadis itu menampakkan aura aneh yang sangat mengerikan.
__ADS_1
-- bersambung
Tuan Besar up lagi. Jangan lupa koment. like dan votenya yah. Tetap dukung karya ini supaya saya tetap semangat up. terima kasih untuk semua dukungannya.