Tuan Besar

Tuan Besar
Bab 28. Dendam


__ADS_3

Dengan marah, Claudya Nouevell menginjak kaki bodyguard dengan high heelnya.


Reflek keduanya mengaduh dan Claudya Nouevell menggunakan kesempatan untuk lepas dan berlari masuk kembali ke dalam ruangan dan menghambur memeluk Alexander Moralez.


" Aku kangen, Al. "


Alexander Moralez reflek menghempaskan tubuh Claudya Nouevell dengan berang. Rasa jijik ketika bersentuhan dengan wanita membuatnya bergidik ngeri. Rasa mual mulai menggelitik perutnya.


Alexander Moralez menatap tajam Claudya Nouevell.


Tubuh Claudya Nouevell terhempas ke lantai dengan keras.


" Aw ... Al. " Claudya Nouevell berteriak histeris. Tubuhnya terasa remuk.


" Al, "


Nampak wajah Alexander Moralez memerah, menahan amarah karena Claudya Nouevell berani menyentuh tubuhnya.


" Menjijikan ! Pahami batasanmu, wanita ****** ! " ucap Alexander Moralez dingin.


" Hai, kalian," panggil Alexander Moralez kepada para bodyguardnya, " Aku sudah memerintahkan pada kalian, wanita itu tidak boleh melewati pagar ! Mengapa masih bisa masuk sampai disini ? " tanya Alexander Moralez sambil memandang dengan tajam para bodyguard.


" Ampun, Tuan ! Kami sudah melarang dan mengusirnya tetapi Nona Claudya memaksa dan menerobos masuk. " ucap seorang bodyguard.


" Bawa perempuan ini keluar ! Kalau dia tidak mau keluar, potong kakinya, lempar ke jalanan atau terserah kalian mau kalian apakan wanita itu. Dia untuk kalian. " ucap Alexander Moralez marah.


" Jika wanita ini masih bisa berkeliaran sampai halaman saja, habis kalian. " ucap Alexander Moralez sambil mengibaskan tangan, mengusir wanita itu keluar mansion.


" Al ! " teriak Claudya Nouevell marah. " Kau tidak bisa melakukan ini padaku. Aku tunanganmu. Apa kata orang - orang jika rencana pernikahan kita batal ? Aku tidak mau menanggung malu sendiri, Al. Aku akan umumkan bahwa seorang Tuan Besar Alexander Moralez Arzallane dari Xander and Arzallane Corp adalah seorang impoten. Seorang yang tidak bisa mempunyai keturunan karena miliknya tidak berfungsi dengan normal. Haahaha ... . " cibir Claudya Moralez dengan berapi - api.


" Tapi aku akan menutup rapat - rapat kenyataan bahwa seorang Alexander Moralez Arzallane seorang impoten jika Kau mau menikah denganku. Tidak masalah jika Kau tidak mampu, aku akan mengajarimu sampai Kau menjadi pulih, Al. " ujar Claudya Nouevell lagi berharap perkataannya dapat memaksa Alexander Moralez untuk segera menikahinya.


" Persetan dengan omong kosongmu, Clau. Aku tidak peduli. " desis Alexander Moralez sambil berlalu dari tengah ruangan untuk masuk kembali ke walk in closet.


Alexander Moralez merasa sangat kotor dan harus membersihkan diri dari kuman - kuman yang menempel.


" Bereskan, dia ! " perintah Alexander Moralez lagi kepada para bodyguard sebelum mencapai pintu.


Dengan sekali tarikan, seorang bodyguard menyeret tubuh Claudya Nouevell ke ruang bawah tanah, tempat para tawanan Alexander Moralez biasa mengeksekusi para korban.


" Lepaskan ! Al ! Kau gila Al. Lepaskan ! Dasar laki - laki impoten. Al. " Claudya Nouevell berteriak memanggil Alexander Moralez.


" Lepaskan ! "


" Diam ! " seorang bodyguard membentak Claudya Nouevell.


" Kurang ajar, Kau berani denganku ? Awas saja, kau. Aku pastikan Kau orang pertama yang kupecat setelah aku resmi menjadi Nyonya Moralez. " ucap Claudya Nouevell dengan sombong.

__ADS_1


" Lepaskan ! Jangan menyeretku seperti maling. Lepaskan ! " Claudya menjerit semakin kencang.


Seorang laki - laki besar dengan jengkel memukul tengkuk Claudya Nouevell yang terus berteriak - teriak dan berontak melepaskan diri.


Tubuh Claudya Nouevell hampir luruh di lantai, beruntung seorang bodyguard menangkap tubuhnya dan menggendongnya. Claudya di masukkan kedalam ruangan paling ujung, bersebelahan dengan ruangan Aliana Stewartz.


***


Di kamar, Alexander Moralez tampak gusar. Wajahnya memerah menahan amarah.


Impoten, satu kata yang sangat mengerikan baginya.


Alexander Moralez menggertakan giginya dengan kemarahan yang sangat luar biasa.


Dengan kasar, Alexander Moralez meraih botol wine dari dalam lemari pendingin. Menenggaknya langsung dari botol.


Ada kegelisahan yang sangat dalam, rasa marah dan dendam yang bersatu yang telah mendarah daging di dalam tubuhnya.


Alexander Moralez terus menenggak isi botol dengan rakus.


Sebuah tarikan nafas terdengar kasar.


Ingatan buruk yang menjadi trauma paling menakutkan dalam diri seorang Alexander Moralez berloncatan di dalam pikirannya.


20 tahun lalu di sebuah kamp.


Nampak seorang lelaki seumuran ayahnya sedang melakukan tindakan pelecehan kepada seorang anak laki - laki seusianya.


Bocah itu dengan sangat kesakitan menahan rasa perih di bagian belakang tubuhnya.


Alexander Moralez bergidik ngeri dengan tubuh yang terikat dan mata yang dipaksa terus untuk dibuka.


Seorang laki - laki setengah baya dengan memegang besi panas didekatkan dengan bola mata Alexander Moralez. Rasa panas dari bara yang terpancar terasa sangat panas membuat Alexander kecil terpaksa melihat hal yang sangat menjijikan.


Lelaki bertatto itu terus memasukan miliknya dengan menghentak sangat keras dengan terus memukul bagian belakang bocah laki - laki yang hampir pingsan karena tubuhnya sudah penuh dengan lebam akibat pukulan dan rasa sakit pada areanya.


Alexander Moralez hampir menutup mata merasakan jijik dan muak ketika rasa panas dari bara besi panas hampir menyentuh ujung matanya.


Hampir setiap hari Alexander kecil melihat pemandangan yang sangat menjijikan. Alexander dalam posisi tangan terikat didudukan tepat di depan para korban yang sedang dilecehkan oleh laki - laki bertatto itu. Alexander dipaksa untuk melihatnya dibawah intimidasi besi panas yang siap melubangi matanya jika dirinya tidak membuka mata.


Alexander kecil sangat jijik melihat adegan demi adegan yang seharusnya tidak dilihatnya di usia kanak - kanaknya.


Entah laki - laki itu melakukannya dengan anak - anak laki - laki atau dengan perempuan - perempua bayarannya. Alexander akan di dudukan dengan tangan terikat dan mata yang harus memperhatikan dengan fokus.


Hingga suatu hari, sebuah tangan dengan kasar membangunkannya dari tidur dan menariknya dengan keras.


" Ayo ikut Aku ! " Seorang penjaga menarik Alexander menuju sebuah ruangan yang biasa Alexander masuki untuk melihat adegan - adegan tak senonoh.

__ADS_1


Alexander melangkah terseok dengan tubuh lemahnya akibat cambukan beberapa hari lalu yang masih menimbulkan ruam dan rasa perih saat bergesekan dengan kaos yang Alexander pakai.


" Ini, Tuan. " ujar seorang penjaga yang tadi mengantarkan Alexander.


" Bocah sialan, gara - gara Kau, Aku kehilangan wanita yang kucintai. Kurang ajar ! " teriak seorang laki - laki bertatto dengan seringai penuh kemarahan sambil terus menenggak alkohol langsung dari botolnya.


Tubuh Alexander Moralez ditarik dan dihempaskan di atas meja billyard.


" Tidak, Paman. Lepaskan ! " teriak Alexander memohon untuk dilepaskan.


Dengan kasar seorang mulai memukul Alexander dengan membabi buta. Cambuk panjang sudah puluhan kali melecut di bagian punggung Alexander Moralez. Luka yang belum sempurna sembuh memerah lagi akibat cambukan pada kulit Alexander. Darah sudah merembes pada kaos putih yang dikenakan Alexander.


" Ampun, Paman ! Salah Ale apa ? Sampai Paman memukul dan menyiksa Ale ? " suara Alexander lirih mempertanyakan kesalahannya.


Kaos yang melekat di punggung Alexander sudah robek - robek. Kulitnya pun sudah mengeluarkan darah.


Laki - laki bertatto itu hanya meminum alkohol langsung dari botolnya. Memandang Alexander dengan tajam dan penuh rasa benci.


Alexander melenguh kesakitan ketika tiba - tiba laki - laki itu mengambil besi panas dan menaruhnya dia atas punggungnya.


Alexander menggigit bibirnya kuat - kuat menahan rasa terbakar pada punggungnya.


" Paman ! Sakit ! " Alexander merintih. Suaranya sudah tidak bisa keluar lagi karena sudah serak akibat berteriak seharian.


" Gara - gara kau, Aku kehilangan wanitaku. Wanita brengsek itu lebih memilih Albert Arzallane dari pada Aku. Kau tahu ? " suara laki - laki itu bertanya sambil menekan besi panas pada punggung Alexander.


Alexander ingin berteriak tetapi tenggorokannya sudah kering dan suaranya menghilang.


" Laki - laki brengsek itu sudah mengambil milik Leonaku dengan paksa sehingga Leona terpaksa menikah dengan Albert. Kurang ajar. Leona meninggalkan aku di hari pernikahan kita. Perempuan ****** itu lebih memilih Albert Arzallane yang kaya raya daripada kekasihnya yang bertahun - tahun sangat mencintainya. Akhhh ... . " Lelaki bertatto itu berteriak. Rasa benci dan marah melebur menjadi satu.


Tubuh Alexander menegang ketika tangan kasar lelaki itu menariknya, memaksanya untuk setengah berdiri. Punggungnya yang penuh luka bakar dan bekas cambukan terasa sangat sakit sekali.


Air mata bocah tujuh tahun itu sudah mengalir deras.


" Paman, sakit, " ucap Alexander lirih, karena merasakan tangan laki - laki dibelakangnya menekan lukanya dengan tangan besarnya.


" Akh ... !! " Suara Alexander seperti tertelan sendiri karena sudah serak.


Tubuh Alexander menegang dengan sempurna ketika laki - laki bertatto dibelakangnya memasukkan miliknya ke bagian tubuh Alexander dengan kasar. Rasa sakit dan perih yang luar biasa. Rasa jijik yang membuat Alexander benar - benar menggeram dengan penuh dendam.


Laki - laki itu terus menghentak dan menekan luka di punggung Alexander.


" Hahahaha ... Leona sayang Kau harus menikmatinya. " ujar laki - laki itu dengan penuh penekanan sambil terus menghentak bagian belakang tubuh kecil Alexander berulang kali.


" Hahaha ... . " tawa kepuasan terdengar sangat mengerikan di belakang tubuh Alexander ketika hasratnya sudah mencapai puncak.


Tubuh Alexander dilepaskan begitu saja dan terkulai tak berdaya.

__ADS_1


- bersambung


__ADS_2