
Dominic tersenyum senang. Tangan halusnya menyentuh pundak Alexander Moralez dan membelainya perlahan sampai pangkal sikunya.
" Menjijikkan. " umpat Alexander Moralez dalam hati. Dikuatkan tubuhnya untuk tidak merespon sentuhan wanita disampingnya dengan respon berlebihan.
Sepertinya penyakitnya mulai kambuh, perut Alexander Moralez mulai bergolak. Sekali lagi Alexander Moralez mensugesti pikirannya untuk tetap tenang.
" Perempuan sialan ! " rutuk Alexander Moralez dengan mengerahkan semua pertahanan dirinya.
" Aku menyukainya sejak dulu, Dad. " ungkap Dominic kepada Daddynya, Tuan Soarez sambil sesekali tangannya membelai pipi Alexander Moralez.
" Dad, ingatkan jika kami dulu selalu bersama, hanya karena si udik Kinara datang, Alexander menjadi berubah. Mama Leona juga ikut berubah. Akh, untung aku sudah minta om Thomas untuk membunuhnya. "
Deg. Jantung Alexander Moralez berdegub dengan kencang. Tangannya mengepal dengan sempurna di balik selimut. " Kinara, siapa dia ? "
" Seharusnya kalung itu milikku, tapi si udik itu merebutnya dariku. Aku sangat membencinya, Dad. Dia pantas mati. "
Deg. Alexander Moralez hampir saja memuntahkan isi perutnya ketika mendengar pengakuan putri pamannya Billy Soarez.
Perut Alexander mulai bergolak bersamaan rasa jijik yang semakin memuncak akibat sentuhan dari Dominic. Dengan susah payah, Alexander Moralez menahan rasa jijik yang mulai menggelitik dalam perutnya. Tapi Alexander masih menahannya, karena masih banyak hal yang perlu di dengar langsung dari mulut Billy Soarez, daripada harus memaksanya karena terlalu sulit mengorek keterangan. Anak buah yang dikerahkannya selama ini tidak bisa menemukan fakta apapun. Tetapi sekarang dengan telinganya sendiri, dirinya mendengar langsung dari mulut Pamannya, Billy Soarez.
Billy Soarez hanya mengelus rambut putrinya dengan sayang, ada senyum licik di ujung bibirnya.
__ADS_1
" Terserah Kau saja, Dominic. Yang penting kau tidak lupakan tujuanmu. Daddy tidak mau gagal lagi. Ini sudah sepuluh tahun berselang sejak kematian si tua Arzallane. "
Deg.
Jantung Alexander Moralez berdegup kencang. " Si Tua Arzallane ? Siapa ? Apakah yang dimaksud Daddyku ? Oh sh**iitt. "
" Jangan salahkan Dominic, Soarez ! Itu hanya sebuah kesalahan kecil dari anak remaja yang belum paham apa - apa. Waktu itu Dominic masih belajar ! " bela seorang laki - laki seusia Billy Soarez.
" Kau terlalu memanjakannya, Thomas. " Soarez menekan suaranya. " Dan jangan memanggilku Soarez karena kau juga bagian dari Soarez ! Huh. " Ada nada marah yang terselip.
" Dad ! Berhentilah bersikap kekanakan, Dad ! " ucap Dominic sambil mengelus lengan seorang yang dipanggil Thomas oleh Billy Soarez.
Thomas Soarez hanya mengangkat bahunya tak peduli.
" Tapi kalau bukan karena kegagalan itu, kita bisa lebih cepat menguasai harta Arzallane. Apa Kau tahu, Dominic ? " Billy Soarez menjeda kalimatnya dan menatap tajam tingkah putrinya yang masih asyik mengusap kulit Alexander dengan penuh puja.
" Apa Dad ? " tanya Dominic tanpa menoleh.
Billy Soarez hanya menarik nafas berat, watak keras Putrinya benar - benar mewarisi keturunan Soarez.
" Hari itu dengan tanganku sendiri, aku menembak mati Albert Arzallane. Tapi lima tahun kemudian dia bisa kembali ke rumah lama, walaupun kakinya cacat. Tapi tak sampai setahun kemudian dia benar - benar mati terbunuh. Apakah Kau yang membunuhnya, Dominic ? "
__ADS_1
Dominic menoleh ke arah Daddynya, Billy Soarez. " Hahaha, Dad lucu. Sudah ku bilang itu sebuah kesalahan kecil tak perlu diungkit ! " Dominic menghindar dengan wajah tak senang.
" Aku yang minta Dominic membunuhnya dengan serum pelumpuh otak kedua, Kau tahu Soarez, sekalipun aku sudah menyuntikkan kedua kali tapi serum itu belum bekerja maksimal saat itu. Dia hanya mengalami kegagalan fungsi vital dalam tubuhnya yang membuatnya mati perlahan, seharusnya dia tetap hidup jika tetap minum obatnya rutin. Hanya perempuan bodoh itu saja yang memang ingin membunuhnya perlahan tanpa memberikan obat strokenya secara rutin. Dan lagi nyatanya tubuh tuanya tidak sanggup menerima kekuatan serum pelumpuh yang kuciptakan bersama putrimu. Hahaha ... Itu sebabmya si Albert mati. " jelas Thomas Soarez dengan merangkul keponakannya dengan posesif.
Billy Soarez menatap tajam keduanya dengan pandangan marah.
Deg. Hati Alexander berdenyut ngilu. Kemarahan sudah terkumpul dalam rongga dadanya, tapi Alexander masih menahannya karena masih ingin mendengar langsung lembar kelam dalam keluarganya.
" Kalian tidak saling berhubungan kan, Dom, Thom ? "
Thomas Soarez hanya tersenyum simpul dengan mengedipkan mata ke arah Dominic. Tanpa canggung Thomas Soarez langsung menyambar bibir keponakannya dan ********** penuh nafsu dengan sesekali tangannya bergerilya di tubuh Dominic.
Dominic mengalungkan tangannya ke leher Thomas Soarez dan tanpa sungkan membalas ******* laki - laki yang adalah adik Daddynya.
" Kalian ... membuatku muak. " umpat Billy Soarez meraih putrinya dan melepaskan pelukan mereka dengan marah.
" Dad ! " Dominic berteriak marah karena momentnya dirusak Daddynya.
" Dom, ingat Thomas itu adik Daddy, uncle kamu. Jangan gila kalian ! Seperti perempuan murahan saja. Apakah tidak ada laki - laki yang sepadan dengan umurmu, Dom ? " Soarez membentak marah.
" Jangan merendahkan Dominic ! " Thomas berbalik ke arah Billy Soarez dan dengan marah memukul perutnya.
__ADS_1
" Ughh, " Billy Soarez mengaduh perlahan karena pukulan Thomas Soarez telak mengenai perutnya.
" Dad ! " Dominic meraih tubuh Daddynya yang terhuyung.