Tuan Besar

Tuan Besar
Bab. 105


__ADS_3

Kinara masih duduk di pinggir ranjang dengan hati yang mulai gundah. Rasa rindu akan sosok ayah dan rumahnya memenuhi hatinya.


" Ayah, " panggil Kinara, hatinya tiba - tiba merasa sesak. Rindu yang teramat dalam. " Kangen, Yah. Apa kabar, ayah ? Baik - baikkah Ayah di sana? Ayah di mana? Apakah Ayah mencari dan merindukanku juga ? " monolog Kinara sambil meraba sebentuk cincin putih di jari manisnya. Memutar - mutarnya di antara sela jarinya.


Cincin putih ini pemberian sang ayah di usianya yang ke tujuh belas. Kala itu sepulang dari sekolah, sang ayah memberi kejutan dengan membuat sebuah perayaan kecil ulang tahunnya. Setelah meniup lilin dan memotong kue ulang tahun sederhana yang di beli ayahnya, sang ayah memberikan kado sebentuk cincin putih ini. Sedikit unik tapi terkesan sederhana, atau bahkan terlihat biasa saja.


" Selalu kenakan, jangan lepaskan! Apapun yang terjadi, simpanlah dengan baik ! " pesan ayahnya kala itu.


Wajah Kinara tampak sedih, mengingat peristiwa itu, " Pasti ayah, Kinara akan menjaganya. Tidak akan Kinara gadai apalagi jual, " senyumnya menggoda sang ayah, karena Kinara tahu ini pasti cincin yang mahal.


" Bukan hanya jangan jual atau gadai, tapi jangan sampai kau lepas atau hilang ! Jagalah dengan nyawamu ! " pesan Ayah bersungguh - sungguh beberapa tahun lalu.


Tanpa sadar Kinara menarik cincin putih berkilau di jari manisnya. Cincin berbentuk lingkaran biasa dengan batu kecil di tengahnya. Terlihat biasa saja. Tapi ini satu - satunya pemberian ayahnya.


" Akh, tunggu ! Bukan satu - satunya, karena masih ada sebuah kalung dengan liontin penari, " Kinara meraba leher jenjangnya, merasa ada yang hilang dan terlupakan, " kalungku ? Dimana ? "


Wajah Kinara memucat seketika, ingatannya kembali mereka ulang semua kejadian selama ia ada di mansion ini, " kalungku ? Oh my God, kalung itu sangat berharga. Bagaimana bisa hilang tanpa ku sadari ? " wajah Kinara tampak pucat dan kebingungan. Sang ayah sudah mengingatkannya untuk tidak menghilangkan cincin dan kalung itu. Apapun yang terjadi.

__ADS_1


" Astaga Kinara, bodoh kamu, " umpat Kinara kebingungan.


Kinara bangkit dari sisi ranjang dan mulai berjalan ke arah nakas di samping bednya, mencoba mencari apa yang hilang.


Semua bagian telah ia jelajah, termasuk beberapa laci di dalam ruangan itu, tak juga Kinara menemukan apa yang ia cari.


Hari sudah hampir sore ketika akhirnya Kinara terduduk lemah tanpa ada hasil yang ia dapatkan. Air matanya telah luruh sejak awal pencariannya tadi.


Kinara termenung di lantai dengan tubuh menyandar di pinggir bed. Ingatan dan kenangan tentang sang ayah berloncatan keluar di pikirannya.


" A-y-a-h, " Kinara mengejanya sekali lagi, tapi kemudian timbul perasaan janggal dalam dirinya. Jauh di dalam relung hatinya, Kinara merasa asing dengan panggilan ayah.


" Perasaan, masa kecilku, aku memanggilnya Daddy dan Mami, " monolog Kinara dengan mengaitkan ujung jarinya. Gadis itu nampak berpikir sejenak.


Banyak kelebat bayangan saat muda ia tidur, belajar, bermain, makan, sekolah dan bekerja, yah bekerja ... Ingatanku selalu ada kata ayah. Tapi kenapa aku familiar dengan kata daddy. Wait ! " Kinara menegakkan punggungnya dengan cepat.


" Apakah ada yang hal penting yang terlupakan olehku ? "

__ADS_1


20 tahun lalu,


" Princess, jangan keluar rumah ! No. No, Daddy melarangmu keluar. Itu sangat berbahaya, " seorang dengan wajah yang terlihat buram di mata Kinara terdengar berteriak memanggil seorang gadis kecil yang sedang berlari keluar rumah.


Brak.


Dor.


Semuanya gelap sebuah tembakan membuat tubuh Kinara berjengkit kaget.


Flashback off


Tubuh Kinara meremang sesaat, ada bayang ketakutan yang membuat sinyal di tubuhnya menjadi siaga. Kinara bergetar, " Daddy, " bisiknya lirih.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2