Tuan Besar

Tuan Besar
Bab. 96 Proyek


__ADS_3

Setelah meredam hasratnya dengan mandi kembali dan mengganti kemeja serta jasnya, Alexander Moralez Arzallane segera menuju ruang tamu, di mana dua orang tamunya sudah menunggunya sejak dua jam lalu. Dengan raut wajah datar sang pemilik mansion itu menghampiri keduanya yang sedang duduk tak nyaman


Dua orang pria dengan perawakan tinggi dengan rahang yang kuat, terlihat cukup berpendidikan dan memiliki watak yang sama kerasnya. Pria dengan sejuta kelicikan karena masuk dalam jaringan mafia bawah, walau kekuasaan mereka jauh di bawah Alexander.


Kedua pria itu sedang berusaha mencari keberuntungan dengan mendatangi mansion sang Tuan Besar pemilik Xander Corp yang juga penguasa klan bawah yang cukup di segani.


" Selamat pagi, Tuan Alexander, " sapa kedua orang tamu bersamaan dengan hormat seraya bangkit berdiri dan mencoba mengangsurkan tangan untuk berjabat tangan.


Alexander hanya menatap datar kedua tangan yang terulur tanpa ada keinginan untuk menyambutnya. Wajahnya tampak kaku dan lebih dominan angkuh, dengan kaki yang saling menopang pria itu menatap tajam kedua tamu yang tak diundangnya.


Han Liu yang melihat mood tuannya sedang tidak baik segera mengambil alih dengan mempersilahkan kedua tamu untuk duduk kembali.


" Silahkan duduk kembali, Tuan Gery, Tuan Silvester, " Han Liu melerai suasana yang mulai terasa menegang dengam kembali mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk tanpa menjabat tangan sang tuan besar.


Han Liu cukup tahu latar belakang kedua orang tamu yang tak diundang ini, sebenarnya dirinya malas untuk berurusan dengan pria klan bawah yang cukup licik ini tetapi ada rencana yang cukup menarik hingga Han Liu memberikan sedikit waktu untuk mereka dapat menemui sang tuan rumah.

__ADS_1


" Apakah pernah aku menyuruhmu untuk menerima tamu di rumahku, Han ? " selidik Alexander tak suka. Karena Alexander berpikir semua pekerjaan kantor harus diselesaikan di kantor jika itu bersangkutan dengan klien atau rekan kerjasamanya.


" Maafkan saya, Tuan, saya yang memaksa Sekretaris Han untuk menerima saya karena ... . " Gery Davis mencoba menjawab pertanyaan dan mengambil alih suasana yang mulai kaku dan tegang.


" Lancang, " potong Alexander lirih dengan aura yang gelap.


Gery Aslan dan Silvester Josh bukan tidak mengetahui perangai sang pemilik Xander Corp ini tetapi inilah jalan satu - satunya yang memungkinkan mereka untuk menyelesaikan proyek megacity dengan cepat.


Suasana tampak tegang dan mencekam. Alexander menatap datar kedua pria yang ada di hadapannya.


" Jadi bagaimana apakah saya bisa menyampaikan maksud kedatangan kami, " Gery Aslan mencoba meminta sebuah kesempatan. Karena tidak mudah mencapai mansion ini apalagi untuk bisa duduk berhadapan dengan sang tuan besar.


" Apakah tidak lebih baik mendengar apa yang akan Tuan Gery dan Tuan Silvester sampaikan, Tuan ? " Han Liu mencoba menawar.


" Lima menit, " tandas Alexander singkat kembali duduk di kursi kebesarannya. Menopang kedua kakinya hingga bertaut dan tangannya mulai mengambil nikotin untuk mengurai rasa yang pria itu sedang lerai dari otaknya. Rasa penasaran akan Kinara sungguh - sungguh membuatnya menjadi hilang fokus.

__ADS_1


" Begini, Tuan. Rencana pembangunan megacity di kota X sudah dimenangkan oleh Tuan Daniel Grase, dan rencananya proyek tersebut tidak ditangani langsung dibawah Grase Land karena mereka tidak memiliki cukup dana untuk menopang proyek tersebut hingga Tuan Daniel akan mengajukan kerjasama kepada Tuan Stewardz. Anda tentu mengenal baik siapa Tuan Aljendro Stewardz ? " ujar Gery Aslan panjang. Pria ini berharap dapat membangkitkan dendam masa lalu sang pemilik mansion untuk memuluskan rencananya.


" Dan Tuan Stewardz menyetujuinya dengan syarat seorang gadis yang ada di mansion Anda ... . " sambung Gery Aslan dengan antusias.


" Hah ? "


" Dan kami datang mengharapkan kebaikan hati Anda untuk memberikan gadis tersebut. " sambung Silvester Josh, " Dan lagi apalah arti seirang gadis bagi Anda ? Gadis itu hanya bekas karena sering dipakai oleh Arkansaz. Sebagai timbal baliknya kami akan membagi saham sebesar tiga puluh persen untuk Anda, ini penawaran yang menarik. "


" Tentu nilai gadis itu tak seberapa di banding dengan proyek Megacity yang sangat besar ? Di kalangan bawah mereka sedang berlomba untuk mendapatkan proyek ini, " Silvester Josh menambahkan dengan seringai licik di ujung bibirnya berharap mendapatkan sesuai apa yang du rencanakan.


Brak.


Alexander menatap tajam kedua pria dihadapannya dengan tatapan tajam. Rasa geram jelas terpancar dari sorot matanya menusuk bahkan sesekali rahangnya mengeras menahan rasa marah.


Mereka tidak pernah berpikir apa dampak dari menginginkan milik sang tuan besar. Kematian. Semua yang akan merampas atau menginginkan sesuatu yang di miliki sang tuan besar hukumannya adalah kematian.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2