
" Kinara !! "
" Tuan, mereka mendekat ! " bisik Kinara dengan tubuh yang gemetar.
" Oh, shittt. Cepat Kin, kita harus sampai gudang ! Ada jeep yang bisa membawa kita ke kota.
Mereka sedikit berlari dengan mengendap diantara pepohonan. Sesekali melompati akar - akar pepohonan yang menonjol.
Bugh. Tubuh Kinara terpelanting jatuh berdebab ketika kakinya tak sengaja terantuk batu.
" Awww, " Kinara mendesis tertahan ketika kakinya terantuk batu besar.
" Sakit, tolong berhenti dulu ! " Kinara menarik kemeja Ryan Juville untuk berhenti.
" Kakiku sakit, Kau tak lihat, Tuan ? " sekali lagi Kinara mendesis menahan ujung kakinya yang mulai berkedut ngilu. " Sepertinya berdarah, " ucap Kinara lagi sambil menyentuh ujung kakinya yang ngilu.
Dari kejauhan beberapa orang mulai berteriak memanggil Kinara. Langkah mereka terdengar berderap, berlarian mencari Kinara.
" Kinaraaa !! " suara anak buah Daniel Grase terus berteriak di kejauhan. Langkah berderap semakin mendekat. Kilat lampu - lampu senter terus berkelebat di tengah kegelapan. Beberapa orang nampak menggunakan sejenis parang panjang untuk menebas rumput yang tinggi untuk mempermudah pencarian.
" Cepat Kin ! " ucap Ryan Juville sambil menarik pinggang Kinara dan mengayunnya ke atas pundaknya.
" Tahan sakitnya, kita harus segera mencapai gudang untuk bisa menggunakan jeep. "
Ryan Juville mengayun langkahnya sedikit lebar tanpa memperhatikan ranting kayu yang beberapa kali sudah menggores lengannya.
Beruntung malam gelap, sehingga mempermudah keduanya menyelinap diantara pepohonan tanpa terlihat oleh anak buah Daniel Grase. Hanya cahya rembulan diantara dedaunan yang menjadi penunjuk arah kedunya, Ryan Juville dan Kinara untuk mencapai gudang di tengah hutan.
Sepertinya gudang tersebut digunakan untuk menyimpan kayu - kayu hasil penebangan, terbukti dari tumpukan kayu yang sedikit menggunung di sisi samping gudang.
Suasana tampak lengang dengan suara binatang hutan yang hanya sesekali bersuara menambah mencekam malam ini.
" Masuk ! " Ryan Juville menurunkan Kinara tepat di sisi pintu sebuah jeep.
" Susah membukanya, Tuan. "
" Belum dibuka kuncinya, Kin. " sebuah sentilan di jidat Kinara menyadarkan gadis itu karena beberapa kali berusaha mencoba membuka pintu mobil yang masih terkunci.
Sebuah cengiran di ujung bibir Kinara nampak manis ketika Ryan Juville menoleh ke arah gadis itu.
" Tadi menyuruh masuk ? " sebuah cebikan di bibir Kinara.
__ADS_1
" Heehe, " Ryan Juville hanya terkekeh geli.
" Tuan yakin masih bisa digunakan ? Sepertinya sudah lama tidak digunakan mobil ini, " tanya Kinara begitu masuk ke dalam mobil. Kinara terhenyak ketika memperhatikan jok yang sedikit berdebu.
" Siang tadi, sebelum aku menemukanmu dengan Jefri sudah ku coba dan kupanaskan. Sudah kubersihkan walau tidak maksimal. Hehehe ... . "
Ryan Juville nampak mulai menyalakan jeep.
" Aww, " Kinara meringis ngilu ketika kakinya tanpa sengaja sedikit terkena jok mobil.
Ryan Juville menyalakan lampu mobil. Tangannya dengan cepat meraih sebuah kotak di jok belakang dan beruntung ada kotak p3k yang lengkap isinya.
" Angkat kakimu ! "
Dengan cekatan Ryan Juville membersihkan luka, mengobatinya dan membalutnya dengan kassa pembalut.
" Terima kasih, " ucap Kinara sambil tersenyum manis.
Ryan Juville hanya mengagguk.
" Kita harus segera keluar dari tempat ini, sebelum mereka menemukan kita. "
" Itu mereka ! " teriak seorang anak buah Daniel Grase begitu melihat sebuah jeep keluar dari tumpukan kayu.
" Bodoh, kejar ! " Daniel Grase berteriak marah ketika gadis yang dicarinya berhasil kabur.
Tak berapa lama kejar - kejaran sudah berlangsung di jalanan di pinggir hutan sebelah barat.
Jeep yang ditumpangi Ryan Juville dan Kinara melaju dengan kencang menuju barat.
" Pasang seat belt, Kin " teriak Ryan Juville di tengah deru jeep yang memburu dengan laju yang semakin kencang.
" Seat belt ru ... sak ... huhuhuu ... . " balas Kinara dengan tubuh gemetar ketakutan.
" Berpeganglah ! "
Dor. Dor.
" Oh, shiittt ... mereka membawa senjata, " Ryan Juville berdecak marah sambil terus melajukan jeep lebih kencang.
Dor.
__ADS_1
" Sial, " Ryan Juville mendengus kesal ketika sebuah desingan peluru mengenai kaca mobil.
Kinara tampak pucat di kursi penumpang. Tangannya menggenggam erat pada pintu mobil.
Berulang kali gadis itu menghembuskan nafas untuk mengusir rasa takut karena laju mobil yang terlalu cepat.
Jeep melaju dengan kencang. Jeep dengan bagian atap yang terbuka itu membuat angin semakin kencang menerpa, menusuk ke dalam tulang. Tubuh Kinara tampak menggigil ketakutan sekaligus kedinginan.
Dor.
" Shiiit, " Ryan Juville mengumpat marah ketika ban mobilnya berhasil tertembak.
" Perhatikan di ujung jalan sana ada dahan pohon yang sedikit rendah. Hitungan ketika ikutlah berayun menggapai dahan. Oke, siap ! Satu, dua, tiga, loncat Kin ! " Tangan Ryan Juville meraih pinggang Kinara dan meloncat ke atas dahan.
Kinara terhenyak kaget ketika tubuhnya seakan melayang di malam gelap.
Ryan Juville mendekap tubuh Kinara supaya tak terjatuh dari atas pohon.
" Shuut, diamlah ! "
Kinara hampir berteriak kaget, beruntung dengan cepat Ryan Juville menbekap mulutnya untuk tidak berteriak.
Bukan hal yang baru bagi Ryan Juville, tubuhnya mulai terlatih ketika hampir satu bulan dirinya ada di tengah hutan gelap. Sesaat setelah dirinya dibuang bersamaan dengan mayat - mayat yang dibunuh Aljendro Stewartz sebulan lalu. Tubuhnya di buang anak buah Stewartz ke tengah hutan sebagai santapan hariamau peliharaan Stewartz di hutan khusus itu.
Bergelantungan di atas pohon menjadi pelajaran khusus bagi seorang Ryan Juville untuk menghindari hewan buas sebangsa harimau, serigala hanya untuk bertahan hidup.
Beruntung ada seorang yang menyuntikan serum sejenis zat imun tubuh ketika dirinya ada di tumpukan mayat yang sengaja dibuang di tengah hutan. Zat hampir serupa vitamin sebagai zat pelengkap nutrisi untuk bertahan hidup tanpa makanan dan minuman, terbukti ketika Ryan Juville berhasil bertahan hidup di tengah hutan yang gelap. Tanpa makan dan minum beberapa hari. Setelahnya barulah dirinya mencari buah sebagai pengganjal perutnya.
Duar. Duar ... .
Sebuah ledakan besar terjadi ketika akhirnya mobil menghantam batu besar di pinggir jalan. Berguling beberapa kali dan meledak dengan suara yang sangat besar. Seketika dari kejauhan nampak api mulai berkobar disertai kepulan asap yang membumbung tinggi.
Anak buah Daniel Grase menghentikan mobilnya sedikit lebih jauh dari mobil yang meledak. Mereka berhenti mengejar. Mereka hanya mengamati dari kejauhan kepulan asap yang membumbung.
" Bodoh, " sebuah teriakan kemarahan dari Daniel Grase begitu mobilnya berhenti di pinggir jalan agak jauh dari ledakan mobil. Daniel Grase bergegas menjejakkan kakinya ke atas tanah. Matanya menatap nyalang mobil jeep yang sudah meledak dan terbakar seluruhnya.
" Akh, sial ! Bodoh, kalian !! Siapa yang memerintahkan kalian menembak ? " teriak Daniel Grase dengan frustasi.
" Ampun, Tuan ! " seorang anak buahnya menyahut ketakutan.
***
__ADS_1