Tuan Besar

Tuan Besar
Bab. 71 Misi Di Mulai


__ADS_3

" Kau ini, " desis Ryan Juville tidak terima.


" Maaaf, Tuaann ! " cicit Kinara merasa tidak enak.


" Makanya jangan kurang ajar ! Saya kan ... . "


" Ssstt, shut up Kin ! Kau membuatku tambah pusing. Hanya akan menyentuh, belum juga ku tiduri ... . " ucap Ryan Juville sambil menaruh jari tangannya di depan bibirnya untuk menghentikan Kinara yang akan berbicara. " Ssstt. diamlah ! "


Kinara yang masih akan berbicara hanya mengerucutkan bibirnya. Wajahnya terlihat menggemaskan di mata Ryan Juville. " Sial, gadis ini nampak sangat menggemaskan. Bibirnya ... . "


Ryan Juville menatap gemas gadis di depannya.


Sedangkan gadis yang ditatapnya hanya menatap jengah dokter keluarga Arzallane itu. Dengan kasar Kinara meraup wajah laki - laki di depannya yang masih menatapnya dengan pandangan tak terbaca, lalu bangkit berdiri, dan bergegas berjalan meninggalkan Ryan Juville dengan langkah tertatih.


Dengan wajah terkejut Ryan Juville menatap tak percaya atas kelakuan berani Kinara.


" Hei jangan kurang ajar Kin ! " sergah Ryan Juville seraya berusaha meraih tangan Kinara.


" Jangan kurang ajar ! Kita tak sedekat itu ! " peringat Kinara sambil mengibaskan tangannya menjauh dari jangkauan Ryan Juville.


Ryan Juville hanya menautkan alisnya dengan geram. " Aaaarggg, Kin, lututku terluka dan aku hanya minta tolong Kau memapahku. Astaga negatif thinking saja. "


Ryan Juville berusaha berdiri dengan susah payah. Celana kainnya nampak robek di bagian lutut dan terlihat lututnya yang teluka cukup lebar.


" Eeh, " pandangan mata Kinara segera mengarah ke lutut laki - laki itu.


" Maaaf, Tuan ! " ujar Kinara dengan perasaan bersalah. Tubuhnya mendekat ke arah Ryan Juville dan akan menyentuh luka laki-laki di depannya.

__ADS_1


" Hei kau mau apa ? " sergah Ryan Juville sambil menangkis tangan Kinara yang akan menyentuh lukanya.


" Aku hanya akan merabanya. Luka Tuan harus segera di obati. " jawab Kinara.


" Kau mau mengobatinya ? Dengan apa ? Hah ? Memangnya Kau bawa kotak P3K ? Sekarang kita di hutan. " tanya Ryan Juville lagi.


" Ehhh, iya. Hehehe ... . " senyum Kinara terbit merasa lucu juga.


" Sudah, aku akan memapah Tuan, tapi jangan kurang ajar ! Jangan mengambil kesempatan ! " ucapnya sambil mulai merengkuh pinggang laki - laki itu untuk memapahnya. " Lututku juga terluka, jadi kita jalan pelan - pelan saja. "


Senyum smirk terbit di ujung bibir Ryan Juville. " Kena kau, lumayan bisa berdekatan denganmu Kin. Rasanya kalau bukan milik Alexander pasti ku rebut dirimu. " bisik Ryan Juville dalam hati.


***


" Kita akan berjalan menyusuri jalan setapak sampai ke arah pinggiran sungai dekat dengan perbatasan hutan dari sisi selatan. Perhatikan langkah kalian ! " perintah Han Liu mengerahkan beberapa anak buahnya untuk mulai melakukan perjalanan pencarian Sang Tuan Besar.


Sesekali nampak drone di udara berputar mengelilingi pingiran hutan.


" Boss, " seorang nampak menarik kemeja yang dikenakan Han Liu untuk menghentikan langkahnya. " Itu ! " lanjutnya sambil menunjuk titik jauh yang berputar mengawasi.


" Shiiitt, " umpat Han Liu merasa geram.


" Kita hancurkan saja Anx ! " seorang nampak meraih sebuah senjata dari saku celananya dan mulai membidik drone yang sedang terbang sedikit merendah.


" No, biarkan saja ! " cegah Han Liu.


" Cepatlah bergegas mencapai barisan pepohonan di ujung jalan sana, supaya tak terdeteksi oleh mereka ! " perintahnya cepat setelah drone terbang menjauh.

__ADS_1


***


" Akh, " Alexander mengerang perlahan sesaat setelah kesadarannya kembali. Tubuhnya terduduk bersandar pada sebuah batang pohon.


Matanya berulang kali mengerjap untuk mengenali sekitarnya.


" Akh, sepertinya cukup lama aku tak sadarkan diri, " ucapnya perlahan sambil memijat tengkuknya yang terasa kaku. Pandangannya sedikit berkunang.


Matanya menilisik sosok yang tergeletak tak jauh dari sisinya. Sosok kurus dengan pakaian yang sudah tak layak.


" Siapa dia ? " gumam Alexander masih dengan pandangan penuh selidik pada sosok yang masih tak sadarkan diri.


Rasa jijik dan risih mulai memenuhi otaknya. Alexander mulai bergidik, perutnya mulai bergolak tak terima ketika matanya masih terpatri pada sosok di depannya.


" Damn it ! " umpat Alexander pelan saat menyadari penyakitnya mulai kambuh.


Alexander menarik nafas perlahan untuk tak terfokus pada rasa jijiknya. Dirinya berusaha menekan semua perasaan tidak nyaman saat berdekatan dengan sesuatu yang dianggapnya kotor. Tetapi tetap saja otak dan perutnya sudah berteriak memberontak.


Alexander mulai menggeram marah sesaat ketika emosinya sulit dia kendalikan.


" Aaargghh, penyakit sialan. " umpatnya marah sambil bangkit berdiri dan sedikit menjauh dari sosok laki - laki kurus di di depannya.


😎 Hai - hai reader terlope, terimakasih masih stay dengan karya receh ini. Masih berantakan tetapi saya akan mulai rajin up. Beberapa waktu lalu sempat gak up karena kesibukan RL yang sangat menyita. Maafkan !


Tolong tetap dukung karya ini dengan like, coment dan gift votenya.


Terima kasih.

__ADS_1


Tetap sehat buat semua.


__ADS_2