
Han Liu mulai sibuk dengan setumpuk berkas yang dibawanya dari perusahaan Arzallane corp. Beberapa tender banyak yang dipending. Beruntung nama besar Alexander Moralez Arzallane tetap membuat para investor bertahan, tidak memutuskan kerjasama. Walaupun sebenarnya perusahaan raksasa sebesar Arzallane Corp tidak memerlukan investor tetapi dalam dunia bisnis hubungan antar perusaahaan sangat dibutuhkan untuk saling menopang supaya tetap kuat.
Kring. Kring.
Berulang kali ponsel Han Liu bergetar dan berdering nyaring.
Han Liu masih asyik dengan berkas - berkas yang menumpuk, seakan tidak terganggu dengan ponselnya yang terus bergetar dan berdering di atas meja.
Dokter Merrzy Arzulla yang masih berdiri disamping ranjang Kinara hanya menoleh sesaat ke arah sofa. Memperhatikan sejenak wajah tampan yang dingin dan kaku.
" Suara ponsel sebising itu tidak terganggu ? Memang tuli. Dasar Han. Berisik sekali. " Dokter Merrzy Arzulla bergumam jengkel.
" Jika Anda jengkel dan merasa terganggu, Anda bisa keluar ruangan Dokter Merrzy Arzulla. " ucap Han Liu dingin.
" Astaga, apakah dia bisa membaca pikiranku ? " batin Dokter Merrzy Arzulla penasaran.
" Saya mendengar Anda berbicara Dokter Merrzy Arzulla. " jawab Han Liu kaku masih dengan berkas - berkas di tangannya.
Kring. Kring.
Bunyi ponsel Han Liu terdengar lagi.
" Selamat siang, Sekretaris Han. " seorang menyapa dari seberang begitu panggilan tersambung.
" Ya. Ada apa Fred ? " tanya Han Liu tidak sabar. Pekerjaannya sangat membutuhkan konsentrasi tinggi. Dan Han Liu paling tidak nyaman ketika ada interupsi di saat sedang fokus bekerja dengan panggilan ponsel yang tidak penting.
" Jika tidak penting. Awas Kau ! " ancam Han Liu dingin.
" Maaf Sekretaris Han, kami mendapatkan laporan dari anak buah jika Dokter Zalline diculik. " lanjut Fred cepat sebelum tangan kanan Boss besar itu marah.
" Diculik ? "
" Kami mendapatkan rekaman cctv di jalan F, ada sebuah mobil yang menghalangi jalan dan Dokter Zalline turun untuk meminta sopir mobil tersebut meminggirkan kendaraan. Tapi saat yang bersamaan ada beberapa orang pria datang dan langsung membekap Dokter Zalline dari belakang dan membawanya pergi. Sepertinya mobil ke arah luar kota, Sekretaris Han. "
" Fred, sudah cek nomer kendaraan yang digunakan ? "
" Plat mobil yang dipakai palsu, Sekretaris Han. Dan kami kehilangan jejak. " Lapor Fred.
" Ckck merepotkan saja. " desis Han Liu frustasi. Berkas yang menumpuk. Kondisi Kinara yang belum stabil, Alexander Moralez yang masih kritis ditambah lagi hilangnya Dokter Zalline menambah panjang daftar pekerjaan Han Liu.
Han Liu mengepalkan tangan untuk menyalurkan emosinya.
Panggilan belum dimatikan.
" Selidiki dan cari dengan cepat ! Jangan sampai Dokter Zalline celaka ! Kerahkan banyak anak buah untuk mencarinya Fred. Kau bisa retas semua cctv di jalan raya. " ucap Han Liu lagi.
Tutt. Tutt.
Sambungan diputus sepihak.
Tangan kokoh Han Liu mengetik pesan singkat kepada Dokter Ryan Juville, untuk menanyakan kondisi Alexander Moralez.
Han Liu sedikit gundah sejak hari keberangkatan mereka ke negara R. Seperti ada bahaya besar yang sedang mengancam jiwa tuan besarnya.
__ADS_1
1 Detik ... 2 Detik ... 10 menit berlalu tanpa ada balasan dari Dokter Ryan Juville.
" Apalagi ini ? " gumam Han Liu penasaran dengan ponsel yang masih tergenggam di tangannya.
" Tak ada balasan sama sekali. Panggilan tidak terhubung. Shi***t. "
Han Liu meletakkan ponselnya. Otaknya segera menenangkan diri bahwa semuanya akan baik- baik saja. Kemudian tangannya segera dengan cekatan bergelut dengan tumpukan berkas - berkas di atas meja.
Kring. Kring.
Sebuah panggilan masuk dari nomer yang tidak dikenal.
Han Liu hanya memperhatikan sekilas. Jari - jarinya masih sibuk dengan tuts keyboard menjawab beberapa email masuk pada layar laptopnya.
Tiba - tiba wajah Han Liu berubah panik ketika menyadari sesuatu.
" Oh sh**it ! "
Han Liu segera menyambar ponselnya yang masih bergetar dengan sebuah panggilan.
" Halo ! " Han Liu menjawab dengan cepat dan tidak sabaran.
" Hahahaha ... . " suara tawa terdengar sangat menjengkelkan di telinga Han Liu.
Han Liu sedikit terperanjat kaget mendengar suara tawa dari masa lalunya.
" Halo Sekretaris Han, lama tidak bersua. Apa kabar ? " sapa seseorang dari seberang panggilan.
" Mr. Stewartz ? " Han Liu menjeda kalimatnya, seakan tidak percaya bahwa laki - laki itu sedang menelponenya. " Apa yang Anda inginkan ? " sambung Han Liu lagi dengan penasaran.
Tuttt. Tutt.
Panggilan terputus.
Han Liu mengepalkan tangan.
" Huan, panggil Datsma, Zack, dan Joe ! Segera ! " Han Liu memerintah cepat melalui ponselnya.
" Saya tinggal Dokter Merrzy. Pastikan Anda melakukan tugas Anda dengan baik dan benar kepada Nona Kinara ! Dan jangan tinggalkan Nona Kinara sendiri ! Paham ? " tegas Han Liu kepada Dokter Merrzy Arzulla sebelum meninggalkan ruangan.
Dokter Merrzy Arzulla mengangguk patuh.
" Sekretaris Han, " panggil Dokter Merrzy Arzulla sebelum tangan laki - laki itu menekan handle pintu untuk keluar ruangan.
Han Liu hanya menghentikan langkah kakinya tanpa berniat menoleh pada sumber suara.
" Hati - hati ! " ucap Dokter Merrzy Arzulla sambil menundukkan wajahnya.
" Hhmm. " Han Liu hanya berdehem singkat.
***
Di belahan negara lain.
__ADS_1
" Lepaskan Alexander, Aljendro ! " teriak Dokter Ryan Juville dengan kaki dan tangan yng sudah terikat kuat pada besi.
Tubuh Dokter Ryan Juville sudah menggantung sempurna dengan beberapa luka di seluruh tubuhnya.
" Hahahaha ... Kau mau mencoba menghianatiku Ryan !! Kurang ajar. Kau melupakan asal usulmu ! " suara Aljendro Stewartz penuh tekanan. Tangannya dengan kasar mencengkram rahang Ryan Juville dengan kuat.
" Kau tahu, tidak ada ampun bagi penghianat, Juville. " tangan Aljendro menghempas wajah Ryan Juville dengan kasar.
" Cih. " Ryan Juville meludah tepat di wajah Aljendro Stewartz.
Dengan marah Aljendro menendang perut Ryan Juville hingga tubuh laki - laki itu mental sedikit ke belakang. Tangan dan kaki yang terikat pada besi penyangga dengan rantai besi mengakibatkan Ryan Juville seperti samsak. Bergerak sesuai arah tinju Aljendro. Aljendro Stewartz memukulnya dengan membabi buta.
Darah sudah mengalir dari hidung dan mulut Ryan Juville.
Ryan Juville hanya tersenyum sinis. " Sekalipun aku menghianatimu Aljendro, aku puas. Dengar, aku puas ! Karena orang sepertimu tidak pantas untuk diikuti. Kau ini sakit. Kau perlu Dokter untuk menyembuhkan kelainanmu. Bukan malah mendidik orang untuk mengikutimu menjadi monster - monster sek**s yang tidak berguna dan merusak generasi muda. " ucap Ryan Juville.
" Cuiih. Banyak bicara. Dasar bocah bodoh ! "
Cetarr.
Sebuah cambuk sudah melesat ke arah tubuh Ryan Juville. Tubuh kekar Ryan Juville melenting ke kanan ke kiri mencoba menghindar dari lecutan cambuk yang menyakitkan.
Aljendro mengikat besi kecil seperti mata pancing pada ujung cambuk sehingga ketika lecutannya mengenai kulit pasti akan merobek sebagian kulit, dan itu sangat menyakitkan.
Ryan Juville hanya meringis menahan perih di tubuh telanjangnya. " Setan tua ini benar - benar sudah gila ! " ringis Ryan Juville.
Aljendro hanya menatap tubuh Ryan Juville yang masih tergantung tak berdaya.
" Jacob, peraskan segelas jeruk untukku ! Aku ingin membuat sebuah pertunjukan yang lebih menyenangkan. " ucap Aljendro tertawa senang.
" Dengan senang hati, Tuan ! " jawab Jacob dengan segera untuk melaksanakan sesuai perintah tuannya.
" Juville, Aku tanya sekali lagi. Dimana anakku ? " tanya Aljendro marah.
" Kau tahu akibatnya jika mengusik keluargaku, Juville. "
" Dan lagi obat apa yang sudah kau berikan sebagai penawar racun pada anak Arzallane itu, Juville ? Jawab ! " Aljendro berteriak marah.
Aljendro menghisap nikotinnya dengan kuat. Sesekali bibirnya menyesap alkohol langsung dari botolnya.
" Jangan melakukan hal bodoh padaku, Juville ! "
" Nasib keluarga besar Juville de Mandez ada di tanganku. " lanjut Aljendro.
Ryan Juville mengepalkan tangan kuat - kuat.
" Permisi, Tuan, ini pesanan Anda. " seorang datang membawa nampan dengan segelas penuh perasan jeruk.
Senyum smirk tercetak jelas di bibir Aljendro Stewartz.
" Bagiku, penghianat itu adalah penghuni neraka. Tetapi jika engkau mati terlalu cepat dengan cara yang mudah rasanya aku berdosa terhadap penghuni neraka yang lain. Hahaha ... . "
Aljendro bangkit dari duduknya. Meraih gelas yang penuh dengan perasan jeruk.
__ADS_1
Ryan Juville hanya menatap tajam. Tekadnya sudah bulat. Kata - kata Han Liu terakhir sebelum dirinya membawa Alexander berobat adalah akan mengorbankan jiwa raganya, jika perlu sampai titik darah penghabisan.