Tuan Besar

Tuan Besar
Bab 64. Lorong Gelap


__ADS_3

Alexander menajamkan pandangan matanya. Gelap dan tak ada seberkas cahayapun. Alexander mulai berjalan dengan sangat hati - hati. Kakinya hampir terkilir ketika tanpa sadar dirinya berjalan menuruni sebuah tangga batu. Beruntung tangan kokohnya berpegangan pada sisi tembok untuk menjaga keseimbangannya.


Alexander terus berjalan dalam kegelapan. Matanya mencoba menajam mencari titik cahaya dalam gelap tapi tetap saja kegelapan yang ada.


Alexander terus berjalan sambil meraba tembok yang menjadi penuntunnya. Sampai kira - kira 300 langkah dari tempatnya pertama tadi, tangan Alexander menyentuh sebuah tuas yang sedikit menonjol di tembok. Sebuah tuas kayu yang tertancap di dinding.


Alexander bersikap waspada sebelum tangan kokohnya mencoba menarik tuas ke bawah.


Klak. Tuas bergerak ke bawah ketika dengan sedikit tenaga Alexander menurunkan tuasnya ke bawah.


Tuas tertarik ke bawah dan tiba - tiba beberapa lampu berwarna kuning temaram mulai menyala. Tidak terlalu terang tetapi cukup untuk menerangi lorong gelap.


Tampak beberapa langkah di depannya sebuah lubang terbuka dan menganga. " Sial, cukup dalam. Dan kalau terjatuh,sangat sulit untuk naik. " gumam Alexander ketika kepalanya melongok ke bawah melihat lubang yang menganga.

__ADS_1


Mata Alexander menajam dan langkahnya mulai hati - hati karena ternyata ruangan ini pun banyak jebakan yang mengancam nyawanya.


Lorong tampak suram dan lembab. Lampu kecil berwarna kuning menyala pada jarak yang cukup berjauhan.


Alexander terdiam sejenak mengamati lorong suram dihadapannya. Jalanan nampak berliku. Lorong nampak menyeramkan. Sisi kanan kiri dengan tembok cukup tinggi dan jalan setapak yang cukup sempit. Sepertinya hanya cukup untuk berdiri dua orang yang bersisian.


Setelah beberapa langkah berjalan lampu di sisi dinding yang sudah terlewati meredup dan akhirnya mati. Kini lampu berikutnya mulai menyala temaram. Sepertinya lampu sudah terhubung otomatis ketika ada langkah seseorang yang mendekat maka lampu akan menyala begitupun sebaliknya, jika langkah menjauhi lampu maka akan meredup dan mati.


Alexander meneruskan langkahnya.


Alexander masih berjongkok dan memperhatikan jalan suram di depannya.


Tak berselang lama Alexander bangkit berdiri dan berjalan perlahan dengan hati - hati sampai dia menemukan jalan bercabang yang membuatnya sedikit bingung. Matanya sekali lagi menajam untuk melihat jalanan suram di kegelapan.

__ADS_1


Samar - samar Alexander mendengar rintihan seseorang di kejauhan.


Di saat yang bersamaan beberapa orang bodyguard nampak sedang mencoba membuka pintu ruangan pertama tempat Alexander meninggalkan brankar dengan Dominic yang terbaring di atasnya.


Pintu ruangan terlihat sulit untuk di buka. Jangan harap dapat mendobraknya karena pintu terbuat dari kayu yang cukup tebal dan dengan akses khusus sidik jari. Seorang nampak berbincang dengan serius melalui ponselnya sebelum langkahnya menjauhi beberapa orang yang mencoba mengakses pintu.


" Retas sistem keamanan ! " Seorang nampak marah dan mulai kehilangan kesabarannya.


" Sudah, Tuan. Tapi sepertinya ada seorang yang mengacau sandinya sehingga sulit di reset ulang. "


" Jangan bodoh ! Cepatlah ! Nyawa Dominic dalam bahaya. " ujar laki - laki itu dengan geram menahan kekhawatirannya.


" Beri saya waktu enam puluh menit lagi, Tuan ! "

__ADS_1


" Hahhh ??? Kau mau mati ?? Brengsek. Kerjakan ! Sepuluh menit. Tidak lebih. "


Detik demi detik berlalu, para pengerja yang sedang meretas sistem pintu bekerja di bawah tekanan. Beberapa orang berjas lengkap sedang menodongkan senjata ke arah para pengerja dan perawat.


__ADS_2