
Perawat itu segera bergegas keluar ruangan.
" Selamat siang, Nona. " ucap perawat itu terkejut begitu membuka pintu dan mendapati Dominic akan melangkah memasuki ruangan.
" Oh, Kau baru memgambilnya. " tanya Dominic dengan mata mengarah ke nampan yang di bawa perawat itu.
" Iya, Nona. Sekalian mengecek botol infus. "
" Hhm, pergilah ! " Dominic mengibaskan tangan kirinya meminta perawat itu segera pergi.
Perawat itu segera berlalu setelah menunduk hormat ke arah Dominic. Sebuah senyum tersungging samar.
Dominic melangkah memasuki ruangan yang serba putih. Bau khas disinfektan menyergap hidungnya. Ditutupnya pintu dengan perlahan dan dikuncinya pintu rapat - rapat. Tangannya menyentuh sesuatu di balik sebuah lukisan.
Dominic melangkah mendekati sisi ranjang. Tangannya dengan lembut membelai sisi wajah Alexander.
Sebuah senyum tersungging penuh rasa cinta, " Aku menginginkan saat - saat seperti ini, Al. Terlalu lama menunggumu, apakah kau masih ingat aku ? "
" Al, masih ingat tidak ? " Tangannya membelai bahu Alexander Moralez.
" Dulu sewaktu kita kecil, kita tumbuh bersama, kita bermain bersama, Kau selalu ada untukku. "
Dominic sedikit menunduk dan menghirup dalam - dalam harum tubuh Alexander Moralez.
" Kita bermain bersama, Kau tahu aku sangat bahagia waktu itu. Apalagi Kau berjanji akan selalu bersamaku dan menjagaku. Kau milikku, Alexander. Milikku. Tidak boleh seorangpun memilikimu. " Dominic menekan suaranya dan meremas bahu Alexander.
Alexander Moralez sedikit bergidik tanpa sadar. Sentuhan tangan Dominic membuatnya mual seketika. Tubuhnya merespon dengan cepat. Hawa panas dengan kemarahan yang siap meluap sudah memenuhi rongga dadanya.
__ADS_1
" Kau tahu Al, ketika Ryan Juville memberikan kabar jika Kau sedang mengurung seorang gadis dan menginginkan gadis itu, aku kecewa Al. Aku sangat takut Kau akan pergi dariku. Maafkan aku harus memberikan serum itu, karena aku harus membuatmu tetap disisiku. Kau milikku, Al. Hanya milikku. " Dominic berucap dengan sangat lembut. " Maafkan juga, Ryan ! Aku yang memintanya datang membawamu, karena aku berjanji akan mengembalikan ingatanmu... Yah aku akan mengembalikan ingatanmu supaya hanya mengingatku seorang. Akulah kekasihmu, Al. "
Dominic membelai wajah Alexander dengan gairah yang mulai membuatnya hampir gila. Tangan itu terus menyentuh dari pipi, rahang, bibir yang tegas, dagu turun ke arah leher. Dominic dengan tangan yang sedikit gemetar karena sudah dipenuhi gairah membelai dada Alexander. Bibirnya dia gigit untuk menikmati sensasi dari sentuhan tangannya sendiri.
Tanpa sadar Dominic membuka jasnya dan membuka kancing teratas kemejanya. Dengan gerakan erotis, Dominic meremas ujung miliknya yang mulai menonjol.
" Ughh, " Dominic mendesah dengan sentuhannya.
Alexander Moralez menahan rasa jijik dan marah secara bersamaan. Reaksi jijik pada tubuhnya yang sejak tadi coba ditahannya sudah di ambang batas kemampuannya menahan. Terlihat urat - urat di tangannya nampak menonjol menahan amarah. Dibukanya matanya dan dilihatnya seorang wanita cantik dengan rambut coklatnya sedang sibuk dengan dunianya. Tangannya meremas gunung kembarnya dengan gerakan erotis. Sesekali lenguhan terdengar menunjukkan wanita itu benar - benar sedang bergairah.
Dengan gerakan cepat, Alexander Moralez menarik lengan wanita itu dan langsung menusukkan jarum suntik dengan cairan biru yang ditukarnya tadi.
Dominic tampak tersentak kaget tak bisa mengelak karena sedang diliputi gairahnya sendiri. Matanya sedikit melotot terkejut ketika pria yang dikira masih tak sadar itu bergerak membenamkan jarum suntik ke lengannya.
" Akh, " desis Dominic ketika tanpa sadar Alexander Moralez menarik lengannya sedikit keras.
Tak sampai lima menit, tubuh Dominic terkulai tak berdaya. Wajahnya cantik mulai memucat. Bibirnya sedikit gemetar menahan sesuatu.
Alexander Moralez segera bangkit dari ranjang dan menarik sebuah kemeja dari lemari kecil di samping ranjang.
Dipandangnya tubuh wanita cantik yang mulai menunjukkan reaksi obat.
" Mengerikan, " gumam Alexander ketika dilihatnya tubuh Dominic mulai bereaksi. " Senjata makan tuan, Kau pantas mendapatkannya Dom. "
Tubuh gadis itu bergetar, wajahnya mulai memucat. Giginya terdengar saling beradu.
Alexander Moralez hanya membiarkan tubuh itu tergeletak di lantai. Dirinya bergegas mengenakan kemeja dan mengancingkannya. Tubuhnya sudah segar. Ternyata seorang perawat memberikan suntikan yang berbeda yang membuat tubuhnya lebih nyaman.
__ADS_1
Sebuah tarikan nafas lega karena ternyata setelah turun dari ranjang, Alexander merasakan tubuhnya segar, semua bagian tubuhnya tak menampakan reaksi apapun yang mencurigakan.
" Aku akan mengingat kebaikanmu, sobat, " desis Alexander mengingat beberapa kebaikan yang sudah diberikan perawat itu.
" Ok. Saatnya keluar dari tempat ini. " gumam Alexander Moralez.
***
Di tempat lain di sebuah ruangan bawah tanah.
" Sekretaris Han, " panggil Merzy Arzulla ketika berhasil menyelinap masuk ke setelah Huang Lee mengantarkan ke ruang pemantauan.
Han Liu masih berdiri bersedekap mengamati tubuh temannya yang masih tertelungkup di atas meja.
" Hhm, coba kemarilah Erz ! " panggil Han Liu meminta Merzy Arzulla untuk mendekat.
Wanita cantik itu mendekat ke arah Han Liu. Matanya nampak mulai menyelidik sosok tubuh yang tertelungkup di atas meja.
" Periksa dan cek jenis racun apa yang digunakan untuk membunuhnya. " Han Liu berucap pelan. Rasa sesak dalam dadanya karena mengetahui ada banyak penyusup yang sudah masuk dalam manshion.
" Baik. " ucap Merzy Arzulla sambil mengambil sarung tangan dari tangan Han Liu.
Han Liu meraih ponselnya. " Perketat penjagaan di ruangan Nona Muda ! "
Merzy Arzulla hanya mengerutkan keningnya ketika mendengar perintah Sekretaris Han Liu.
" Bagaimana ? " Han Liu kembali menoleh kepada Merzy Arzulla.
__ADS_1
Merzy Arzulla kembali menunduk dan mengamati sosok tubuh yang sudah tak bernyawa itu, " Tunggu ! "