
" Tu ... ann, akh, " Kinara terus menggeliat dan mendorong tubuh Ryan Juville.
Nampak Ryan Juville sedikit terkejut dengan tingkahnya sendiri dan mulai mengendurkan kungkungannya.
Sedetik kemudian Kinara mendorong kuat laki - laki uang mendorongnya dan menampar keras pipi Ryan Juville.
Plak.
" Tuan dokter, Anda seharusnya tidak melakukan itu, " ujar Kinara dengan bergidik takut. Wajah gadis itu nampak pucat, keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Kinara beringsut duduk dan memeluk tubuhnya sendiri. Air matanya mulai membasahi pipinya.
" Akh, maafkan aku Kin ! " Ryan Juville mengeratkan giginya untuk meminta maaf. Sejujurnya hasrat lelakinya belum surut. Otaknya dengan cepat mencoba meredamkan hasrat yang sebentar terasa membakar tubuhnya. Tetapi tamparan gadis itu mengingatkannya tentang permintaan yang lebih bernada perintah Alexander Moralez Arzallane untuk menjaga gadis itu demi dirinya.
" Akh, " Ryan Juville menyugar rambutnya dengan kasar.
" Sudah, ayo kita pergi ! " ajak Ryan Juville sambil mengangsurkan tangannya untuk membantu Kinara bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Kinara hanya menghela nafas kasar dan menepis uluran tangan dokter itu.
" Aku bisa sendiri, " tangkis Kinara sambil beranjak berdiri.
Krucuk ... krucuk.
Kinara sedikit membungkuk, merasakan perutnya yang mulai tak nyaman. Tangan kanannya meraba perutnya yang berteriak minta di isi. Senyumnya nampak jengah ketika tatapan Ryan Juville melirik ke arah perutnya.
" Ayo kita cari makanan ! "
" Eh, cari di mana Tuan ? Apkah di sekitar sini ada sekedar kedai atau restaurant ? " cicit Kinara masih sambil menekan perutnya yang terasa perih.
Kinara merasakan ulu hatinya sudah tidak nyaman. Rasa perih sudah sangat melilit.
" Sudahlah ! Duduklah disini ! Aku cari makanan dulu. Ingat jangan kemana - mana ! " peringat Ryan Juville.
Kinara mengangguk lemah. Kerongkongannya sudah sangat kering, belum lagi rasa perih yang melilit dan mulai menusuk - nusuk. Kinara merosot terduduk dengan lemas di atas akar pohon yang menonjol di atas tanah.
__ADS_1
Suasana hutan di siang hari pun masih terkesan sangat mencekam. Sinar matahari hanya sesekali mengintip di antara rimbunan dedaunan. Hutan itu sangat gelap dan lembab.
Kinara bergidik takut di tinggal sendirian. Hatinya tiba - tiba kalut ketika gadis itu berpikir jika Dokter Ryan Juville sengaja meninggalkan dirinya sendiri di tengah hutan dengan alasan mencari makan.
*Dokter Ryan pasti sengaja meninggalkan aku di hutan ini. Apalagi aku sudah kasar mendorongnya. B*ukankah aku tadi sudah menamparnya ? Akh, Dokter itu pasti sedang meninggalkan aku sendirian di sini. Akh, ayah, Kinara takut. Kinara merasa tidak nyaman dengan prasangkanya. Wajahnya mulai ketakutan.
" Akh, " Kinara berjengit ketakutan. Bulu kuduknya berdiri.
" Dokter ! Dokter Ryan ! Tuan ! " Teriak Kinara memanggil Ryan Juville di tengah ketakutan dan rasa perih yang melilit perutnya.
" Akh, tenggorokanku terasa kering sekali, " Kinara mengeluh sekali lagi sambil bangkit berdiri dari duduknya. Kakinya melangkah perlahan meninggalkan tempatnya duduk.
Kinara melangkah tak tentu arah. Sesekali matanya memandang ke belakang tubuhnya, seakan ada seseorang yang sedang memperhatikannya dari balik pohon.
Kinara bergidik ngeri. Nampak wajahnya semakin takut. Di belakangnya nampak hutan yang gelap dengan suara khas binatang hutan. Cahaya matahari sangat minim, sehingga Kinara yang ketakutan pun melangkah tak tentu arah. Hanya sembarang melangkah menjauhi tempat duduknya semula.
Sesaat setelah Kinara berjalan semakin masuk ke tengah hutan, Ryan Juville dengan kepayahan membawa buah - buah hasil petikannya. Wajah laki - laki itu tampak terkejut dan hampir marah ketika tidak mendapati gadis Tuan Besarnya tidak berada di tempat.
__ADS_1
" Akh, sshiitt, gadis bodoh. Menyusahkan saja. Sudah di bilang jangan pergi, malah pergi. Tidak tahu apa kalau hutan ini sangat menyeramkan, aaarrrggghh, " Ryan Juville nampak jengkel dan berjalan mulai mencari Kinara. Sesekali mulutnya berteriak memanggil nama gadis itu.
" Kin ! Kinara ! "